Leading the Way in

Environmental Insights

and Inspiration

Leading the Way in
Environmental Insights and Inspiration

Air Laut Lebih Tinggi dari Daratan Jakarta: Apakah Jakarta Akan Tenggelam?
Environesia Global Saraya

25 November 2025

Fenomena permukaan air laut yang tampak lebih tinggi daripada daratan di pesisir Jakarta kembali menjadi sorotan karena mencerminkan kondisi wilayah yang semakin rentan. Di beberapa titik Jakarta Utara, penurunan muka tanah yang berlangsung cepat dikombinasikan dengan kenaikan permukaan laut akibat perubahan iklim membuat daratan berada di bawah elevasi laut sehingga air tampak lebih tinggi daripada jalan dan permukiman. Situasi ini menunjukkan betapa seriusnya ancaman banjir rob dan perlunya pengelolaan air tanah, pembangunan tanggul yang memadai, serta mitigasi jangka panjang untuk melindungi kawasan pesisir Jakarta. 

Kenapa Air Laut Bisa Tampak Lebih Tinggi dari Daratan?

Di kawasan pesisir seperti Muara Baru, Kapuk Muara, atau Kali Adem, warga sering melihat air laut seperti “lebih tinggi” daripada daratan. Ada dua penyebab utama yang berkontribusi terhadap masalah ini:

  • Penurunan permukaan tanah (subsiden). Ini adalah faktor paling signifikan dan paling cepat di Jakarta. Penurunan tanah terjadi karena ekstraksi air tanah yang berlebihan untuk konsumsi rumah tangga, perkantoran, dan industri. Tanah di Jakarta turun dengan laju yang bervariasi, mencapai hingga 11 cm per tahun di beberapa area, jauh lebih cepat daripada kenaikan permukaan laut secara global.

  • Kenaikan permukaan air laut global. Pemanasan global menyebabkan lapisan es di kutub dan gletser mencair, sehingga volume air laut meningkat. Meskipun lajunya lebih lambat dibandingkan penurunan tanah, kenaikan ini tetap menjadi faktor yang memperburuk kondisi di Jakarta.

Dampak dan konsekuensi

  • Banjir rob yang sering dan meluas. Ketika permukaan tanah turun, banjir rob (banjir akibat air pasang laut) menjadi lebih sering dan memasuki area yang lebih jauh ke daratan.

  • Kerusakan infrastruktur. Kenaikan air laut dan penurunan tanah merusak jalan, bangunan, serta infrastruktur lainnya, termasuk tanggul penahan air laut. Beberapa tanggul di Jakarta Utara, seperti di Pantai Mutiara, telah menunjukkan gejala rembesan air.

  • Ancaman terhadap keselamatan warga. Penduduk yang tinggal di wilayah pesisir menghadapi risiko banjir yang terus meningkat. Sekitar 40% wilayah Jakarta berada di bawah permukaan laut dan hanya dilindungi oleh tanggul. 

Apakah Jakarta Akan Tenggelam?

  • Sebagian wilayah pesisir memang berisiko terendam permanen jika tidak ada mitigasi serius.

  • Prediksi “Jakarta tenggelam total” tidak tepat. Jakarta memiliki elevasi yang beragam, dan tidak semua daerah mengalami penurunan tanah yang sama.

  • Wilayah paling rawan berada di utara, terutama area dekat pantai dan kawasan yang infrastrukturnya masih sangat bergantung pada pompa air.

Dalam konteks ilmiah, istilah yang lebih tepat bukan “tenggelam”, tetapi subsiden (turun) dan terendam (inundasi) jika air laut melampaui batas tanggul atau merembes dari bawah. Artinya: ancamannya nyata, tetapi tidak berarti seluruh kota akan hilang dari peta dalam waktu dekat.

Apa yang Sedang Dilakukan Pemerintah?

Beberapa langkah mitigasi yang sudah dan sedang berjalan:

  • Pembangunan dan penguatan tanggul pantai termasuk tanggul laut di Jakarta Utara.

  • Proyek NCICD (National Capital Integrated Coastal Development) yang mencakup pembangunan sea wall besar.

  • Pengendalian pengambilan air tanah terutama untuk industri dan gedung besar.

  • Penyediaan alternatif air bersih melalui layanan pipanisasi dan peningkatan kapasitas air minum.

