Leading the Way in

Environmental Insights

and Inspiration

Leading the Way in
Environmental Insights and Inspiration

Emissions Gap Report 2025
Environesia Global Saraya

24 November 2025

Laporan tahunan Emissions Gap Report (EGR) 2025 yang dirilis Program Lingkungan PBB (UNEP) kembali menegaskan satu kenyataan penting: dunia masih belum berada di jalur yang benar untuk menahan kenaikan suhu global sesuai target Perjanjian Paris. Meski ada peningkatan komitmen iklim dari beberapa negara, jurang antara komitmen dan realitas emisi justru semakin terlihat.

UNEP menyebutkan bahwa dengan kebijakan yang berjalan saat ini, dunia menuju pemanasan +2,8°C pada akhir abad, sementara dengan komitmen iklim (NDC) terbaru sekalipun, suhu masih akan meningkat +2,3–2,5°C. Angka ini jauh dari target 1,5°C yang dianggap paling aman untuk mencegah dampak iklim ekstrem.

Artikel ini merangkum temuan utama EGR 2025, tantangan global dalam menurunkan emisi, dan arah aksi yang perlu dipercepat.

Apa Itu Emissions Gap Report?

Emissions Gap Report (EGR) adalah laporan tahunan UNEP yang menilai perbedaan (gap) antara emisi gas rumah kaca yang diproyeksikan dan emisi yang seharusnya terjadi agar dunia tetap berada dalam jalur target 1,5°C atau 2°C.

Tahun 2025, UNEP menekankan bahwa meski ada langkah positif seperti peningkatan energi terbarukan dan pembaruan NDC beberapa negara, penurunan emisi global belum cukup cepat. Emisi global terus meningkat, terutama dari sektor energi, industri berat, dan transportasi.

Temuan Utama Emissions Gap Report 2025

Beberapa temuan yang paling disorot dalam laporan 2025 yaitu:

  • Emisi global masih meningkat
    Emisi gas rumah kaca mencapai level tertinggi dalam sejarah pada 2024, dipicu konsumsi energi fosil yang masih mendominasi.

  • Kesenjangan emisi untuk target 1,5°C sangat besar
    Untuk tetap berada pada jalur 1,5°C, dunia harus memangkas emisi setidaknya 42% pada 2030 dibanding level saat ini.

  • Kebijakan saat ini menuju pemanasan 2,8°C
    Dengan kebijakan existing, dunia tidak akan mencapai target Paris, memicu risiko seperti gelombang panas ekstrem, kenaikan permukaan laut, dan penurunan produktivitas pangan.

  • NDC baru belum cukup kuat
    Bahkan dengan komitmen terbaru negara-negara (NDC updated), pemanasan masih di kisaran 2,3 - 2,5°C.

  • Pendanaan iklim masih jauh dari kebutuhan
    Kesenjangan pendanaan mencapai ratusan miliar dolar per tahun, terutama untuk negara berkembang yang membutuhkan dukungan adaptasi dan mitigasi.

Alasan Emisi Global Sulit Turun

Ada beberapa penyebab utama mengapa penurunan emisi global tidak secepat yang dibutuhkan:

  • Ketergantungan pada energi fosil tetap tinggi. Coal, minyak, dan gas masih memasok lebih dari 75% energi dunia.

  • Pertumbuhan ekonomi negara berkembang. Banyak negara meningkatkan konsumsi energi untuk memenuhi kebutuhan industri dan urbanisasi.

  • Transisi energi berjalan tidak merata. Negara maju lebih cepat mengadopsi energi bersih, namun negara berkembang masih tergantung pada pembangkit fosil karena biaya dan infrastruktur.

  • Emisi industri berat sulit ditekan. Sektor baja, semen, dan petrokimia menyumbang emisi besar yang sulit didekarbonisasi tanpa teknologi rendah karbon yang lebih luas.

  • Laju deforestasi masih tinggi. Kehilangan hutan di kawasan tropis (Amazon, Kongo, Asia Tenggara) memperkecil kemampuan bumi menyerap karbon.

Sektor yang Paling Besar Menyumbang Emisi

Berikut kontribusi sektor yang disebut dalam EGR 2025:

  • Energi & listrik: penyumbang terbesar (sekitar 34%).

