JSEA – Job Safety Environmental Analysis

environesia.co.id – Pekerjaan di konsultan lingkungan khususnya pekerjaan di lapangan merupakan pekerjaan yang berpotensi menimbulkan kecelakaan kerja. Langkah preventif dalam upaya meminimalisir dampak dari kecelakaan kerja khususnya dalam pengendalian lingkungan. Langkah preventif dalam upaya meminimalisir dampak dari kecelakaan kerja tersebut dengan menerapkan JSEA (Job Safety Environemntal Analysis).

JSEA sendiri memiliki pengertian yang tak jauh beda dengan JSA (Job Safety Analysis) yang merupakan teknik manajemen keselamatan yang berfokus pada identifikasi bahaya dan pengendalian bahaya yang berhubungan dengan rangkaian pekerjaan atau tugas yang hendak dilakukan. JESA juga tidak hanya sebagai upaya meminimalisir kecelakaan pada pekerja, tetapi juga mencegah adanya kerusakan pada peralatan kerja serta meminimalisir kecelakaan lingkungan

Perbedaan penerapan JSA dan JSEA adalah sistem manajemen yang memayungi. Pada JSA merupakan implementasi dari sistem manajemen K3 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja). Sedangkan pada JSEA merupakan implementasi terintegrasi antara sistem manajemen K3 yang berkaitan dengan ISO 45001 dan sistem manajemen lingkungan yang berkaitan dengan dengan ISO 14001.

Penerapan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) di berbagai lokasi kerja atau instansi merupakan hal yang sangat penting demi lingkungan kerja yang aman dan meminimalisir angka terjadinya kecelakaan kerja. Penerapan tersebut dengan cara membentuk sistem kerja yang sistematis, prosedur yang tepat dan mengupayakan untuk memberikan pelatihan pada setiap pekerja dengan baik dan benar. Hal tersebut jika dilakukan dapat mencegah akan kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja. Pada JSEA tidak hanya pada meminimasilir pada keselamatan pada kecelakaan kerja tetapi juga bagaimana menyangkut keselamatan lingkungan hidup.

Secara teknis pelaksanaan JSEA dan JSA tidak memiliki perbedaan yang siginifikan. Pada tahap pelaksanaan yang membedakan adalah pada JSEA yang memiliki klausul lingkungan, dimana hal tersebut tidak terdapat pada JSA. Dikarenakan JSEA terkait pada sistem manajemen kesehatan dan keselamatan kerja lindung lingkungan. (admin/dnx)

ref: safetysign.co.id www.ruanghse.com www.bumn.info

Pentingnya AMDAL Bagi Pembangunan

environesia.co.id – AMDAL atau Analisis Mengenai Dampak Lingkungan memiliki peranan penting bagi pembangunan. Pembangunan sendiri tak bisa dilepaskan akan kebutuhan dan sebagai penunjang kesejahteraan masyarakat secara luas. Akan tetapi pembangunan tersebut tidak boleh lepas akan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan. Oleh karena itu demi menjaga prinsip yang telah ditetapkan, diperlukan aturan atau syarat khusus untuk mengidentifikasi dampak dari pembangunan kepada lingkungan hidup dengan persetujuan lingkungan.

Di Indonesia sendiri, pra syarat persetujuan lingkungan menggunakan AMDAL dan UKL-UPL sebagai paramater apakah usaha atau kegiatan tersebut layak untuk dilanjutkan dan diizinkan untuk berusaha atau berkegiatan.