  • Penataan ruang wilayah pesisir untuk mengurangi pembangunan di area yang sangat rawan.

Langkah-langkah ini tidak langsung menghilangkan risiko, tetapi sangat penting untuk memperlambat dan mengelola dampaknya.

Sumber Dokumentasi Foto: Kompas.com

Konflik Taman Nasional Tesso Nilo: Antara Konservasi, Ekonomi Lokal, dan Mafia Lahan
Environesia Global Saraya

25 November 2025

Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) di Riau adalah salah satu hutan dataran rendah tersisa di Sumatra yang memiliki keanekaragaman hayati tinggi serta menjadi habitat penting gajah Sumatra. Namun dalam dua dekade terakhir, kawasan ini menghadapi konflik lingkungan yang semakin kompleks: perambahan hutan, kebun sawit ilegal, tekanan ekonomi masyarakat, hingga keberadaan mafia lahan. 

Nilai Ekologis Tesso Nilo sebagai Kawasan Konservasi

TNTN memiliki luas resmi 83.068 hektare, namun laporan KLHK tahun 2023 menyebutkan bahwa sebagian besar kawasan masih dikuasai kebun sawit ilegal. Operasi gabungan KLHK pada November 2023 menertibkan ratusan hektare kebun sawit yang masuk ke dalam kawasan konservasi menunjukkan bahwa ancaman perambahan masih sangat nyata. Liputan investigasi Mongabay Indonesia (2023) juga menegaskan bahwa Tesso Nilo masih berada dalam kondisi “tidak aman”, dengan banyak area yang sudah berubah menjadi perkebunan sawit yang dikelola tanpa izin.

​​Secara ekologis, TNTN adalah pusat keanekaragaman hayati Sumatra. Ia menjadi habitat gajah Sumatra, primata, burung endemik, hingga spesies flora hutan hujan dataran rendah yang kini semakin langka. Kerusakan kawasan ini menimbulkan dampak besar: hilangnya fungsi hidrologi, meningkatnya risiko banjir, penurunan tutupan hutan, hingga migrasi satwa liar ke wilayah manusia.

Ekonomi Lokal: Ketergantungan Masyarakat dan Tantangan Sosial

Faktor sosial-ekonomi memainkan peran penting dalam konflik TNTN. Studi lapangan dan laporan pemerintah menunjukkan bahwa banyak masyarakat sekitar bergantung pada perkebunan sawit sebagai sumber penghidupan. Beberapa aspek yang berperan antara lain:

  • Minimnya pekerjaan alternatif yang membuat pembukaan kebun sawit skala kecil dianggap sebagai pilihan paling realistis.

  • Pendatang membeli kavling ilegal di dalam kawasan TNTN melalui perantara lahan.

  • Batas kawasan tidak jelas sehingga masyarakat tidak menyadari bahwa lahan mereka berada di dalam taman nasional.

  • Program ekonomi alternatif dari KLHK seperti Pemanfaatan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK), masih belum merata.

Penelitian Universitas Riau (2021) juga menegaskan bahwa ketergantungan masyarakat terhadap sawit telah mengakar kuat, sehingga upaya konservasi sering dianggap bertentangan dengan kebutuhan ekonomi. Ketegangan ini menciptakan konflik antara kebutuhan hidup masyarakat dan perlindungan kawasan konservasi.

Mafia Lahan dan Perluasan Sawit Ilegal: Akar Konflik Terbesar

Perambahan di TNTN bukan hanya dijalankan oleh petani kecil akan tetapi oleh jaringan mafia lahan terorganisir yang beroperasi sejak 2020 hingga kini. Praktik-praktik yang teridentifikasi dalam kerusakan kawasan antara lain:

  • Penjualan kavling 1–3 hektare di dalam batas kawasan TN.

  • Pembukaan lahan menggunakan alat berat (eksavator).

  • Perdagangan TBS (tandan buah segar) ilegal ke pabrik sawit terdekat.

  • Penggunaan identitas masyarakat lokal untuk mengaburkan kepemilikan.

