Jurusan Strata 1 dengan Subyek Lingkungan

environesia.co.id – Impian berkarir sekaligus berkontribusi pada pelestarian lingkungan hidup, salah satu mewujudkannya dengan menempuh pendidikan khususnya pada Strata 1 dengan subyek lingkungan. Perlu diketahui, di Indonesia terdapat berbagai jurusan perkuliahan dengan topik lingkungan yang sekilas mirip akan tetapi berbeda.

Berikut informasi tentang jurusan perkuliahan yang mana memiliki subyek atau topik lingkungan yang terdaftar di Direktorat Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Jurusan-jurusan tersebut antara lain:

Ilmu Lingkungan

Program studi yang masih baru termasuk jurusan dalam rumpun ilmu murni, hanya terdapat di 10 Kampus se Indonesia, baik negeri atau pun swasta. Pada jurusan ini memiliki mata kuliah seperti fisika lingkungan, biologi lingkungan, kimia Lingkungan, Sosiologi lingkungan, Manajemen lingkungan dan sebagainya. Lulusan pada program studi ini, lulusannya bergelar akademik “S.Ling.” Ada pun kampus yang menyelenggarakan jurusan atau program studi ini adalah Universitas Sebelas Maret (UNS),  Univeristas Negeri Semaran (UNNES, Universitas Mataram, Universitas Muhammadiyah Madiun dan sebagainya.

Teknik Lingkungan

Salah satu Program studi rumpun teknik  yang cukup popular. Sebelumnya program studi ini merupakan salah satu konsentrasi dari jurusan teknik sipil.  Pada program studi ini membahas tentang teknik dan pengaplikasiannya pada lingkungan dan regulasi lingkungan. Kini banyak kampus yang menyelenggarakan jurusan ini. Mata kuliah yang terdapat pada program studi ini seperti Pemodelan lingkungan Pengelolaan limbah B3 Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Manajemen Lingkungan dan sebagainya. Lulusan pada program studi ini menyandang gelar “S.T.” Sedangkan kampus yang menyelanggarakan perkuliahan pada program studi ini antara lain Institut Teknologi Bandung (ITB), Univeristas Diponegoro (UNDIP), Univeristas Indonesia (UI), Univeristas Brawijaya (UNIBRAW), Univeristas Islam Indonesia (UII), Universitas Trisakti, Institut Teknologi Yogyakarta (ITY) dan sebagainya.

Kesehatan Lingkungan

Program studi ini seblumnya merupakan bagian dari program studi kesehatan masyarakat, dengan konsentrasi kesehatan lingkungan. Berkembangnya kajian dan studi kesehatan lingkungan, kini prodi ini telah berdiri sebagai program studi tersendiri. Pada jurusan ini mempelajari interaksi dinamis berbagai pajanan atau agen lingkungan melalui wahana udara, air, limbah, makanan dan minuman, vektor atau binatang pembawa penyakit, dan manusia di lingkungan hidup. Mata kuliah pada program studi ini seperti Ekologi kesehatan, Penyakit berbasis lingkungan, Pencemaran udara dan kesehatan, Epidemologi kesehatan. Lulusan program ini bergelar akademik “S.KL/S.Kes.” Ada pun kampus yang menyelenggarakan perkuliah program studi ini seperti  Universitas Indonesias (UI), Universitas Sriwijaya (UNSRI), Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur (UMKT), Politeknik Kesehatan (Poltekkes) di bawah naungan Kementerian Kesehatan dan sebagainya.

Rekayasa Infrastruktur dan Lingkungan

Program studi rumpun teknik  membahas tentang teknik dan rekayasa pada pembangunan infrastruktur berbasis lingkungan. Pada program studi ini memiliki mata kuliah seperti, Bangunan Pengolahan Air, Manajemen Infrastruktur, Perancana Instalasi Pengolahan Limbah Cair, Pengelolaan Lingkungan Air Terpadu dan sebagainya. Lulusan program studi ini bergelar akademik layaknya gelar akademik untuk lulusan teknik dan rekayasa lain yaitu  “S.T”. Sedangkan kampus yang menyelenggarakan perkuliahan ini seperti Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Teknologi Sumatera (ITERA), Universitas Katolik Soegijapranata dan sebagainya.

Geografi Lingkungan

Program studi ini membahas tentang ilmu geografi dan ilmu lingkungan, ketrampilannya serta memanfaatkan konsep-konsep Geografi Manusia, Geografi Umum, dan Geografi Fisik Lingkungan dengan baik sesuai ruang dan waktu. Memiliki mata kuliah seperti Ekologi dan Ilmu Lingkungan Hydrometeorologi, Geografi Urban, Degradasi lingkungan dan sebagainya. Lulusan ini bergelar layaknya lulusan sarjana sains murni yaitu “S.Si.” Sedangkan Universitas Gadjah Mada merupakan kampus satu-satunya yang menyelenggarakan program studi ini.