Adanya AMDAL memiliki funsi yang sangat penting bagi perencanaan pembangunan khususnya pada kelestarian lingkungan hidup serta kehidupan di dalamnya. Adapun Fungsi AMDAL adalah sebagai berikut;

  • Bahan perencanaan pembangunan wilayah
  • Membantu proses dalam pengambilan keputusan terhadap kelayakan lingkungan hidup dari rencana usaha dan/atau kegiatan
  • Memberikan masukan dalam penyusunan rancangan rinci teknis dari rencana usaha dan/atau kegiatan
  • Memberi masukan dalam penyusunan rencana pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup
  • Memberikan informasi terhadap masyarakat atas dampak yang ditimbulkan dari suatu rencana usaha dan atau kegiatan
  • Tahap pertama dari rekomendasi tentang izin usaha
  • Merupakan Scientific Document dan Legal Document
  • Izin Kelayakan Lingkungan

Selain fungsinya yang sangat strategis, adanya Amdal juga memberikan manfaat untuk juga baik untuk pemegang dan penentu kebijakan dalam hal ini pemerintah, bagi pemrakarsa atau pemiliki usaha atau kegiatan yang berkepentingan serta bagi masyarakat itu sendiri. Manfaat adanya AMDAL bagi berbagai pihak antara lain:

Bagi Pemerintah

  • Mencegah dari pencemaran dan kerusakan lingkungan.
  • Menghindarkan konflik dengan masyarakat.
  • Menjaga agar pembangunan sesuai terhadap prinsip pembangunan berkelanjutan.
  • Perwujudan tanggung jawab pemerintah dalam pengelolaan lingkungan hidup.

Bagi Pemrakarsa.

  • Menjamin adanya keberlangsungan usaha.
  • Menjadi referensi untuk peminjaman kredit.
  • Interaksi saling menguntungkan dengan masyarakat sekitar untuk bukti ketaatan hukum.

Bagi Masyarakat

  • Mengetahui sejak dari awal dampak dari suatu kegiatan.
  • Melaksanakan dan menjalankan kontrol.
  • Terlibat pada proses pengambilan keputusan.

Environesia telah terbukti juga dengan kualitas dan kuantitas pekerjaan yang telah dan sedang di selesaikan. Telah berjalan selama 5 tahun, Environesia hingga saat ini telah dan sedang menyelesaikan lebih dari 200 proyek di 33 Provinsi se Indonesia dengan berbagai macam mitra, baik Pemerintahan, Badan Usaha Milik Negara dan Swasta. Jelas, hal ini menjadikan Environesia sebagai konsultan lingkungan atau Konsultan Amdal yang tidak perlu diragukan. (admin/dnx)

Apa Itu Dokumen Lingkungan? I

environesia.co.id – Dokumen lingkungan adalah dokumen yang terkait dengan regulasi atau pun perizinan lingkungan hidup. Tujuan dengan adanya dokumen lingkungan tersebut sebagai  perlindungan pada lingkungan hidup dari dampak yang ditimbulkan oleh usaha/kegiatan yang diselenggarakan. Pada wilayah hukum Indonesia sendiri terdapat beberapa jenis dokumen lingkunga dengan fungsi dan area masing-masing yang berlaku berdasarkan regulasi yang ada seperti PP No 22 Tahun 2021 dan sebagainya. Ada pun beberapa dokumen lingkungan yang diberlakukan di Indonesia;

AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan)

AMDAL atau Analisis Mengenai Dampak Lingkungan berdasarkan Peraturan Pemerintah No 22 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Pengelolaan dan Perlindungan Lingkungan Hidup merupakan kajian dampak penting pada lingkungan hidup dari suatu usaha atau/dan kegiatan yang direncanakan untuk digunakan sebagai prasyarat pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan serta termuat dalam Perizinan Berusaha, atau persetujuan Pemerintah Pusat atau Pemerintah Daerah.

AMDAL sendiri tersusun terdiri dari beberapa dokumen lingkungan yaitu KA (Kerangka Acuan) ANDAL (Analisis Dampak Lingkungan), ANDAL dan RKL-RPL (Rencana Pengelolaan Lingkungan – Rencana Pemantauan Lingkungan).

Pada proses penyusunan AMDAL melalui beberapa tahapan seperti konsultasi publik, kemudian pengumuman di media masa, Tim Teknis KA-ANDAL, dilanjutkan penilaian oleh Komisi Penilai AMDAL dan terakhir adalah penerbitan SKKLH (Surat Keputusan Kelayakan Lingkungan Hidup).

