Leading the Way in
Environmental Insights
and Inspiration
Leading the Way in
Environmental Insights
and Inspiration
Environesia Global Saraya
22 October 2025
Dalam era di mana standar lingkungan semakin ketat dan proyek industri menyebar hingga ke wilayah terpencil di Indonesia, pemantauan lingkungan menjadi aspek krusial. Environesia Global Saraya sebagai konsultan lingkungan dan laboratorium terakreditasi telah membuktikan kapasitasnya dengan portofolio monitoring yang mencakup skala nasional. Artikel ini menyoroti jejak proyek Environesia, cakupan geografi, dan sektor industri yang dilayani sekaligus menunjukkan mengapa perusahaan ini layak dipertimbangkan sebagai mitra monitoring lingkungan.
Environesia telah aktif melakukan pemantauan lingkungan di berbagai daerah di Indonesia. Sebagai contoh:
Proyek pemantauan lingkungan untuk PT PLN (Persero) UIP Kalbar (Unit Induk Pembangunan Kalimantan Barat) adalah salah satu proyek yang disebut secara spesifik dalam publikasi Environesia.
Perusahaan menyebutkan bahwa telah melaksanakan “200+ pekerjaan di 33 dari 34 provinsi” (meskipun angka ini tidak tercantum secara rinci dalam halaman blognya) ini menunjukkan mobilitas dan jangkauan nasional yang luas. (dinyatakan secara paraphrased dalam publikasi)
Dengan jangkauan ini, Environesia mampu menangani proyek di wilayah perkotaan, industri besar, hingga wilayah terpencil dan terluar Nusantara sebuah keunggulan dari segi operasional.
Portofolio Environesia mencakup beragam sektor industri dan jenis monitoring lingkungan, antara lain:
Energi dan utilitas: monitoring kualitas udara, air, dan tanah di sekitar pembangkit listrik dan unit PLN.
Industri manufaktur dan ekspansi investor asing: memastikan bahwa fasilitas produksi memenuhi standar lingkungan nasional dan internasional.
Wilayah terpencil dan pulau terluar: mobilisasi tim ke lokasi yang sulit dijangkau untuk pemantauan lingkungan.
Proyek ramah lingkungan dan keberlanjutan: misalnya monitoring untuk proyek energi terbarukan, yang juga menekankan aspek sosial dan partisipasi masyarakat.
Jenis monitoring yang dilakukan meliputi pengambilan sampel air, udara, tanah; penggunaan sensor in-situ; analisis laboratorium; hingga pelaporan yang dapat dipakai sebagai dasar pengambilan keputusan atau pelaporan regulasi.
Beberapa aspek yang menjadikan portofolio monitoring Environesia patut diperhatikan:
Legalitas dan akreditasi: Environesia terdaftar secara resmi sebagai LPJP AMDAL.
Kemampuan mobilisasi nasional: mampu menjangkau banyak provinsi dan kondisi lapangan yang beragam.
Pendekatan multi-sektor: dapat menangani monitoring untuk berbagai sektor industri dan tuntutan regulasi yang berbeda.
Komitmen terhadap keberlanjutan: melalui implementasi prinsip seperti FPIC (Free, Prior, Informed Consent) untuk proyek yang melibatkan masyarakat.
Bagi perusahaan atau proyek yang menggunakan layanan monitoring Environesia, beberapa manfaat nyata termasuk:
Memenuhi kewajiban regulasi lingkungan dengan data yang valid dan terverifikasi.
Memperoleh laporan monitoring yang dapat digunakan untuk evaluasi internal dan eksternal.
Mendapat dukungan teknis yang tepat untuk pengelolaan lingkungan jangka panjang.
Meningkatkan reputasi sebagai pelaku industri yang peduli lingkungan dan punya dokumentasi lingkungan yang kredibel.