  • Industri berat: baja, semen, kimia (sekitar 24%).

  • Transportasi: darat, laut, dan udara (sekitar 14%).

  • Pertanian dan peternakan: emisi metana dan N2O (sekitar 18%).

  • Kehutanan dan perubahan tata guna lahan: deforestasi dan kebakaran hutan (7–10%).

Sektor energi dan industri menjadi fokus utama mitigasi global karena besarnya kontribusi terhadap total emisi. 

Solusi Praktis yang Perlu Dipercepat

UNEP menekankan beberapa langkah mendesak yang harus dilakukan negara-negara di seluruh dunia:

  • Transisi cepat ke energi terbarukan. Investasi surya, angin, hidro, dan penyimpanan energi perlu ditingkatkan secara agresif.

  • Dekarbonisasi industri berat. Melalui hidrogen hijau, carbon capture, hingga peningkatan efisiensi energi.

  • Pengurangan metana. Sektor pertanian, peternakan, dan migas perlu menerapkan teknologi pengendalian metana yang lebih ketat.

  • Perlindungan hutan dan ekosistem. Menghentikan deforestasi dan memperluas wilayah konservasi bisa mengurangi emisi secara signifikan.

Penguatan pendanaan iklim. Negara maju diminta meningkatkan pembiayaan mitigasi dan adaptasi untuk negara berkembang.

Kenapa Pakaian Thrift Impor Dilarang? Analisis dari Sisi Lingkungan dan Kesehatan
Environesia Global Saraya

24 November 2025

Larangan pakaian thrift impor kembali ramai dibicarakan setelah Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa pakaian bekas impor tetap ilegal meskipun pedagang siap membayar pajak. Pemerintah menilai impor pakaian bekas dapat menimbulkan risiko lingkungan, kesehatan, dan ekonomi, sehingga tidak dapat dilegalkan. Berikut analisis singkat namun komprehensifnya.

Ancaman Lingkungan dari Pakaian Bekas Impor

Setiap tahun Indonesia menghasilkan jutaan ton limbah tekstil, dan tingginya peredaran pakaian bekas impor memperparah masalah tersebut. Sebagian besar pakaian thrift impor berbahan sintetis seperti poliester, nilon, dan akrilik yang melepaskan mikroplastik ke tanah dan air ketika rusak atau dibuang.

Selain itu, banjir pakaian bekas dari negara maju sering kali tidak benar-benar layak pakai. Banyak yang berakhir di TPA dan memicu fenomena waste dumping di mana negara berkembang menanggung beban limbah fashion global.

Risiko Kesehatan yang Perlu Diwaspadai

Beberapa temuan pengujian laboratorium dan laporan pemerintah menunjukkan bahwa pakaian bekas impor dapat membawa risiko:

  • Kontaminasi bakteri dan jamur seperti Staphylococcus aureus dan E. coli akibat penyimpanan tidak higienis.

  • Residu bahan kimia dari fumigasi kontainer selama pengiriman yang berpotensi mengiritasi kulit dan saluran pernapasan.

  • Tidak memenuhi standar SNI sehingga konsumen tidak memiliki jaminan keamanan produk.

Karena tidak melalui proses pengawasan resmi, kualitas dan kebersihan pakaian bekas impor tidak bisa dipastikan, terutama untuk anak-anak dan individu dengan kulit sensitif.

Dampak Ekonomi dan Industri Lokal

Larangan ini juga berkaitan dengan perlindungan industri nasional. Pemerintah menilai bahwa:

  • Pakaian bekas impor menghancurkan harga pasar dan membuat UMKM mode lokal sulit bersaing.

  • Industri tekstil Indonesia, yang menyerap jutaan tenaga kerja, semakin tertekan dengan masuknya produk murah non-formal.

  • Arus barang bekas impor sering kali digunakan sebagai cara “membuang” limbah tekstil negara maju ke negara berkembang.

Melarang impor pakaian bekas menjadi salah satu langkah menjaga daya saing industri lokal sekaligus mendorong konsumsi yang lebih sehat dan bertanggung jawab.