UKL-UPL (Usaha Pengelolaan Lingkungan-Usaha Pemantauan Lingkungan)

UKL-UPL adalah pengelolaan dan pemantauan lingkungan terhadap usaha dan/atau kegiatan yang tidak berdampak penting terhadap Lingkungan Hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan.Sedangkan pada PP No 22 Tahun 2021 yang terbaru, Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup yang selanjutnya disebut UKL-UPL adalah rangkaian proses pengelolaan dan pemantauan Lingkungan Hidup yang dituangkan dalam bentuk standar untuk digunakan sebagai prasyarat pengambilan keputusan serta terrnuat dalam perizinan Berusaha, atau persetujuan Pemerintah Pusat atau Pemerintah Daerah. Pemberlakukan UKL-UPL berdasarkan usaha dan/atau kegiatan yang tidak memenuhi kriteria AMDAL

AMDAL dan UKL-UPL merupakan dokumen yang menjadi dasar persetujuan lingkungan hidup berdasarkan PP No 22 Tahun 2021.

SPPL (Surat Pernyataan Kesanggupan Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan Hidup)

SPPL wajib dimiliki bagi usaha dan/atau Kegiatan yang tidak memiliki Dampak Penting terhadap Lingkungaa Hidup dan tidak termasuk dalam kriteria wajib UKL-UPL (Upaya Pengelolaan Lingkungan – Upaya Pemantauan Lingkungan) Rencana IJsaha dan/atau Kegiatan yang wajib memiliki SPPL meliputi: jenis rencana Usaha dan/atau kegiatan yang tidak memiliki Dampak Penting dan tidak wajib UKL-UPL; merupakan Usaha dan/atau Kegiatan Usaha mikro dan kecil yang tidak memiliki Dampak penting terhadap Lingkungan Hidup; dan/atau;  termasuk jenis rencana Usaha dan/atau Kegiatan yang dikecualikan dari wajib UKL-UPL. (admin/dnx)

bersambung part II

Konsultan AMDAL, Environesia Konsultan Lingkungan Terbaik

environesia.co.id – Konsultan AMDAL merupakan pihak yang melayani jasa sebagai penyusun AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan). Environesia sebagai konsultan lingkungan terdepan dan terbaik telah berpengalaman sebagai penyusun AMDAL di seluruh Indonesia. Selain sebagai penyusun AMDAL, Environesia juga melayani penyusunan UKL-UPL, Andalalin dan dokumen lingkungan lainnya.

AMDAL atau Analisis Mengenai Dampak Lingkungan sendiri berdasarkan Peraturan Pemerintah No 22 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Pengelolaan dan Perlindungan Lingkungan Hidup merupakan kajian dampak penting pada lingkungan hidup dari suatu usaha atau/dan kegiatan yang direncanakan untuk digunakan sebagai prasyarat pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan serta termuat dalam Perizinan Berusaha, atau persetujuan Pemerintah Pusat atau Pemerintah Daerah.

Sebagai penyusunan AMDAL, Environesia sebagai konsultan lingkungan telah terdaftar di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan sebagai Lembaga Penyedia Jasa Penyusunan Dokumen (LPJP) AMDAL dengan tenaga ahli tetap yang telah terdaftar. Terdaftarnya Environesia  merupakan sebagai syarat minimal bahwa lembaga tersebut benar-benar dapat menjadi konsultan lingkungan khususnya dalam penyusunan Amdal.

Lihat juga layanan Environesia

Tentunya, untuk hasil yang terbaik memilih mitra dalam konsultansi jasa lingkungan diperlukan tidak hanya terdaftar saja tapi telah teruji bagaimana kualitas dan track record lembaga tersebut. Hal yang termudah untuk mengetahui bahwa lembaga tersebut memiliki kualitas yang baik berupa bukti bahwa lembaga tersebut dengan sistem manajemen yang teruji.