Ekonomi dan Sumberdaya Lingkungan

Program studi yang mempelajari pengolahan sumberdaya dan lingkungan dari perspektif teori ekonomi serta mengkaji dampaknya terhadap masyarakat terhadap tiga bidang keilmuan yang dikembangkan yaitu Ekonomi Pertanian, Ekonomi Sumberdaya, dan Ekonomi Lingkungan. Mata kuliah pada program studi ini seperti Ekonomi Lingkungan, Ekonomi Sumberdaya Lahan, Analisis Neraca Sumberdaya Alam dan sebagainya. Lulusan pada program studi ini bergelar “S.E.” Sedangkan kampus yang menyelenggarakan perkuliahan program studi ini hanya Institut Pertanian Bogor (IPB).

Itulah, beberapa program studi dengan topik dan subyek lingkungan yang terdapat di Indonesia. Selain jurusan-jurusan tersebut masih terdapat jurusan lain yang memiliki subyek lingkungan. Beragam pembahasan kajian studi lingkungan dari berbagai sudut pandang pendekatan multidisiplin memberikan warna dalam kajian lingkungan. (admin/dnx)

Laboratorium Lingkungan Terbaik dan Terdepan

environesia.co.id – Berbicara konsultan lingkungan tak lepas juga berbicara tentang laboratorium lingkungan. Hal tersebut karena berbagai pekerjaan konsultan lingkungan perlu didukung dengan pengujian sampel tertentu yang dilakukan oleh laboratorium lingkungan. Menurut pengertiannya, laboratorium lingkungan merupakan laboratorium yang melakukan pengujian parameter Fisika, Kimia dan biologi yang sejalan dengan Undang- Undang yang berlaku dalam kerangka kerja pengelolaan lingkungan.

Secara khusus laboratorium lingkungan melakukan analisis secara baik kimia, Biologi, bakteriologis dan radiologis pada sampel lingkungan termasuk di antaranya: air minum, air permukaan, air tanah, air laut, air limbah, sedimen, ambien udara, emisi udara, limbah padat, tanah dan limbah B3.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menetapkan standar bagi laboratorium lingkungan yang ada di Indonesia. Dikutip dari standardisasi.menlhk.go.id pada laboratorium lingkungan tersebut diwajibkan  mempunyai sertifikat akreditasi laboratorium pengujian parameter kualitas lingkungan dan mempunyai identitas registrasi. Sertifikat akreditasi yang dimaksud adalah sertifikat akreditasi sebagai laboratorium pengujian dengan lingkup parameter kualitas lingkungan yang diterbitkan oleh KAN.

PT Environesia Global Saraya, sejak tahun 2018 telah mambangun perusahaan di bawah naungan Environesia Company Group yang bergerak di bidang laboratorium lingkungan. Perusahaan tersebut terdaftar dengan nama GreenLab dengan entitas resmi PT Greenlab Indo Global. GreenLab sendiri sebagai laboratorium lingkungan hingga saat ini telah memiliki lebih dari 400 parameter. Adanya GreenLab tak lain sebagai pendukung operasional dari berbagai pekerjaan PT Environesia Global Saraya.

GreenLab Indonesia sendiri sebagai perusahaan di bidang laboratorium  lingkungan dan hygenitas industri yang  terdepan di antara yang terbaik di Indonesia. Untuk saat ini GreenLab melayani uji kualitas air, uji kualitas limbah air, uji kualitas udara, uji kualitas tanah, uji kualitas limbah padat, uji sedimentasi, uji mikrobiologi, uji hygenitas industri, uji Toxicity Characteristic Leaching Procedure (TCLP).

Keunggulan dari GreenLab yaitu; hasil laporan uji laboratorium terbit pada 10 hari kerja sejak sampel diterima. Di mana GreenLab telah terakreditas oleh KAN untuk ISO/IEC 17025:2017 dengan cakupan parameter yang luas. Tak hanya itu GreenLab juga telah terdaftar sebagai Laboratorium Lingkungan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia (KLHK) dan memenuhi persyaratan peraturan Kementerian Lingkungan Hidup S.1335/Setjen/SLK/STD.2/12/2019. (admin/dnx)

RKL-RPL: Salah Satu Unsur Amdal

environesia.co.id – Salah satu dokumen yang dikerjakan oleh konsultan lingkungan dimana termasuk unsur penting dari dokumen Amdal (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan), yaitu dokumen tentang pemantauan dan pengelolaan lingkungan kemdudian yang disebut dengan dokumen RKL-RPL (Rencana Pengelolaan Lingkungan- Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup). Dokumen tersebut wajib dilaporkan secara berkala dalam rentang waktu tertentu.