Portofolio monitoring lingkungan Environesia yang telah tersebar secara nasional menjadi bukti bahwa perusahaan ini bukan hanya “lokal” atau “terbatas”, melainkan mitra yang mampu menangani skala besar lintas wilayah di Indonesia. Dengan legalitas yang lengkap, pengalaman lapangan yang luas, dan komitmen terhadap keberlanjutan, Environesia menawarkan solusi monitoring lingkungan yang handal bagi proyek industri besar, utilitas, hingga wilayah terpencil.
Jika Anda mencari konsultan dan penyedia layanan monitoring lingkungan dengan cakupan nasional, Environesia adalah salah satu pilihan strategis yang layak dipertimbangkan.
22 October 2025
Dalam era di mana standar lingkungan semakin ketat dan proyek industri menyebar hingga ke wilayah terpencil di Indonesia, pemantauan lingkungan menjadi aspek krusial. Environesia Global Saraya sebagai konsultan lingkungan dan laboratorium terakreditasi telah membuktikan kapasitasnya dengan portofolio monitoring yang mencakup skala nasional. Artikel ini menyoroti jejak proyek Environesia, cakupan geografi, dan sektor industri yang dilayani sekaligus menunjukkan mengapa perusahaan ini layak dipertimbangkan sebagai mitra monitoring lingkungan.
Environesia telah aktif melakukan pemantauan lingkungan di berbagai daerah di Indonesia. Sebagai contoh:
Proyek pemantauan lingkungan untuk PT PLN (Persero) UIP Kalbar (Unit Induk Pembangunan Kalimantan Barat) adalah salah satu proyek yang disebut secara spesifik dalam publikasi Environesia.
Perusahaan menyebutkan bahwa telah melaksanakan “200+ pekerjaan di 33 dari 34 provinsi” (meskipun angka ini tidak tercantum secara rinci dalam halaman blognya) ini menunjukkan mobilitas dan jangkauan nasional yang luas. (dinyatakan secara paraphrased dalam publikasi)
Dengan jangkauan ini, Environesia mampu menangani proyek di wilayah perkotaan, industri besar, hingga wilayah terpencil dan terluar Nusantara sebuah keunggulan dari segi operasional.
Portofolio Environesia mencakup beragam sektor industri dan jenis monitoring lingkungan, antara lain:
Energi dan utilitas: monitoring kualitas udara, air, dan tanah di sekitar pembangkit listrik dan unit PLN.
Industri manufaktur dan ekspansi investor asing: memastikan bahwa fasilitas produksi memenuhi standar lingkungan nasional dan internasional.
Wilayah terpencil dan pulau terluar: mobilisasi tim ke lokasi yang sulit dijangkau untuk pemantauan lingkungan.
Proyek ramah lingkungan dan keberlanjutan: misalnya monitoring untuk proyek energi terbarukan, yang juga menekankan aspek sosial dan partisipasi masyarakat.
Jenis monitoring yang dilakukan meliputi pengambilan sampel air, udara, tanah; penggunaan sensor in-situ; analisis laboratorium; hingga pelaporan yang dapat dipakai sebagai dasar pengambilan keputusan atau pelaporan regulasi.
Beberapa aspek yang menjadikan portofolio monitoring Environesia patut diperhatikan:
Legalitas dan akreditasi: Environesia terdaftar secara resmi sebagai LPJP AMDAL.
Kemampuan mobilisasi nasional: mampu menjangkau banyak provinsi dan kondisi lapangan yang beragam.
Pendekatan multi-sektor: dapat menangani monitoring untuk berbagai sektor industri dan tuntutan regulasi yang berbeda.
Komitmen terhadap keberlanjutan: melalui implementasi prinsip seperti FPIC (Free, Prior, Informed Consent) untuk proyek yang melibatkan masyarakat.
Bagi perusahaan atau proyek yang menggunakan layanan monitoring Environesia, beberapa manfaat nyata termasuk:
Memenuhi kewajiban regulasi lingkungan dengan data yang valid dan terverifikasi.