Pada standar Internasional dikenal ISO 9001 tentang Sistem Manajemen Mutu. Environesia sebagai entitas bisnis telah mengantongi sertifikat ISO 9001 yang dikeluarkan langsung oleh lembaga bergengsi, maka dari itu dapat dikatakan Environesia telah memiliki sistem manajamen mutu yang telah teruji. Terlebih Environesia sebagai konsultan lingkungan juga telah mengantongi sertifikasi ISO 14001:2015 Sistem Manajemen Lingkungan dan ISO 45001:2018 Sistem Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja yang sejalan dengan bidang pekerjaan konsultan lingkungan tersebut.

Tak hanya terbukti dengan sistem mutu yang telah tersertifikasi, Environesia telah terbukti juga dengan kualitas dan kuantitas pekerjaan yang telah dan sedang di selesaikan. Telah berjalan selama 5 tahun, Environesia hingga saat ini telah dan sedang menyelesaikan lebih dari 200 proyek di 33 Provinsi se Indonesia dengan berbagai macam mitra, baik Pemerintahan, Badan Usaha Milik Negara dan Swasta. Jelas, hal ini menjadikan Environesia sebagai konsultan lingkungan atau Konsultan Amdal yang tidak perlu diragukan. (admin/dnx)

Terjauh Terluar, Proyek Konsultan Lingkungan Environesia

environesia.co.id – PT Environesia Global Saraya yang merupakan konsultan lingkungan terdepan di Indonesia. Sejak pertama kali berdiri pada tahun 2016 hingga saat ini telah menyelesaikan berbagai proyek yang tersebar di 33 dari 34 Provinsi se Indonesia dengan total lebih dari 200 pekerjaan. Ada pun sebagai perusahaan konsultan lingkungan nasional, Environesia telah beberapa kali mengerjakan berbagai pekerjaan yang berlokasi terjauh dan terluar dari Yogyakarta sebagai lokasi Environesia.

Dari ujung barat khususnya di Provinsi Aceh terdapat dua proyek sejenis , proyek tersebut datang daro PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) Unit Induk Wilayah Aceh, di Kota Banda Aceh. Proyek tersebut berupa Pemantauan Lingkungan RKL-RPL (Rencana Pengelolaan Lingkungan-Rencana Pemantauan lingkungan) lokasi PLTD (Pembangkit Listrik Tenaga Diesel) dan Kantor Unit Gudang yang dimulai pada tahun 2020. Selain proyek tersebut juga terdapat proyek oleh PT PLN (Persero) Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Subulussalam dengan pekerjaan sejenis yaitu Pemantauan Lingkungan RKL-RPL pada tahun 2019.

Menuju salah satu titik terluar di Indonesia yang terletak di Utara, yaitu di Provinsi Kalimantan Utara. Environesia di Kalimantan Utara mendapatkan kepercayaan dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat untuk menyelesaikan pekerjaan Penyusunan Dokumen Lingkungan  untuk pembangunan Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Labang dan PLBN Long Nawang pada tahun 2019. Proyek tersebut sebagai salah satu gerbang dan wajah Indonesia yang berbatasan langsung dengan negara Malaysia.

Serta di ujung Timur Indonesia, yaitu di Provinsi Papua, Environesia juga telah menangani proyek dari PT PLN (Persero) UIW Papua-Papua Barat yang terpusat di Kota Jayapura. Proyek tersebut berupa Pemantauan Air Limbah dan Pemantauan/Pengukuran Lingkungan Hidup Operasional dan Lingkungan Kerja Gedung Kantor yang dilaksanakan pada tahun 2018 dan 2020. Selain dari pada itu, juda terdapat proyek berupa Jasa Penerapan Sistem Manajemen Terpadu (ISO 9001:2015, ISO 14001:2015, ISO 45001:2018 dan Sistem Manajemen Pengamanan) yang dilaksanakan pada tahun 2020.