Pilihan Gaya Hidup Berkelanjutan yang Legal dan Aman

Meskipun impor pakaian bekas dilarang, masyarakat tetap dapat menerapkan gaya hidup ramah lingkungan tanpa harus mengandalkan barang second-hand yang belum tentu higienis. Beberapa opsi yang lebih aman dan tetap mendukung keberlanjutan adalah:

  • Memilih pakaian berkualitas yang tahan lama. Semakin jarang membeli, semakin kecil jejak karbon yang dihasilkan. Produk yang awet mengurangi limbah tekstil secara signifikan.

  • Mendukung brand lokal yang menerapkan prinsip sustainable fashion. Banyak merek Indonesia menggunakan bahan organik, serat alami, atau material daur ulang yang lebih aman untuk kulit dan lebih ramah lingkungan.

  • Melakukan perawatan pakaian agar usia pakainya panjang. Teknik seperti mencuci dengan benar, menjemur dengan tepat, serta menyimpan pakaian di tempat kering dapat memperpanjang masa pakai tanpa harus membeli baru.

  • Memperbaiki atau memodifikasi pakaian lama. Upcycling adalah cara kreatif untuk mengubah pakaian lama menjadi model baru tanpa menimbulkan limbah tambahan. Selain aman, proses ini membantu mengurangi konsumsi fast fashion.

  • Mengurangi impulsive buying. Berbelanja berdasarkan kebutuhan, bukan tren sesaat, adalah cara paling efektif mengurangi limbah sekaligus menjaga kesehatan kulit dari paparan bahan tekstil yang tidak jelas kualitasnya.

  • Mengutamakan tekstil yang aman bagi kesehatan. Pilih bahan seperti katun organik, linen, atau serat bambu yang lebih breathable, tidak mudah menimbulkan iritasi, dan memiliki dampak lingkungan lebih rendah.

Larangan pakaian thrift impor bukan sekadar urusan legalitas, tetapi berkaitan dengan pengendalian limbah tekstil, perlindungan kesehatan masyarakat, dan keamanan industri lokal. Dari perspektif keberlanjutan, kebijakan ini mendorong Indonesia menuju pola konsumsi yang lebih bertanggung jawab mengutamakan thrift lokal, produk berkelanjutan, dan pengurangan sampah fashion.

Apakah Cukup Mengatasi Krisis Iklim dengan Energi Terbarukan?
Environesia Global Saraya

23 November 2025

Transisi menuju energi terbarukan menjadi strategi utama banyak negara untuk menekan emisi global. Perubahan sistem energi harus diikuti transformasi besar di sektor lain seperti industri, transportasi, pertanian, dan pola konsumsi. Artikel ini menjelaskan fakta terbarukan, tantangan, dan solusi berdasarkan riset internasional.

Energi Terbarukan Memang Kunci Utama Pengurangan Emisi

Peran energi terbarukan dalam mitigasi iklim tidak terbantahkan. Menurut laporan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) sektor energi menyumbang sekitar 75% dari total emisi gas rumah kaca global. Artinya, mengganti bahan bakar fosil dengan energi terbarukan dapat menurunkan emisi secara signifikan. Selain itu, biaya teknologi energi bersih seperti surya dan angin kini turun hingga 85% selama dekade terakhir membuatnya lebih kompetitif dibanding batu bara.

Namun, Energi Terbarukan Saja Tidak Cukup! Ada Tantangan Besar yang Harus Diatasi

Beberapa faktor berikut menunjukkan bahwa energi terbarukan perlu solusi tambahan agar benar-benar mampu menghentikan krisis iklim.

  • Intermitensi energi surya dan angin
    Produksi energi tergantung cuaca, sehingga memerlukan pengembangan baterai dan grid cerdas.

  • Keterbatasan mineral kritis
    Panel surya, turbin angin, dan baterai membutuhkan logam seperti litium, nikel, dan kobalt. Permintaan global melonjak jauh lebih cepat dibanding kapasitas penambangan.

  • Transisi energi tidak merata secara global
    Negara berkembang masih menghadapi biaya investasi awal yang tinggi.

  • Emisi dari sektor non-listrik tetap besar
    Transportasi, industri semen, pupuk, dan peternakan masih menghasilkan emisi signifikan meskipun pembangkit listrik sudah hijau.

Apa yang Harus Dilakukan?