Memperoleh laporan monitoring yang dapat digunakan untuk evaluasi internal dan eksternal.
Mendapat dukungan teknis yang tepat untuk pengelolaan lingkungan jangka panjang.
Meningkatkan reputasi sebagai pelaku industri yang peduli lingkungan dan punya dokumentasi lingkungan yang kredibel.
Portofolio monitoring lingkungan Environesia yang telah tersebar secara nasional menjadi bukti bahwa perusahaan ini bukan hanya “lokal” atau “terbatas”, melainkan mitra yang mampu menangani skala besar lintas wilayah di Indonesia. Dengan legalitas yang lengkap, pengalaman lapangan yang luas, dan komitmen terhadap keberlanjutan, Environesia menawarkan solusi monitoring lingkungan yang handal bagi proyek industri besar, utilitas, hingga wilayah terpencil.
Jika Anda mencari konsultan dan penyedia layanan monitoring lingkungan dengan cakupan nasional, Environesia adalah salah satu pilihan strategis yang layak dipertimbangkan.
18 May 2026
Pernahkah kamu membeli sepotong baju hanya karena harganya sedang diskon besar-besaran, lalu berujung menyimpannya di lemari setelah satu atau dua kali pakai? Jika jawabannya iya, kamu tidak sendirian. Di era modern ini, kita sangat mudah terjebak dalam pusaran konsumerisme fashion yang menuntut kita untuk terus berganti gaya. Fenomena inilah yang kita kenal dengan sebutan fast fashion.
Di atas kertas, tren ini terdengar menguntungkan. Kita bisa tampil stylish tanpa perlu merogoh kocek terlalu dalam. Namun, pernahkah kamu bertanya-tanya: jika harga baju ini sangat murah, siapa yang sebenarnya membayar "harga" aslinya? Jawabannya adalah bumi kita. Mari kita bedah lebih dalam mengenai dampak lingkungan dari pakaian yang kita kenakan sehari-hari.
Singkatnya, fast fashion adalah model bisnis yang mereplikasi tren mode terbaru, lalu memproduksinya secara massal dengan biaya serendah mungkin agar bisa segera dijual di toko. Siklus tren yang dulunya berganti per musim, kini bisa berganti setiap minggu.
Lalu, kenapa fast fashion berbahaya? Tuntutan untuk memproduksi pakaian secara kilat dan murah ini membuat banyak perusahaan abai terhadap kualitas bahan, kelayakan upah pekerja, dan tentu saja, kelestarian alam.
Ketika kita melihat label harga yang murah di kasir, kita sering lupa bahwa ada kerugian membeli baju fast fashion yang ditanggung oleh bumi. Berikut adalah realita mengerikan di baliknya:
Gunungan Limbah Tekstil yang Tak Berujung Karena kualitasnya cenderung rendah, baju murah sangat mudah rusak dan akhirnya dibuang. Hasilnya, jutaan ton pakaian berakhir menjadi limbah tekstil di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) setiap tahunnya. Banyak dari pakaian ini terbuat dari bahan sintetis yang tidak bisa terurai secara alami.
Polusi Industri Pakaian dan Krisis Air Tahukah kamu bahwa untuk membuat satu buah kaos katun dibutuhkan ribuan liter air? Selain rakus air, polusi industri pakaian juga merupakan salah satu penyumbang pencemaran air terbesar di dunia. Sisa pewarna kain yang mengandung zat kimia beracun seringkali dibuang langsung ke sungai, merusak ekosistem air bersih.
Ancaman Mikroplastik Pakaian di Lautan Bahan sintetis seperti polyester adalah primadona karena murah. Namun, setiap kali kita mencucinya, jutaan serat mikroplastik pakaian terlepas dan mengalir ke lautan. Mikroplastik ini kemudian tertelan oleh ikan dan bisa berakhir di piring makan kita.