Dalam operasi KLHK 2023 lebih dari 600 hektare kebun sawit ilegal dimusnahkan indikasi kuat bahwa perambahan dilakukan secara sistematis, bukan sporadis. Laporan Eyes on the Forest 2022–2023 juga menemukan bahwa jaringan perdagangan kavling dan aliran TBS ilegal terus berlangsung dan menjadi penyebab utama rusaknya TNTN. Mafia lahan adalah akar konflik terbesar karena mereka menyediakan modal, alat, dan jaringan distribusi yang tidak dimiliki oleh petani kecil.

Konflik Manusia dan Gajah: Dampak Langsung Kerusakan Habitat

Perusakan habitat menyebabkan gajah Sumatra yang membutuhkan area jelajah luas sering memasuki area permukiman dan perkebunan. 

  • Populasi gajah di lanskap Tesso Nilo diperkirakan 150–180 individu (BKSDA Riau).

  • Jalur jelajah gajah kini banyak beririsan dengan kebun sawit ilegal.

  • Puluhan insiden gajah memasuki kebun warga dilaporkan setiap tahun.

  • Kasus gajah mati karena jerat dan pagar listrik ilegal masih terjadi.

Konflik ini menjadi salah satu dampak paling terlihat dari hilangnya tutupan hutan Tesso Nilo.

Upaya Pemulihan Kawasan dan Penguatan Manajemen Lingkungan

Pemulihan Taman Nasional Tesso Nilo membutuhkan langkah-langkah terarah, antara lain:

  • Penegakan hukum yang konsisten untuk menghentikan perambahan dan aktivitas lahan ilegal.

  • Restorasi ekosistem termasuk rehabilitasi hutan dan perlindungan koridor jelajah gajah.

  • Pengembangan ekonomi alternatif berbasis HHBK dan ekowisata bagi masyarakat sekitar.

  • Penguatan tata kelola lanskap melalui kolaborasi pemerintah, masyarakat, akademisi, dan lembaga konservasi.

  • Penerapan standar ISO 14001 oleh pelaku usaha di sekitar kawasan untuk meningkatkan kepatuhan lingkungan.

WWF Indonesia turut menekankan pentingnya pengelolaan lanskap terpadu untuk menjaga keseimbangan antara konservasi dan kebutuhan sosial-ekonomi.

Emissions Gap Report 2025
Environesia Global Saraya

24 November 2025

Laporan tahunan Emissions Gap Report (EGR) 2025 yang dirilis Program Lingkungan PBB (UNEP) kembali menegaskan satu kenyataan penting: dunia masih belum berada di jalur yang benar untuk menahan kenaikan suhu global sesuai target Perjanjian Paris. Meski ada peningkatan komitmen iklim dari beberapa negara, jurang antara komitmen dan realitas emisi justru semakin terlihat.

UNEP menyebutkan bahwa dengan kebijakan yang berjalan saat ini, dunia menuju pemanasan +2,8°C pada akhir abad, sementara dengan komitmen iklim (NDC) terbaru sekalipun, suhu masih akan meningkat +2,3–2,5°C. Angka ini jauh dari target 1,5°C yang dianggap paling aman untuk mencegah dampak iklim ekstrem.

Artikel ini merangkum temuan utama EGR 2025, tantangan global dalam menurunkan emisi, dan arah aksi yang perlu dipercepat.

Apa Itu Emissions Gap Report?

Emissions Gap Report (EGR) adalah laporan tahunan UNEP yang menilai perbedaan (gap) antara emisi gas rumah kaca yang diproyeksikan dan emisi yang seharusnya terjadi agar dunia tetap berada dalam jalur target 1,5°C atau 2°C.

Tahun 2025, UNEP menekankan bahwa meski ada langkah positif seperti peningkatan energi terbarukan dan pembaruan NDC beberapa negara, penurunan emisi global belum cukup cepat. Emisi global terus meningkat, terutama dari sektor energi, industri berat, dan transportasi.

Temuan Utama Emissions Gap Report 2025

Beberapa temuan yang paling disorot dalam laporan 2025 yaitu:

  • Emisi global masih meningkat
    Emisi gas rumah kaca mencapai level tertinggi dalam sejarah pada 2024, dipicu konsumsi energi fosil yang masih mendominasi.

  • Kesenjangan emisi untuk target 1,5°C sangat besar
    Untuk tetap berada pada jalur 1,5°C, dunia harus memangkas emisi setidaknya 42% pada 2030 dibanding level saat ini.