Solusi untuk mengatasi krisis iklim harus bersifat lintas sektor, bukan hanya mengganti sumber energi. Strategi yang diakui oleh ilmuwan iklim mencakup kombinasi berikut:

  • Elektrifikasi transportasi dan penggunaan bahan bakar alternatif seperti hidrogen hijau

  • Efisiensi energi pada bangunan dan industri

  • Reforestasi, restorasi mangrove, dan perlindungan karbon alami

  • Perubahan pola konsumsi, terutama pengurangan makanan beremisi tinggi dan limbah pangan

  • Penghapusan bertahap subsidi bahan bakar fosil

Laporan International Energy Agency (IEA) menyimpulkan bahwa dunia harus mengombinasikan energi terbarukan dengan efisiensi energi, inovasi industri rendah karbon, dan perubahan sistem pangan untuk mencapai target Net Zero 2050. Tidak ada satu solusi tunggal yang cukup.

Energi terbarukan merupakan pondasi paling penting dalam upaya menahan pemanasan global. Namun, mengandalkan energi terbarukan saja tidak cukup untuk mengatasi krisis iklim. Kita memerlukan transformasi besar pada semua sektor ekonomi, didukung oleh kebijakan kuat, inovasi teknologi, dan perubahan perilaku konsumsi.

Dengan kombinasi strategi yang tepat dan implementasi yang konsisten, target dunia untuk menahan kenaikan suhu di bawah 1.5°C masih dapat dicapai.

Greenwashing: Mengapa Banyak Produk ‘Hijau’ Sebenarnya Tidak Ramah Lingkungan?
Environesia Global Saraya

23 November 2025

Seiring meningkatnya kesadaran publik terhadap isu keberlanjutan, semakin banyak perusahaan yang menghadirkan produk dengan citra ramah lingkungan. Label seperti eco-friendly, natural, dan green choice kini mudah ditemukan. Namun, tidak semua klaim tersebut mencerminkan dampak lingkungan yang sebenarnya. Memahami konsep greenwashing menjadi penting agar konsumen dapat membuat keputusan yang lebih tepat dan mendukung upaya keberlanjutan yang nyata.

Apa Itu Greenwashing?

Greenwashing adalah praktik komunikasi di mana sebuah produk atau perusahaan menonjolkan aspek lingkungan secara tidak lengkap, tidak proporsional, atau tanpa penjelasan yang memadai. Istilah ini muncul sejak 1980-an dan semakin relevan di era modern ketika konsumen semakin peduli terhadap isu lingkungan.

Fenomena ini tidak selalu terjadi karena niat menyesatkan. Dalam banyak kasus, greenwashing muncul karena kompleksitas rantai pasok, tantangan dalam mengukur dampak lingkungan secara akurat, atau usaha perusahaan untuk memenuhi harapan pasar terhadap produk yang dianggap lebih berkelanjutan. Namun, tanpa data dan penjelasan yang memadai, klaim seperti ini dapat menimbulkan kesan yang tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya

1. Sebagian Besar Emisi Berasal dari Rantai Pasok

Data dari UN Global Compact dan CDP (Carbon Disclosure Project) menunjukkan bahwa lebih dari 70% emisi perusahaan biasanya berasal dari rantai pasok atau Scope 3. Dalam industri barang konsumsi, McKinsey juga menemukan bahwa sekitar 80% emisi gas rumah kaca muncul dari proses produksi bahan baku, pabrik, dan distribusi.

Artinya, meskipun sebuah produk memiliki kemasan ramah lingkungan atau klaim “hijau”, dampak terbesar justru terjadi pada proses di balik layar yang tidak terlihat oleh konsumen.

2. Informasi Pemasaran yang Tidak Menjelaskan Secara Menyeluruh

Beberapa merek menampilkan klaim keberlanjutan secara selektif. Contohnya:

  • Menyoroti satu aspek positif saja, seperti penggunaan sedikit bahan daur ulang

  • Menggunakan istilah umum seperti eco, green, atau natural tanpa sertifikasi resmi

  • Menggunakan gambar daun, warna hijau, atau elemen alam untuk membangun kesan ramah lingkungan

  • Menyebut klaim lingkungan tanpa data, audit, atau laporan pendukung

Cara komunikasi seperti ini tidak selalu salah, tetapi bisa membuat konsumen salah paham jika informasi penuh tidak disampaikan secara transparan.