Jejak Karbon Fashion yang Mengkhawatirkan Dari proses produksi, distribusi antarbenua, hingga berakhir di tempat pembuangan, siklus hidup pakaian menghasilkan emisi gas rumah kaca yang sangat masif. Fakta mengejutkannya, jejak karbon fashion global menyumbang sekitar 10% dari total emisi karbon dunia.
Kenyataan tentang dampak fast fashion ini mungkin terdengar menyeramkan, tetapi kita punya kekuatan untuk mengubahnya. Berikut adalah beberapa tips gaya hidup slow fashion yang bisa kamu mulai dari sekarang:
Pahami Perbedaan Fast Fashion dan Slow Fashion: Berhenti mengejar tren sesaat. Slow fashion berfokus pada kualitas, umur panjang pakaian, dan proses pembuatan yang etis. Belilah pakaian karena kamu benar-benar butuh dan pilih desain yang timeless (tak lekang oleh waktu).
Jelajahi Dunia Thrifting: Thrifting baju bekas adalah cara yang sangat menyenangkan (dan murah!) untuk tampil gaya tanpa harus menambah jejak karbon baru. Ini adalah salah satu cara mengurangi limbah pakaian yang paling efektif.
Pilih Kualitas di Atas Kuantitas: Lebih baik menabung untuk membeli produk fashion berkelanjutan (sustainable fashion) yang jahitannya kuat dan bahannya ramah lingkungan, daripada membeli lima baju murah yang cepat rusak.
Rawat Baju yang Kamu Punya: Perbaiki baju yang bolong atau kancingnya lepas alih-alih membuangnya. Merawat pakaian dengan baik memperpanjang usia simpannya di lemarimu.
Mengetahui bahaya baju murah adalah langkah pertama menuju perubahan. Baju tersebut memang menggoda dompet, tetapi kita tidak boleh menutup mata terhadap harga mahal yang harus dibayar oleh lingkungan kita.
Kini saatnya kita mengubah sudut pandang. Menjadi stylish tidak harus merusak bumi. Dengan menjadi konsumen yang lebih sadar, kita tidak hanya menyelamatkan isi lemari, tetapi juga turut andil menjaga kelestarian bumi. Gaya terbaik yang bisa kamu kenakan hari ini adalah kepedulianmu terhadap lingkungan. Yuk, mulai bijak dalam memilih pakaian!
13 May 2026
|
Fakta Kunci |
Data |
|
Porsi cadangan nikel dunia |
>40% terbesar di dunia (USGS 2025) |
|
Produksi nikel nasional 2024 |
>1,8 juta ton (terbesar secara global) |
|
Wilayah tambang utama |
Sulawesi Tenggara, Halmahera, Raja Ampat |
|
Deforestasi di area tambang nikel |
Hampir 2x lipat dibanding wilayah non-tambang |
|
Bencana ekologis tercatat (2025) |
Banjir Morowali Utara, longsor Dusun Towi, banjir Bahodopi |
|
Kasus aktif KLH 2025 |
Pengawasan 4 perusahaan tambang di Raja Ampat |
06 May 2026
Kamu mungkin sudah tahu bahwa naik pesawat atau mengendarai mobil menghasilkan emisi karbon. Tapi bagaimana dengan scroll TikTok selama satu jam sebelum tidur? Atau menonton YouTube sambil makan siang? Ternyata, aktivitas digital yang terasa ringan dan tak berwujud itu meninggalkan jejak nyata di atmosfer bumi.
Industri teknologi informasi dan komunikasi global saat ini menyumbang sekitar 4% dari total emisi karbon dunia angka yang diproyeksikan meningkat dua kali lipat pada 2030 jika tidak diimbangi dengan transisi ke energi bersih. Di Indonesia, situasinya bahkan lebih berat: 89% populasi menggunakan smartphone pada 2025, sementara jaringan listrik yang menopang konsumsi data digital masih bergantung besar pada batu bara.