  • Kebijakan saat ini menuju pemanasan 2,8°C
    Dengan kebijakan existing, dunia tidak akan mencapai target Paris, memicu risiko seperti gelombang panas ekstrem, kenaikan permukaan laut, dan penurunan produktivitas pangan.

  • NDC baru belum cukup kuat
    Bahkan dengan komitmen terbaru negara-negara (NDC updated), pemanasan masih di kisaran 2,3 - 2,5°C.

  • Pendanaan iklim masih jauh dari kebutuhan
    Kesenjangan pendanaan mencapai ratusan miliar dolar per tahun, terutama untuk negara berkembang yang membutuhkan dukungan adaptasi dan mitigasi.

Alasan Emisi Global Sulit Turun

Ada beberapa penyebab utama mengapa penurunan emisi global tidak secepat yang dibutuhkan:

  • Ketergantungan pada energi fosil tetap tinggi. Coal, minyak, dan gas masih memasok lebih dari 75% energi dunia.

  • Pertumbuhan ekonomi negara berkembang. Banyak negara meningkatkan konsumsi energi untuk memenuhi kebutuhan industri dan urbanisasi.

  • Transisi energi berjalan tidak merata. Negara maju lebih cepat mengadopsi energi bersih, namun negara berkembang masih tergantung pada pembangkit fosil karena biaya dan infrastruktur.

  • Emisi industri berat sulit ditekan. Sektor baja, semen, dan petrokimia menyumbang emisi besar yang sulit didekarbonisasi tanpa teknologi rendah karbon yang lebih luas.

  • Laju deforestasi masih tinggi. Kehilangan hutan di kawasan tropis (Amazon, Kongo, Asia Tenggara) memperkecil kemampuan bumi menyerap karbon.

Sektor yang Paling Besar Menyumbang Emisi

Berikut kontribusi sektor yang disebut dalam EGR 2025:

  • Energi & listrik: penyumbang terbesar (sekitar 34%).

  • Industri berat: baja, semen, kimia (sekitar 24%).

  • Transportasi: darat, laut, dan udara (sekitar 14%).

  • Pertanian dan peternakan: emisi metana dan N2O (sekitar 18%).

  • Kehutanan dan perubahan tata guna lahan: deforestasi dan kebakaran hutan (7–10%).

Sektor energi dan industri menjadi fokus utama mitigasi global karena besarnya kontribusi terhadap total emisi. 

Solusi Praktis yang Perlu Dipercepat

UNEP menekankan beberapa langkah mendesak yang harus dilakukan negara-negara di seluruh dunia:

  • Transisi cepat ke energi terbarukan. Investasi surya, angin, hidro, dan penyimpanan energi perlu ditingkatkan secara agresif.

  • Dekarbonisasi industri berat. Melalui hidrogen hijau, carbon capture, hingga peningkatan efisiensi energi.

  • Pengurangan metana. Sektor pertanian, peternakan, dan migas perlu menerapkan teknologi pengendalian metana yang lebih ketat.

  • Perlindungan hutan dan ekosistem. Menghentikan deforestasi dan memperluas wilayah konservasi bisa mengurangi emisi secara signifikan.

Penguatan pendanaan iklim. Negara maju diminta meningkatkan pembiayaan mitigasi dan adaptasi untuk negara berkembang.

Kenapa Pakaian Thrift Impor Dilarang? Analisis dari Sisi Lingkungan dan Kesehatan
Environesia Global Saraya

24 November 2025

Larangan pakaian thrift impor kembali ramai dibicarakan setelah Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa pakaian bekas impor tetap ilegal meskipun pedagang siap membayar pajak. Pemerintah menilai impor pakaian bekas dapat menimbulkan risiko lingkungan, kesehatan, dan ekonomi, sehingga tidak dapat dilegalkan. Berikut analisis singkat namun komprehensifnya.

Ancaman Lingkungan dari Pakaian Bekas Impor

Setiap tahun Indonesia menghasilkan jutaan ton limbah tekstil, dan tingginya peredaran pakaian bekas impor memperparah masalah tersebut. Sebagian besar pakaian thrift impor berbahan sintetis seperti poliester, nilon, dan akrilik yang melepaskan mikroplastik ke tanah dan air ketika rusak atau dibuang.