3. Rantai Pasok Global yang Sangat Kompleks

Menurut rangkuman dari Earth.org, rantai pasok dapat menyumbang 60–90% dari total emisi perusahaan.

Faktor yang membuatnya tinggi antara lain:

  • Produksi bahan baku dalam jumlah besar

  • Proses pabrik yang membutuhkan banyak energi

  • Pengiriman barang lintas negara

  • Pemakaian air dan bahan kimia

Karena prosesnya melibatkan banyak pihak dan lokasi, sebagian besar jejak karbon tidak terlihat pada label produk. Inilah sebabnya produk yang tampak “hijau” belum tentu benar-benar memiliki dampak lingkungan rendah.

Cara Konsumen Menilai Klaim Keberlanjutan

1. Cari Sertifikasi Resmi

Label seperti Ecolabel, FSC, RSPO, EU Ecolabel, atau Energy Star menunjukkan bahwa produk telah melalui proses verifikasi.

2. Cek Transparansi Perusahaan

Perusahaan yang serius pada keberlanjutan biasanya mempublikasikan laporan lingkungan, termasuk jejak karbon dan target pengurangannya.

3. Tinjau Klaim yang Terlalu Umum

Istilah seperti ramah lingkungan seharusnya memiliki penjelasan tambahan, misalnya data penggunaan energi atau sumber bahan baku.

4. Pilih Produk yang Tahan Lama

Produk yang dapat digunakan berkali-kali biasanya memiliki dampak lingkungan lebih rendah dibandingkan produk sekali pakai walaupun keduanya sama-sama membawa label “hijau”.

Produk yang terlihat ramah lingkungan tidak selalu memiliki dampak lingkungan yang kecil. Banyak faktor penting justru berada pada tahap produksi dan rantai pasok, yang sering kali tidak ditampilkan di kemasan. Dengan memahami cara kerja rantai pasok dan memeriksa transparansi klaim, konsumen dapat membuat keputusan yang lebih tepat sekaligus mendorong praktik keberlanjutan yang lebih bertanggung jawab.

Jejak Karbon AI: Seberapa Besar Emisi yang Dihasilkan Teknologi Kecerdasan Buatan?
Environesia Global Saraya

21 November 2025

Teknologi kecerdasan buatan (AI) berkembang dengan sangat cepat dan kini menjadi bagian penting dalam aktivitas digital sehari-hari, mulai dari mesin pencari, platform media sosial, hingga model generatif yang mampu membuat teks, gambar, maupun video. Namun di balik kemajuan ini, ada isu lingkungan yang semakin disorot yaitu jejak karbon AI.

Semakin besar dan kompleks model AI, semakin tinggi pula kebutuhan energi untuk melatih dan mengoperasikannya. Akibatnya, konsumsi listrik pusat data (data center) meningkat dan berkontribusi terhadap emisi karbon global. Artikel ini membahas skala emisi AI, penyebabnya, serta langkah yang sedang dilakukan untuk membuat AI lebih ramah lingkungan.

Mengapa Jejak Karbon AI Meningkat dengan Cepat

Model AI modern membutuhkan kapasitas komputasi yang sangat besar. Proses pelatihan model skala besar seperti large language models (LLM) dapat berlangsung berminggu-minggu di pusat data yang menggunakan ribuan GPU. Hal ini mengonsumsi listrik dalam jumlah tinggi, terutama jika pusat data masih bertumpu pada energi fosil.

Sebuah studi penting dari University of Massachusetts Amherst (Strubell et al., 2019) menunjukkan bahwa pelatihan model NLP yang kompleks dapat menghasilkan ratusan ribu pon CO₂ yang bergantung pada konfigurasi dan jumlah eksperimen. 

Sementara itu, International Energy Agency (IEA) memperkirakan bahwa konsumsi listrik pusat data global dapat meningkat drastis pada dekade ini, terutama akibat pertumbuhan permintaan AI. Dalam laporannya, IEA menyatakan bahwa peningkatan kapasitas AI dapat menjadi salah satu pendorong utama lonjakan konsumsi energi dunia jika tidak diimbangi efisiensi dan sumber energi bersih.