Dari Peraturan Pemerintah No 22 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perli N Du Ngan Dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, Rencana Pengelolaan Lingkungan yang selanjutnya disingkat dengan RKL adalah upaya penanganan dampak terhadap lingkungan hidup yang ditimbulkan akibat dari rencana usaha dan/atau kegiatan. Sedangkan Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup yang  selanjutnya disingkat dengan RPL adalah upaya pemantauan komponen lingkungan hidup yang terkena dampak akibat dari rencana usaha dan/atau kegiatan.

Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, bahwasanya RKL-RPL dan Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan (KA-ANDAL) merupakan bagian dari Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL). Berdasarkan PP No 22 Tahun 2021 Pasal 49 ayat (6) poin F angka 6 pula, bahwasanya pada  RKL-RPL wajib disampaikan secara berkala setiap 6 bulan sekali. Hal ini yang menandakan bahwasanya RKL-RPL merupakan dokumen yang sangat penting, khususnya bagi pemrakarsa kegiatan, usaha yang membutuhkan dokumen Amdal.

Adanya dokumen RKL-RPL sendiri bermaksud sebagai rencana pengelolaan dampak penting agar dampak yang ditimbulkan proyek dapat memenuhi ketentuan baku mutu lingkungan dan / atau meminimalisasi kerusakan lingkungan sehingga dapat menghindari kemungkinan timbulnya dampak penting yang akan dapat berkembang menjadi isu lingkungan atau isu sosial yang merugikan berbagai pihak yang berkepentingan.

Selain dari pada itu, RKL-RPL juga sebagai rencana pemantauan dampak penting guna mengetahui efektivitas hasil pengelolaan lingkungan sehingga dapat menjadi dasar evaluasi dan penyusunan rencana tindak lanjut untuk menyempurnakan pengelolaan lingkungan secara terus menerus. (admin/dnx)

PLTSA: dari Sampah Menjadi Energi

environesia.co.id – Isu tentang penumpukan limbah khususnya limbah domestik semakin menyita perhatian. Hal tersebut tak lepas dari dampak lingkungan hidup yang ditimbulkan dari menumpuknya limbah domestik tersebut atau yang kita kenal dengan istilah sampah tersebut. Salah satu jalan keluar untuk meminimalir dari dampak tersebut adalah pembangunan proyek PLTSA (Pembangkit Listrik Tenaga Sampah).

PLTSA sendiri merupakan pembangkit listrik termal dengan uap supercritical steam dan berbahan bakar sampah atau gas metana sampah. Sampah dan gas metana sampah dibakar menghasilkan panas yang memanaskan uap pada boiler steam supercritical.

Disadur dari indonesiabaik.id, Pemerintah Indonesia  melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), tengah membangun infrastruktur Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di 12 kota di Indonesia. Terhitung sejak 2019 hingga 2022 mendatang, mencatat, ada 12 Pembangkit Listrik Tenaga Sambah (PLTSa) yang dimana pada program tersebut menjadi salah satu jalan untuk menyelesaikan persoalan sampah di Indonesia.

Pada Peraturan Presiden No 18 Tahun 2016 tentang Percepatan Pembangunan Pembangkit Listrik Berbasis Sampah di Provinsi DKI Jakarta, Kota Tangerang, Kota Bandung, Kota Semarang, Kota Surakarta, Kota Surabaya dan Kota Makassar. Pada perpres tersebut menjelaskan bahwa PLTSa di Indonesia perlu dibangun dalam rangka mengubah sampah sebagai sumber energi dan meningkatkan kualitas lingkungan, serta untuk meningkatkan peran listrik berbasis energi baru terbarukan. Dapat dikatakan, memalalui Perpres itu pula, PLTSa juga dianggap sebagai alternatif energi baru dan terbarukan.

Walaupun oleh Pemerintah PLTSa dianggap sebagai energi baru dan terbarukan, teknologi ini tak lepas dari kelebihan dan kekurangan. Kelebihan dari adanya PLTSa salah satunya adalah mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil  seperti minyak bumi, gas alam dan batu bara. Sampah yang setiap terproduksi, menjadi bahan bakar yang sangat murah. Tak hanya itu mengolah sampah sebagai bahan bakar PLTSa, dapat mengurangi volume sampah domestik yang menumpuk di Tempat Pembuangan Sampah itu sendiri.