Jadi, apakah scrolling media sosial benar-benar ikut merusak lingkungan? Jawabannya: ya meski kontribusinya perlu dilihat secara proporsional.
Jejak karbon digital adalah total emisi gas rumah kaca yang dihasilkan dari aktivitas online dan penggunaan infrastruktur digital mulai dari server pusat data, jaringan telekomunikasi, perangkat yang kita gunakan, hingga proses pendinginan server yang terus bekerja 24 jam sehari.
Setiap kali kamu membuka Instagram, mengirim email, atau memutar video di YouTube, permintaan datamu dikirim ke pusat data (data center) yang membutuhkan energi listrik besar untuk memproses dan mengirim kembali informasi itu ke layarmu. Pusat data ini juga membutuhkan sistem pendingin intensif agar server tidak overheat dan pendingin itu pun memakan energi yang tidak sedikit.
Data-data berikut mungkin akan mengejutkan kamu:
|
Aktivitas Digital |
Emisi CO2 |
Setara dengan |
|
Scroll TikTok (per menit) |
2,63 gram CO2 |
Mobil menempuh ~13 meter |
|
Menonton YouTube (1 jam) |
~36 gram CO2 |
Lampu LED menyala 3 jam |
|
Mengirim email dengan lampiran |
Hingga 50 gram CO2 |
Mesin cuci 1 siklus pendek |
|
1 pencarian via AI (ChatGPT, dsb) |
~10x pencarian Google biasa |
Google biasa: ~0,3 gram CO2 |
|
Scroll medsos 3 jam/hari (setahun) |
~20 kg CO2 |
Berkendara ~84 km |
Menurut data riset Greenspector, TikTok menjadi platform media sosial dengan emisi karbon tertinggi per menit penggunaan 2,63 gram CO2, jauh di atas platform lain seperti Facebook, Instagram, atau Twitter yang masing-masing menghasilkan kurang dari 1 gram CO2 per menit. Ini wajar mengingat TikTok memuat konten video beresolusi tinggi yang butuh bandwidth besar.
Di Indonesia, rata-rata pengguna menghabiskan 3 jam 18 menit per hari di media sosial dengan TikTok dan YouTube masing-masing memakan waktu hampir satu jam per hari per orang. Jika dikalikan dengan jumlah pengguna aktif internet Indonesia yang mencapai ratusan juta, totalnya menjadi angka yang sangat besar.
Di negara-negara yang listriknya sudah bersumber dari energi terbarukan seperti Islandia atau Norwegia jejak karbon digital per kapita jauh lebih rendah. Tapi di Indonesia, konsumsi data yang masif masih ditopang oleh pembangkit listrik berbasis batu bara.
Dengan penetrasi smartphone mencapai 89% populasi dan target bauran EBT yang terus meleset, setiap gigabyte data yang dikonsumsi masyarakat Indonesia menghasilkan emisi karbon yang lebih tinggi dibanding rata-rata global. Ini bukan berarti masyarakat harus berhenti menggunakan internet tapi ini menjadi alasan kuat mengapa transisi energi nasional dan efisiensi digital perlu berjalan bersamaan.
Setiap scroll, stream, dan klik memang meninggalkan jejak kecil, tapi nyata. Di Indonesia, di mana energi listrik masih sangat bergantung pada batu bara, dampaknya bahkan lebih terasa. Kabar baiknya: kita tidak harus memilih antara hidup digital dan menjaga lingkungan. Yang dibutuhkan adalah kesadaran, kebiasaan yang lebih efisien, dan dukungan terhadap transisi energi bersih yang lebih cepat.
Jejak karbon digital hanyalah satu bagian dari gambar besar. Masalah lingkungan sesungguhnya dari kualitas udara, kualitas air, hingga perubahan iklim membutuhkan pemantauan yang sistematis dan berbasis data akurat.