Itu dia berbagai proyek Environesia, yang membuktikan bahwa Environesia merupakan Konsultan Lingkungan Terdepan dengan jangkauan kerja yang sangat luas se Indonesia. Membuktikan pula bahwa PT Environesia Global Saraya merupakan Konsultan Lingkungan Terdepan di Indonesia. (admin/dnx)

Jejak Karbon, Jejak Emisi Gas Rumah Kaca

environesia.co.id – Jejak karbon merupakan jumlah emisi gas rumah kaca yang dilepaskan oleh pribadi atau kelompok dalam melakukan kegiatannya per periode tertentu. Gas-gas rumah kaca tersebut sebagai pengikat radiasi sinar matahari yang dipantulkan oleh bumi dan yang datang dari luar angkasa.

Secara alami, gas rumah kaca tersebut di atmosfer berfungsi sebagai penjaga permukaan bumi tetap hangat. Kika gas-gas rumah kaca tidak bekerja, maka suhu permukaan bumi akan lebih dingin, sehingga tidak mendukung kehidupan permukaan bumi seperti saat ini.

Dari iesr.co.id dijelaskan bahwa United Nation Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) menetapkan enam jenis gas rumah kaca yang dihasilkan oleh tindakan manusia: Karbondioksida (CO2), Metana (CH4), Nitro Oksida (N2O), Hydrofluorocarbons (HFCs), Perfluorocarbons (PFCs) dan Sulfur hexafluoride (SF6).

Menurut hasil observasi, suhu permukaan bumi  sudah naik rata-rata sebesar 1°C sejak awal revolusi industri (akhir abad ke-18) dan kenaikan ini akan mencapai 2°C pada pertengahan abad ini dan lebih dari 3,5°C pada akhir 2100 jika tidak dilakukan tindakan drastis untuk mengurangi laju pertambahan emisi gas rumah kaca dari aktifitas manusia

Jejak karbon dinyaatakan dalam satuan ton setara CO2 (tCO2e) atau kg setara CO2 (tCO2e), hal ini karena gas rumah kaca bukan hanya karbon dioksida CO2 dan dampaknya terhadap pemanasan global pun berbeda-beda.

Jejak karbon sendiri berdasarkan kutipan dari dlh.karanganyar.go.id bahwasanya dihasilkan dari berbagai seumber seperti Individu, Organisasi,  Kegiatan dan Produk.

Peternakan merupakan salah satu penyumbang jejak karbon yang besar. Dikutip dari nasional.tempo.co dikatakan bahwa  gas metana yang dikeluarkan ternak, terutama sapi, mencapai 14,5 persen dari total emisi gas rumah kaca di dunia. (admin/dnx)

Sumur Resapan, Untuk apa?

environesia.co.id – Sumur Resapan merupakan rekayasa konservasi air berupa bangunan yang dibuat sedemikian rupa hingga menyerupai sumur galian dengan kedalaman tertentu. Sumur resapan ini kebalikan dari sumur air minum. Berbeda dengan sumur air minum yang berfungsi untuk menaikkan air tanah ke permukaan, sumur resapan merupakan lubang untuk memasukkan air ke dalam tanah.

Syarat – syarat yang harus di ketahui ketika membangun sumur resapan. Berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI) No. 03-2453-2002, persyaratan umum yang harus dipenuhi sebuah sumur resapan antara lain;

  1. Sumur resapan harus berada pada lahan yang datar, tidak pada tanah berlereng, curam atau labil.
  2. Sumur resapan harus dijauhkan dari tempat penimbunan sampah, jauh dari septic tank (minimum 5 m diukur dari tepi), dan berjarak minimum 1 m dari fondasi bangunan
  3. Penggalian sumur resapan bisa sampai tanah berpasir atau maksimal 2 m di bawah permukaan air tanah. Kedalaman muka air (water table) tanah minimum 1,5 m pada musim hujan.
  4. Struktur tanah harus mempunyai permeabilitas tanah (kemampuan tanah menyerap air) lebih besar atau sama dengan 2,0 cm/jam (artinya, genagan air setinggi 2 cm akan teresap habis dalam 1 jam), dengan tiga klasifikasi, yaitu sebagai berikut.
  • Permeabilitas sedang, yaitu 2,0-3,6 cm/jam.
  • Permeabilitas tanah agak cepat (pasir halus), yaitu 3,6-36 cm/jam.
  • Permeabilitas tanah cepat (pasir kasar), yaitu lebih besar dari 36 cm/jam.