Selain itu, banjir pakaian bekas dari negara maju sering kali tidak benar-benar layak pakai. Banyak yang berakhir di TPA dan memicu fenomena waste dumping di mana negara berkembang menanggung beban limbah fashion global.

Risiko Kesehatan yang Perlu Diwaspadai

Beberapa temuan pengujian laboratorium dan laporan pemerintah menunjukkan bahwa pakaian bekas impor dapat membawa risiko:

  • Kontaminasi bakteri dan jamur seperti Staphylococcus aureus dan E. coli akibat penyimpanan tidak higienis.

  • Residu bahan kimia dari fumigasi kontainer selama pengiriman yang berpotensi mengiritasi kulit dan saluran pernapasan.

  • Tidak memenuhi standar SNI sehingga konsumen tidak memiliki jaminan keamanan produk.

Karena tidak melalui proses pengawasan resmi, kualitas dan kebersihan pakaian bekas impor tidak bisa dipastikan, terutama untuk anak-anak dan individu dengan kulit sensitif.

Dampak Ekonomi dan Industri Lokal

Larangan ini juga berkaitan dengan perlindungan industri nasional. Pemerintah menilai bahwa:

  • Pakaian bekas impor menghancurkan harga pasar dan membuat UMKM mode lokal sulit bersaing.

  • Industri tekstil Indonesia, yang menyerap jutaan tenaga kerja, semakin tertekan dengan masuknya produk murah non-formal.

  • Arus barang bekas impor sering kali digunakan sebagai cara “membuang” limbah tekstil negara maju ke negara berkembang.

Melarang impor pakaian bekas menjadi salah satu langkah menjaga daya saing industri lokal sekaligus mendorong konsumsi yang lebih sehat dan bertanggung jawab.

Pilihan Gaya Hidup Berkelanjutan yang Legal dan Aman

Meskipun impor pakaian bekas dilarang, masyarakat tetap dapat menerapkan gaya hidup ramah lingkungan tanpa harus mengandalkan barang second-hand yang belum tentu higienis. Beberapa opsi yang lebih aman dan tetap mendukung keberlanjutan adalah:

  • Memilih pakaian berkualitas yang tahan lama. Semakin jarang membeli, semakin kecil jejak karbon yang dihasilkan. Produk yang awet mengurangi limbah tekstil secara signifikan.

  • Mendukung brand lokal yang menerapkan prinsip sustainable fashion. Banyak merek Indonesia menggunakan bahan organik, serat alami, atau material daur ulang yang lebih aman untuk kulit dan lebih ramah lingkungan.

  • Melakukan perawatan pakaian agar usia pakainya panjang. Teknik seperti mencuci dengan benar, menjemur dengan tepat, serta menyimpan pakaian di tempat kering dapat memperpanjang masa pakai tanpa harus membeli baru.

  • Memperbaiki atau memodifikasi pakaian lama. Upcycling adalah cara kreatif untuk mengubah pakaian lama menjadi model baru tanpa menimbulkan limbah tambahan. Selain aman, proses ini membantu mengurangi konsumsi fast fashion.

  • Mengurangi impulsive buying. Berbelanja berdasarkan kebutuhan, bukan tren sesaat, adalah cara paling efektif mengurangi limbah sekaligus menjaga kesehatan kulit dari paparan bahan tekstil yang tidak jelas kualitasnya.

  • Mengutamakan tekstil yang aman bagi kesehatan. Pilih bahan seperti katun organik, linen, atau serat bambu yang lebih breathable, tidak mudah menimbulkan iritasi, dan memiliki dampak lingkungan lebih rendah.

Larangan pakaian thrift impor bukan sekadar urusan legalitas, tetapi berkaitan dengan pengendalian limbah tekstil, perlindungan kesehatan masyarakat, dan keamanan industri lokal. Dari perspektif keberlanjutan, kebijakan ini mendorong Indonesia menuju pola konsumsi yang lebih bertanggung jawab mengutamakan thrift lokal, produk berkelanjutan, dan pengurangan sampah fashion.