04 May 2026
Produksi plastik Indonesia diperkirakan melampaui 7 juta ton pada 2025, dengan 35%-nya adalah plastik kemasan sekali pakai. Tingkat daur ulang nasional hanya berkisar 10–15%, artinya sebagian besar plastik berakhir di lingkungan dan menjadi sumber mikroplastik baru.
29 April 2026
Bayangkan sebuah negara dengan potensi energi terbarukan terbesar di Asia Tenggara lebih dari 3 terawatt (TW) namun hampir 85 persen kebutuhan energinya masih dipasok oleh batu bara, minyak, dan gas. Itulah kondisi Indonesia hari ini.
Per April 2026, sistem energi nasional Indonesia masih didominasi 84,9% energi fosil, sedikit di atas rata-rata global yang berada di angka 80%. Di sisi lain, target bauran energi terbarukan (EBT) sebesar 23% pada 2025 gagal diraih realisasinya hanya sekitar 16%. Ini bukan kegagalan pertama: Indonesia tercatat gagal mencapai target EBT selama sembilan tahun berturut-turut.
Lalu, mengapa transisi energi tetap menjadi agenda mendesak yang tidak bisa ditunda?
5 Alasan Mengapa Transisi Energi Tidak Bisa Ditunda
Pembangkit listrik berbahan bakar batu bara Indonesia menghasilkan emisi di atas 350 juta ton CO₂ ekuivalen (MtCO₂e) pada 2024. Polusi udara dari PLTU dan kendaraan berbahan bakar fosil menjadi penyumbang utama penurunan kualitas udara di kota-kota besar Indonesia — berdampak langsung pada kesehatan pernapasan jutaan warga.
Indonesia sudah menjadi net importir minyak sejak 2004. Setiap gejolak harga energi global langsung menggerus APBN melalui subsidi yang mencapai ratusan triliun rupiah per tahun. Ketergantungan ini membuat Indonesia rentan bukan hanya secara lingkungan, tapi juga secara fiskal.
Indonesia telah berkomitmen pada target Net Zero Emission (NZE) 2060 dan menargetkan bauran EBT 27–33% pada 2035. Jika target ini terus meleset, kredibilitas Indonesia di forum internasional G20, UNGA, COP akan tergerus. Lebih konkret lagi, akses Indonesia terhadap pendanaan iklim internasional senilai miliaran dolar bisa ikut terganggu.
Investasi teknologi bersih global mencapai rekor US$2,2 triliun di 2025. Indonesia dengan potensi EBT di atas 3 TW bisa menjadi magnet investasi hijau jika kebijakan energinya konsisten dan transparan. Sebaliknya, jika ketergantungan fosil berlanjut, emisi karbon Indonesia berisiko 17% lebih tinggi pada 2040, yang berpotensi memicu carbon border tax dari mitra dagang utama.
Ironisnya, di tengah dominasi fosil, masih ada lebih dari 10.000 lokasi di Indonesia yang belum teraliri listrik PLN per 2025. Energi terbarukan skala komunitas — PLTS desa, mikrohidro — justru bisa menjadi solusi paling cepat dan efisien untuk menjangkau daerah-daerah terpencil ini. Transisi energi bukan hanya soal iklim, tapi juga soal keadilan akses.
Transisi energi fosil ke energi bersih bukan pilihan ideologis ini adalah kebutuhan ekonomi, lingkungan, dan sosial yang semakin mendesak. Indonesia punya semua modal yang dibutuhkan: potensi EBT terbesar di kawasan, komitmen internasional, dan skema pendanaan yang mulai terbentuk. Yang tersisa adalah keberanian untuk menjadikan target sebagai tindakan nyata.