Manfaat ketika membangun sumur resapan di lingkungan, seperti; menambah jumlah air yang masuk ke dalam tanah sehingga dapat menjaga kesetimbangan hidrologi air tanah sehingga dapat mencegah intrusi air laut, mengisi pori-pori tanah yang akan mencegah terjadinya penurunan tanah, mereduksi dimensi jaringan drainase, menurunkan konsentrasi pencemaran air tanah, mempertahankan tinggi muka air tanah  dan mengurangi limpasan permukaan sehingga dapat mencegah banjir. (admin/dnx)

Visi Besar Environesia sebagai Konsultan Lingkungan Terdepan

environesia.co.id – Menjalankan proses bisnis di berbagai bidang khususnya konsultan lingkungan, sangat dibutuhkan adanya visi yang visioner sebagai titik tujuan bersama menuju masa depan pada perusahaan tersebut. Sebagaimana perusahaan yang memiliki masa depan adalah perusahaan yang sustainable (berkelanjutan) dengan berbagai misi untuk meraih visi tersebut.

Environesia sendiri dalam menjalankan bisnisnya memegang erat visi “Menjadi perusahaan terdepan untuk jasa konsultansi lingkungan di Indonesia pada tahun 2025.” Visi tersebut sebagai acuan untuk membangkitkan semangat Environesia dan tim meraih visi tersebut. Ibarat anak yang dipacu untuk bercita-cita agar bersemangat dan optimis untuk merangkai masa depan maka visi Environesia tak jauh berbeda, yang tak lain sebagai modal Environesia untuk menggapai masa depannya.

Tentunya, tak hanya sekedar dengan visi pada sebuah perusahaan bisa untuk survive menggapai masa depan, melainkan diperlukan berbagai misi agar visi tersebut dapat diwujudkan. Untuk menggapai sebagai “Perusahaan Konsultan Lingkungan Terdepan di Indonesia” Environesia menentukan misi dengan “Memberikan pelayanan terbaik yang mengedepankan kepuasan pelanggan melalui profesionalisme kerja yang tinggi, ketepatan waktu pelayanan, jaringan kerjasama yang luas, hubungan emosional yang baik antara tim dan pelanggan.”

Apakah makna dari Visi Environesia? Visi Environesia memuat istilah “The Leading,” kalimat tersebut sebagai makna yang terdepan, oleh karena itu jika ingin menjadi yang terdepan maka haru terbaik dalam kuantitas jangkauan, terbaik dalam pelayanan, terbaik kualitas produk yang dihasilkan dan juga terbaik dari segi sumber daya manusia yang menggerakannya hingga mencapai titik terbaik. Pastinya “terbaik” bukanlah titik statis, melainkan titik dinamis yang senantiasa perlu ditingkatkan setiap saat. Bisa saja tahun ini dengan angka sekian sudah yang terbaik, tetapi di tahun yang akan datang belum tentu dengan angka yang sama pada tahun sebelumnya dapat menjadi yang “terbaik.”

Oleh karena itu, sebagaimana cara untuk mewujudkan “the leading” atau yang terdepan maka Environesia melakukan upaya pelayanan yang terbaik kepada para pelanggan. Ketika pelayanan tersebut dilakukan dengan cara yang terbaik maka pelanggan akan puas. Tak hanya itu, cara untuk mencapai layanan yang terbaik pun harus dilakukan dengan cara yang profesional, dengan waktu yang tepat melalui berbagai jaringan kerjasama yang luas serta didukung dengan tim yang solid untuk memberikan yang terbaik kepada pelanggan.