Apakah Cukup Mengatasi Krisis Iklim dengan Energi Terbarukan?
Environesia Global Saraya

23 November 2025

Transisi menuju energi terbarukan menjadi strategi utama banyak negara untuk menekan emisi global. Perubahan sistem energi harus diikuti transformasi besar di sektor lain seperti industri, transportasi, pertanian, dan pola konsumsi. Artikel ini menjelaskan fakta terbarukan, tantangan, dan solusi berdasarkan riset internasional.

Energi Terbarukan Memang Kunci Utama Pengurangan Emisi

Peran energi terbarukan dalam mitigasi iklim tidak terbantahkan. Menurut laporan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) sektor energi menyumbang sekitar 75% dari total emisi gas rumah kaca global. Artinya, mengganti bahan bakar fosil dengan energi terbarukan dapat menurunkan emisi secara signifikan. Selain itu, biaya teknologi energi bersih seperti surya dan angin kini turun hingga 85% selama dekade terakhir membuatnya lebih kompetitif dibanding batu bara.

Namun, Energi Terbarukan Saja Tidak Cukup! Ada Tantangan Besar yang Harus Diatasi

Beberapa faktor berikut menunjukkan bahwa energi terbarukan perlu solusi tambahan agar benar-benar mampu menghentikan krisis iklim.

  • Intermitensi energi surya dan angin
    Produksi energi tergantung cuaca, sehingga memerlukan pengembangan baterai dan grid cerdas.

  • Keterbatasan mineral kritis
    Panel surya, turbin angin, dan baterai membutuhkan logam seperti litium, nikel, dan kobalt. Permintaan global melonjak jauh lebih cepat dibanding kapasitas penambangan.

  • Transisi energi tidak merata secara global
    Negara berkembang masih menghadapi biaya investasi awal yang tinggi.

  • Emisi dari sektor non-listrik tetap besar
    Transportasi, industri semen, pupuk, dan peternakan masih menghasilkan emisi signifikan meskipun pembangkit listrik sudah hijau.

Apa yang Harus Dilakukan?

Solusi untuk mengatasi krisis iklim harus bersifat lintas sektor, bukan hanya mengganti sumber energi. Strategi yang diakui oleh ilmuwan iklim mencakup kombinasi berikut:

  • Elektrifikasi transportasi dan penggunaan bahan bakar alternatif seperti hidrogen hijau

  • Efisiensi energi pada bangunan dan industri

  • Reforestasi, restorasi mangrove, dan perlindungan karbon alami

  • Perubahan pola konsumsi, terutama pengurangan makanan beremisi tinggi dan limbah pangan

  • Penghapusan bertahap subsidi bahan bakar fosil

Laporan International Energy Agency (IEA) menyimpulkan bahwa dunia harus mengombinasikan energi terbarukan dengan efisiensi energi, inovasi industri rendah karbon, dan perubahan sistem pangan untuk mencapai target Net Zero 2050. Tidak ada satu solusi tunggal yang cukup.

Energi terbarukan merupakan pondasi paling penting dalam upaya menahan pemanasan global. Namun, mengandalkan energi terbarukan saja tidak cukup untuk mengatasi krisis iklim. Kita memerlukan transformasi besar pada semua sektor ekonomi, didukung oleh kebijakan kuat, inovasi teknologi, dan perubahan perilaku konsumsi.

Dengan kombinasi strategi yang tepat dan implementasi yang konsisten, target dunia untuk menahan kenaikan suhu di bawah 1.5°C masih dapat dicapai.

Greenwashing: Mengapa Banyak Produk ‘Hijau’ Sebenarnya Tidak Ramah Lingkungan?
Environesia Global Saraya

23 November 2025

Seiring meningkatnya kesadaran publik terhadap isu keberlanjutan, semakin banyak perusahaan yang menghadirkan produk dengan citra ramah lingkungan. Label seperti eco-friendly, natural, dan green choice kini mudah ditemukan. Namun, tidak semua klaim tersebut mencerminkan dampak lingkungan yang sebenarnya. Memahami konsep greenwashing menjadi penting agar konsumen dapat membuat keputusan yang lebih tepat dan mendukung upaya keberlanjutan yang nyata.

Apa Itu Greenwashing?

Greenwashing adalah praktik komunikasi di mana sebuah produk atau perusahaan menonjolkan aspek lingkungan secara tidak lengkap, tidak proporsional, atau tanpa penjelasan yang memadai. Istilah ini muncul sejak 1980-an dan semakin relevan di era modern ketika konsumen semakin peduli terhadap isu lingkungan.