Faktor Utama yang Menyebabkan Tingginya Jejak Karbon AI

1. Pelatihan model berskala besar

LLM modern memiliki puluhan hingga ratusan miliar parameter. Proses pelatihan model sebesar ini dapat mengonsumsi energi dalam jumlah sangat besar dan berlangsung lama.

2. Jumlah data yang masif

AI membutuhkan dataset dengan skala sangat besar yang diproses berulang kali. Semakin besar dataset, semakin besar kebutuhan komputasi dan energi.

3. Pusat data yang belum sepenuhnya menggunakan energi terbarukan

Walaupun perusahaan teknologi mulai beralih ke sumber energi hijau, sebagian besar pusat data global masih bergantung pada listrik dari bahan bakar fosil.

4. Inference dalam skala global

Tidak hanya pelatihan, proses menjalankan AI (inference) untuk jutaan pengguna setiap hari juga menghasilkan konsumsi energi yang signifikan.

5. Kebutuhan pendinginan server

GPU dan server bertenaga tinggi menghasilkan panas yang memerlukan sistem pendinginan intensif yang memakan energi tambahan.

Seberapa Besar Emisi yang Dihasilkan AI?

Estimasi jejak karbon AI sangat bervariasi karena dipengaruhi lokasi pusat data, jenis chip, metode pelatihan, dan sumber listrik. Namun beberapa temuan kredibel memberi gambaran umum:

Fakta-fakta Mengenai Emisi yang Dihasilkan AI:

  • IEA menyatakan bahwa permintaan energi dari AI berpotensi memberi tekanan besar pada konsumsi listrik pusat data global, seiring peningkatan penggunaan model generatif.

  • Analisis beberapa lembaga menunjukkan bahwa satu permintaan AI generatif dapat menggunakan energi hingga berkali-kali lipat dibanding pencarian internet biasa. Rasio pastinya berbeda per model, tetapi studi IEA menyebutkan bahwa konsumsi energi per query AI memang secara signifikan lebih tinggi.

  • Studi pada pelatihan model ratusan miliar parameter menunjukkan bahwa emisi total dapat berkisar dari puluhan hingga lebih dari 100 ton CO₂ yang bergantung pada lokasi pelatihan dan campuran energi
  • Artikel ilmiah terbaru dari Nature (2025) menegaskan bahwa konsumsi energi AI dapat meningkat berlipat ganda dalam beberapa tahun mendatang jika tidak ada intervensi efisiensi.

Data ini menunjukkan bahwa pertumbuhan AI membawa konsekuensi energi yang cukup besar, terutama untuk model generatif dan model berskala sangat besar.

Upaya Mengurangi Jejak Karbon AI

1. Inisiatif Industri

  • Migrasi pusat data ke energi terbarukan seperti angin dan surya.

  • Pengembangan model yang lebih efisien melalui model compression, quantization, dan optimisasi arsitektur.

  • Penggunaan chip yang lebih hemat energi seperti GPU generasi baru atau prosesor khusus AI.

2. Inovasi Teknologi

  • Pendekatan Green AI, yang menekankan efisiensi energi sebagai bagian dari desain model.

  • Penempatan pusat data di wilayah bersuhu rendah untuk mengurangi kebutuhan pendinginan.

  • Algoritma pelatihan baru yang mengurangi jumlah komputasi tanpa mengorbankan performa.

3. Peran Pemerintah dan Pengguna

  • Kebijakan energi bersih untuk pusat data dan insentif efisiensi energi.

  • Transparansi perusahaan mengenai jejak karbon model yang mereka rilis.

  • Penggunaan AI secara bertanggung jawab oleh pengguna dan industri.

Jejak karbon AI adalah isu penting yang muncul seiring pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan. Proses pelatihan dan penggunaan model besar membutuhkan energi sangat besar, sehingga berpotensi meningkatkan emisi global jika tidak dikelola dengan baik.

Namun, industri dan peneliti di seluruh dunia mulai mengambil langkah strategis dari penggunaan energi terbarukan hingga desain model yang lebih efisien. Dengan inovasi yang tepat masa depan AI yang lebih hijau dan berkelanjutan sangat mungkin diwujudkan.