“Kita sampai lima tahun kedepan masih tetap akan menggunakan tagline ini ‘the leading’ namanya saja sudah leading, pasti SDM-nya bagus, pasti IT-nya bagus, pasti sistem manajemen di dalam nya bagus. Jadi lima tahun kedepan Environesia berharap ditargetkan akan menjadi perusahaan di bidang lingkungan yang kekinian, yang update akan perkembangan teknologi.”

Saprian, S.T.,M.Sc. – CEO Environesia Company Group

(admin/dnx)

5 Fakta Menarik Environesia Konsultan Lingkungan

environesia.co.id – Memiliki jangkauan pekerjaan yang sangat luas dari Sabang sampai Merauke, menjadikan Environesia sebagai konsultan lingkungan nasional dan ternama. Sejak berdirinya pada lima tahun yang lalu hingga saat ini telah menorehkan berbagai berbagai pencapaian yang sangat luar biasa. Tahukah sobat, bahwa terdapat berbagai fakta menarik Environesai yang perlu diketahui, seperti berikut ini;

  1. Environesia telah menjangkau 33 dari 34 Provinsi se Indonesia

Sejak pertama kali mengembangkan bisnis di bidang konsultansi di bidang lingkungan, Environesia telah mengerjakan lebih dari 200 paket pekerjaan yang tersebar di 33 dari total 34 provinsi se Indonesia. Pekerjaan tersebut datang dari beragam latar belakang mitra kerja, seperti Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Pemerintahan baik pusat dan daerah melalui Kementerian atau Dinas terkait serta berbagai mitra yang datang dari kalangan perusahaan swasta.

2. Environesia Team terdiri dari 100% generasi milenial dan generasi Z

Tahukah sobatbahwasanya Environesia Crew yang menggerakan roda bisnis terdiri dari para milenial, baik itu Direktur maupun Top Management serta seluruh staff merupakan generasi milenial dan generasi Z. Hal tersebut mendukung lingkungan kerja yang fresh sehingga menjadikan Environesia sebagai konsultang lingkungan dengan wajah yang berbeda pada umumnya.

3. Environesia Konsultan Lingkungan populer di sosial media

Jika kita mencari perusahaan konsultan lingkungan di media sosial khususnya di Instagram, maka akan kita ketahui Environesia merupakan perusahaan konsultan lingkungan populer di antara ratusan konsultan lingkungan di Indonesia. Untuk saat ini, akun Instagram @environesia telah diikuti lebih dari 16000 akun Instagram lain. Tak hanya di Instragram, Environesia juga eksis di berbagai media sosial seperti Twitter, Tiktok, Facebook, LinkedIn dan sebagainya.

4. Environesia telah teruji dengan sertifikasi Sistem Manajemen terintegrasi

Semenjak tahun 2018, Environesia telah mendapatkan sertifikat ISO 9001:2015 untuk Sistem Manajemen Mutu, sedangkan pada tahun berikutnya Environesia mendapatkan sertifikat ISO 14001:2015 untuk Sistem Manajemen Lingkungan dan ISO 45001:2018 untuk Sistem Manajemen Kesehatan & Keselamatan Kerja. Pada pengaplikasiannya Environesia menerapkannya dengan terintegrasi satu sama lain.

5. Environesia terletak di Kota Pendidikan Yogyakarta

Dalam menunjang kelancaran proses bisnis, Environesia didukung oleh para praktisi yang telah berpengalaman, pembuat dan pengawasan kebijakan serta para akademisi yang berasal dari berbagai kampus ternama yang berada di Yogyakarta. Di mana Kota Yogyakarta atau lebih luasnya Provinsi D.I. Yogyakarta dikenal sebagai Kota Pelajar.

Ciptagelar, Ketahanan Pangan Berbasis Local Wisdom

environesia.co.id – Hari Pangan se Dunia tak jauh dari pembahasan tentang ketahanan pangan bagi masyarakat. Oleh karena itu rasanya perlu untuk kita melihat sejenak bagaimana ketahanan pangan yang diwujudkan dengan pendekatan berbasiskan local wisdom di Kasepuhan Ciptagelar.