Fenomena ini tidak selalu terjadi karena niat menyesatkan. Dalam banyak kasus, greenwashing muncul karena kompleksitas rantai pasok, tantangan dalam mengukur dampak lingkungan secara akurat, atau usaha perusahaan untuk memenuhi harapan pasar terhadap produk yang dianggap lebih berkelanjutan. Namun, tanpa data dan penjelasan yang memadai, klaim seperti ini dapat menimbulkan kesan yang tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya

1. Sebagian Besar Emisi Berasal dari Rantai Pasok

Data dari UN Global Compact dan CDP (Carbon Disclosure Project) menunjukkan bahwa lebih dari 70% emisi perusahaan biasanya berasal dari rantai pasok atau Scope 3. Dalam industri barang konsumsi, McKinsey juga menemukan bahwa sekitar 80% emisi gas rumah kaca muncul dari proses produksi bahan baku, pabrik, dan distribusi.

Artinya, meskipun sebuah produk memiliki kemasan ramah lingkungan atau klaim “hijau”, dampak terbesar justru terjadi pada proses di balik layar yang tidak terlihat oleh konsumen.

2. Informasi Pemasaran yang Tidak Menjelaskan Secara Menyeluruh

Beberapa merek menampilkan klaim keberlanjutan secara selektif. Contohnya:

  • Menyoroti satu aspek positif saja, seperti penggunaan sedikit bahan daur ulang

  • Menggunakan istilah umum seperti eco, green, atau natural tanpa sertifikasi resmi

  • Menggunakan gambar daun, warna hijau, atau elemen alam untuk membangun kesan ramah lingkungan

  • Menyebut klaim lingkungan tanpa data, audit, atau laporan pendukung

Cara komunikasi seperti ini tidak selalu salah, tetapi bisa membuat konsumen salah paham jika informasi penuh tidak disampaikan secara transparan.

3. Rantai Pasok Global yang Sangat Kompleks

Menurut rangkuman dari Earth.org, rantai pasok dapat menyumbang 60–90% dari total emisi perusahaan.

Faktor yang membuatnya tinggi antara lain:

  • Produksi bahan baku dalam jumlah besar

  • Proses pabrik yang membutuhkan banyak energi

  • Pengiriman barang lintas negara

  • Pemakaian air dan bahan kimia

Karena prosesnya melibatkan banyak pihak dan lokasi, sebagian besar jejak karbon tidak terlihat pada label produk. Inilah sebabnya produk yang tampak “hijau” belum tentu benar-benar memiliki dampak lingkungan rendah.

Cara Konsumen Menilai Klaim Keberlanjutan

1. Cari Sertifikasi Resmi

Label seperti Ecolabel, FSC, RSPO, EU Ecolabel, atau Energy Star menunjukkan bahwa produk telah melalui proses verifikasi.

2. Cek Transparansi Perusahaan

Perusahaan yang serius pada keberlanjutan biasanya mempublikasikan laporan lingkungan, termasuk jejak karbon dan target pengurangannya.

3. Tinjau Klaim yang Terlalu Umum

Istilah seperti ramah lingkungan seharusnya memiliki penjelasan tambahan, misalnya data penggunaan energi atau sumber bahan baku.

4. Pilih Produk yang Tahan Lama

Produk yang dapat digunakan berkali-kali biasanya memiliki dampak lingkungan lebih rendah dibandingkan produk sekali pakai walaupun keduanya sama-sama membawa label “hijau”.

Produk yang terlihat ramah lingkungan tidak selalu memiliki dampak lingkungan yang kecil. Banyak faktor penting justru berada pada tahap produksi dan rantai pasok, yang sering kali tidak ditampilkan di kemasan. Dengan memahami cara kerja rantai pasok dan memeriksa transparansi klaim, konsumen dapat membuat keputusan yang lebih tepat sekaligus mendorong praktik keberlanjutan yang lebih bertanggung jawab.

footer_epic

Ready to Collaborate with Us?

Dengan layanan konsultasi lingkungan dan uji laboratorium yang telah tersertifikasi KAN, Environesia siap menjadi solusi untuk kemudahan dan efisiensi waktu dengan output yang berkualitas