28 April 2026
El Niño adalah salah satu fenomena iklim paling berpengaruh bagi Indonesia. Ketika suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur memanas secara anomali, curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia turun drastis — memicu kemarau panjang yang berdampak luas. Pada 2024 saja, kekeringan akibat El Niño menyebabkan produksi beras nasional turun sekitar 2,28 juta ton hanya dalam empat bulan pertama tahun itu.
Lalu, apa saja dampak nyata El Niño di Indonesia dan bagaimana cara menghadapinya?
Setidaknya ada lima dampak besar yang selalu menyertai kekeringan El Niño di Indonesia:
1. Krisis air bersih
Penurunan curah hujan hingga 50–90% di beberapa wilayah saat El Niño Super 2023 menyebabkan waduk dan sumber air di Nusa Tenggara, Jawa, dan Sulawesi mengering lebih cepat dari biasanya. Kebutuhan air rumah tangga, irigasi, dan industri pun ikut terganggu.
2. Gagal panen dan ancaman pangan
Tanaman pangan seperti padi, jagung, dan kedelai sangat bergantung pada ketersediaan air. Kekeringan berkepanjangan memperbesar risiko gagal panen, menurunkan kualitas hasil pertanian, dan pada akhirnya mendorong kenaikan harga pangan di pasar.
3. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla)
Tanah kering adalah kondisi ideal bagi kebakaran hutan dan lahan. Saat El Niño, hotspot di Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi meningkat tajam. Asap yang dihasilkan dapat mendorong Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) ke level berbahaya dan mengancam kesehatan jutaan orang.
4. Gangguan ekosistem laut
Pemanasan suhu laut memicu coral bleaching (pemutihan terumbu karang) dan menggeser distribusi ikan. Nelayan harus melaut lebih jauh dengan biaya lebih besar, sementara hasil tangkapan justru menurun.
5. Risiko operasional industri
Kekeringan mengurangi debit badan air penerima limbah, sehingga konsentrasi pencemar bisa meningkat meski volume buangan tidak berubah. Kualitas udara yang memburuk saat karhutla juga berdampak langsung pada K3 karyawan. Perusahaan tetap wajib memenuhi kewajiban pemantauan lingkungan (RKL-RPL) meski kondisi iklim sedang ekstrem.
Wilayah paling rentan saat El Niño: NTB, NTT (kekeringan ekstrem), Kalimantan (karhutla), Jawa Tengah & Timur (gagal panen), serta Sumatera Selatan & Riau (polusi udara).
Mitigasi El Niño perlu dilakukan di dua level: masyarakat dan industri.
Untuk masyarakat dan petani:
• Gunakan varietas tanaman tahan kekeringan
• Ikuti kalender tanam rekomendasi BMKG
• Bangun embung atau sistem penampungan air hujan
• Pantau informasi peringatan dini cuaca dari BMKG secara rutin
Untuk perusahaan dan industri:
• Audit penggunaan air dan terapkan efisiensi di unit produksi
• Tingkatkan frekuensi pemantauan kualitas air limbah dan badan air penerima
• Pastikan IPAL berfungsi optimal saat debit sungai rendah
• Lakukan pemantauan kualitas udara ambien saat risiko karhutla meningkat
• Pastikan laporan RKL-RPL tetap terpenuhi sesuai jadwal
El Niño adalah fenomena yang akan terus berulang. Dampaknya terhadap Indonesia — dari kekeringan, gagal panen, karhutla, hingga risiko industri — nyata dan terukur. Kunci menghadapinya bukan hanya respons saat krisis tiba, tetapi persiapan dan pemantauan lingkungan yang konsisten sejak jauh hari.
Dengan layanan konsultasi lingkungan dan uji laboratorium yang telah tersertifikasi KAN, Environesia siap menjadi solusi untuk kemudahan dan efisiensi waktu dengan output yang berkualitas
Pelanggan yang terhormat, selamat datang di Environesia Global Saraya. Ada yang bisa kami bantu? Yuk konsultasikan kebutuhan Anda. Kami tunggu yaa 😊🙏🏻