Apakah Mobil Listrik Benar-Benar Ramah Lingkungan? Ini Faktanya
Environesia Global Saraya

21 November 2025

Mobil listrik kini menjadi simbol masa depan transportasi. Banyak yang menganggapnya sebagai solusi hijau untuk mengurangi polusi udara dan emisi karbon. Namun, apakah mobil listrik benar-benar ramah lingkungan? Untuk menjawabnya, kita perlu melihat seluruh tahapan penting mulai dari produksi, penggunaan, hingga daur ulang.

Produksi Baterai Masih Menyumbang Emisi Besar

Salah satu tantangan utama mobil listrik adalah proses pembuatan baterai yang membutuhkan energi tinggi. Penambangan litium, nikel, dan kobalt memerlukan proses industri besar dan menghasilkan emisi yang cukup signifikan. Fakta singkat tentang produksi baterai:

  • Emisi awal mobil listrik lebih tinggi dibanding mobil BBM.

  • Mayoritas emisi berasal dari produksi baterai, bukan dari komponen mobil lainnya.

  • Energi yang digunakan untuk produksi masih banyak yang berasal dari sumber fosil.

Meski begitu, emisi tinggi pada awal produksi biasanya dapat tertutupi seiring penggunaan karena mobil listrik tidak menghasilkan emisi knalpot.

Emisi Penggunaan Lebih Rendah Dibanding Mobil BBM

Setelah digunakan, mobil listrik cenderung jauh lebih efisien. Motor listrik tidak membutuhkan pembakaran bahan bakar sehingga tidak menghasilkan emisi langsung. Keunggulan saat digunakan:

  • Nol emisi knalpot.

  • Motor listrik lebih efisien dalam mengubah energi menjadi gerak.

  • Lebih hemat energi dibandingkan mesin bensin atau diesel.

Hal ini membuat mobil listrik tetap unggul dalam penggunaan jangka panjang, terutama di kota-kota yang memiliki masalah polusi udara.

Sumber Listrik Menentukan Tingkat Ramah Lingkungan

Mobil listrik memang tidak mengeluarkan asap, tetapi proses pengisian dayanya tetap menghasilkan emisi jika listrik berasal dari pembangkit fosil. Pengaruh sumber listrik:

  • Listrik dari energi terbarukan membuat emisi mobil listrik sangat rendah.

  • Jika listrik berasal dari batu bara, emisi tetap ada tapi masih lebih rendah dibandingkan mobil BBM.

  • Semakin efisien pembangkit listrik, semakin kecil jejak karbon mobil listrik.

Walaupun begitu, total emisi penggunaan mobil listrik umumnya tetap berada di bawah mobil berbahan bakar minyak.

Baterai Bisa Didaur Ulang dan Tidak Selalu Menjadi Limbah

Teknologi daur ulang baterai terus berkembang, sehingga bahan seperti litium dan nikel bisa dipulihkan. Baterai bekas juga dapat digunakan untuk penyimpanan energi di sektor lain. Perkembangan positif: 

  • Teknologi daur ulang semakin efisien.

  • Baterai bekas bisa dipakai lagi di sistem penyimpanan energi.

  • Regulasi pengelolaan baterai semakin diperketat di banyak negara.

Mobil listrik memang bukan tanpa masalah, terutama di tahap produksi baterai. Namun, secara keseluruhan, mobil listrik tetap lebih ramah lingkungan dalam jangka panjang karena emisi penggunaan yang jauh lebih rendah. Total emisi mobil listrik lebih rendah dibanding mobil BBM. Namun dua hal yang perlu dipertimbangkan yaitu emisi produksi baterai yang tinggi dan efek lingkungan sangat dipengaruhi oleh sumber listrik untuk pengisian daya.
Mobil listrik bisa menjadi pilihan transportasi yang lebih bersih, terutama jika produksi energi semakin mengarah ke sumber terbarukan.

footer_epic

Ready to Collaborate with Us?

Dengan layanan konsultasi lingkungan dan uji laboratorium yang telah tersertifikasi KAN, Environesia siap menjadi solusi untuk kemudahan dan efisiensi waktu dengan output yang berkualitas