Informasi dari laman resminya, yang dimaksud dengan Kasepuhan Ciptagelar sendiri merupakan  masyarakat hukum adat yang berada di kawasan pedalaman Gunung Halimun-Salak. Istilah kasepuhan berasal dari bahasa Sunda, yang secara umum artinya adalah mereka yang dituakan.

Berlokasi di  wilayah dusun Sukamulya, Desa Sirnaresmi, kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat. Pencaharian seluruh warga Kasepuhan Ciptagelar bertani. Semuanya menanam padi di sawah dan huma, menanam palawija di kebun, serta beternak ikan di kolam.

Keyakinan masyarakat Ciptagelar terhadap alam dan penciptanya mereka terapkan dalam sistem pertanian. Sistem bertani di ladang dan sawah tak pernah menggunakan pupuk kimia, hanya mengandalkan pupuk organik dan mengikuti pola alam.

Masyarakat Kasepuhan Ciptagelar tetap setia menggunakan bibit padi lokal yang dipercaya dari datang dari leluhur mereka, dan menolak menggunakan bibit dari luar. Dari lama lipi.go.id diungkapkan bahwa terdapat beberapa alasan Kasepuhan Ciptagelar terus mempertahankan bibit lokal antara lain: upacara adat yang mengharuskan menggunakan padi lokal,  padi jenis unggul yang dianjurkan pemerintah tidak cocok dengan keadaan geografis di Kasepuhan Ciptagelar, padi lokal yang di sakralkan oleh masyarakat Ciptagelar berbatang panjang sehingga mudah di-etem (ani-ani), serta untuk melestarikan adat leluhur.

Panen padi bagi masyarakat Ciptagelar hanya berlangsung satu tahun sekali, namun tidak pernah kekurangan nasi. Masyarakat adat Kasepuhan Ciptagelar, menganggap padi bukan sekadar komoditas pangan untuk konsumsi sehari-hari, melainkan sebagai simbol dari sebuah kehidupan.

Nilai penghormatan yang dipegang teguh warga Ciptagelar adalah memandang beras sebagai benda sakral. Hasil panen, baik dalam bentuk padi, gabah, maupun beras, dilarang dijual. Memasak nasi pun tak boleh menggunakan alat modern seperti ‘magic jar.’

Adapun upacara-upacara adat yang diselenggarakan oleh masyarakat Ciptagelar sepert: upacara sapang jadian paré yaitu syukuran penanaman padi ketika benih mulai tumbuh, biasanya satu pekan setelah penanaman; kemudian terdapat upacara paré nyiram yang merupakan syukuran saat padi mulai tumbuh subur; selain itu terdapat juga upacara mapag pare beukah yang merupakan syukuran saat padi siap dipanen; serta upacara mipit paré yang merupakan syukuran pascapanen.

Selain dari pada itu dilakukan upacara ngayaran yang merupakan syukuran besar ketika hasil panen sudah bisa dikonsumsi, agenda upacara tidak hanya syukuran, melainkan terdapat pembahasan persiapan acara seren taun; upacara seren taun: acara puncak dari seluruh rangkaian proses penanaman hingga panen, ritual agung yang dijadikan upacara pamungkas.

Ketersediaan pangan beras yang dijadikan stok disimpan di leuit, lumbung padi. Leuit dibangun di dekat rumah masyarakat, berukuran rata-rata 4 x 5 meter. Masing-masing rumah biasanya memiliki dua leuit yang mampu menampung beras sebanyak 2.462,4 kg (Khomsan dkk., 2014). Dengan kuantitas sebanyak itu, masyakarat Kasepuhan Ciptagelar jarang sekali mengalami krisis atau kekurangan pangan. Bisa dibayangkan, masa panen hanya setahun sekali, tetapi ketersediaannya bisa untuk tiga tahun. (admin/dnx)

lipi.go.id bappeda.jabar.go.id vice.com