Dibalik kelebihan dari PLTSA, tak lepas juga dari kekurangan yang ada. Kekurangan tersebut seperti pada pengolahan PLTSa, dimana sampah tersebut dibakar juga akan menghasilkan emisi gas karbon dari pembakaran sampah tersebut. Hal ini, juga menjadi pekerjaan rumah baru bagaimana mengatasi polusi dari pembakaran sampah bahan bakar PLTSa tadi. Selain dari pada itu pembakaran sampah untuk PLTSA juga bertentangan dengan konsep 3R  (reduce, reuse, recycle). (admin/dnx)

ESIA (Environmental and Social Impact Assessment)

environesia.co.id – ESIA (Environmental and Social Impact Assessment) dalam padanannya merupakan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal)  yang diterbitkan oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN). Dapat dikatakan, bahwa ESIA merupakan Amdal dengan standar Internasional yang diterapkan oleh anggota IUCN yang terdiri dari berbagai lembaga pemerintahan dan lembaga non pemerintahan se dunia.

Tak berbeda dengan Amdal yang telah banyak kita mengenal, pada dokumen yang diterbitkan oleh iucn.org dikatakan bahwa implementasi ESIA sendiri juga merupakan proses menentukan dan mengevaluasi risiko dampak lingkungan dari suatu proyek pada tahap awal perencanaan. Dimana dalam dokumen ESIA tersebut sebagai panduan untuk melakukan analisis mengenai dampak lingkungan dan sosial serta untuk menyiapkan laporan ESIA secara berjangka itu sendiri.

Pada pelaksanaannya, ESIA berlaku untuk proyek yang telah diidentifikasi oleh penyaringan Sistem Manajemen Lingkungan dan Sosial atau dengan istilah Environmental and Social Management System (ESMS), yang dimana proyek tersebut berisiko tinggi atau sedang, dimana proyek tersebut memerlukan ESIA secara penuh atau sebagian.

ESIA sendiri memiliki ruang lingkup yang bergantung pada sifat, kompleksitas, dan signifikansi masalah yang telah teridentifikasi, sebagaimana ditetapkan oleh penyaringan ESMS. Pada ESIA yang berlaku secara penuh, ruang lingkup tersebut ditentukan oleh studi cangkupan yang melibatkan stake holder yang relevan untuk mengkonfirmasi risiko yang diidentifikasi oleh penyaringan ESMS, sebagaimana untuk menetapkan prioritas pada pemberlakuan ESIA dan untuk menentukan jenis penilaian yang diperlukan untuk ESIA.

Elemen-elemen kunci yang berlaku pada ESIA dimana menentukan apakah akan menerapkan ESIA secara penuh atau hanya diwajibkan ESIA secara parsial atau sebagian. Elemen tersebut antara lain; 1) Ringkasan non-teknis, 2) Deskripsi proyek, 3) Analisis kerangka kebijakan, hukum dan administrasi, 4) Identifikasi dan analisis pemangku kepentingan, 5) Dasar lingkungan dan sosial, 6) Penilaian dampak lingkungan dan sosial, 7) Analisis alternatif, 8) Environmental and social management plan atau rencana pengelolaan lingkungan dan sosial (ESMP), dan 9) Hasil konsultasi pemangku kepentingan.

Penerapan ESIA secara penuh, 9 elemen tersebut wajib dipenuhi, sedangkan untuk penerapan  ESIA parsial tidak membutuhkan banyak latar belakang dan data dasar sebagai ESIA lengkap. Untuk analisis kerangka kebijakan, hukum dan administrasi; dasar lingkungan dan sosial serta analisis alternatif tidak diperlukan dalam pemberlakuan ESIA parsial. (dnx/admin)

Environesia Berqurban, Kontribusi Untuk Masyarakat

environesia.co.id, Sleman – Pada perayaan Hari raya Idul Adha 10 Dzulhijjah 1442 H yang jatuh pada 20 Juli 2021, dimana Environesia Company Group berkesempatan menyalurkan hewan kurban berupa satu ekor sapi melalui Masjid Al-Huda Karangasem, Sukoharjo, Ngaglik, Kabupaten Sleman. Penyembelihan hewan kurban Environesia tersebut dilaksanakan oleh Panitia Kurban Masjid Al-Huda dimana disaksikan langsung oleh CEO (Chief Executive Officer) Environesia Company Group, Saprian. S.T, M.Sc  pada Rabu pagi (21/7).

“Bagi kami Di Environesia Company Group, bisnis tidak melulu tentang omzet, profit dan pencapaian-pencapaian bersifat duniawi semata. Memperbaiki hubungan dengan Sang Pencipta adalah salah satu cara kami meraih dan mempertahankan prestasi selama ini.” Pungkas Saprian.

Tak hanya itu menurut CEO Environesia Company Group tersebut, bahwa dalam kondisi yang penuh ketidakpastian ini, Alhamdulillah Environesia Company Group kembali turut merayakan ibadah qurban. Semoga kiranya pandemi segera berlalu dan kita dapat memberikan kontribusi lebih kepada masyarakat sekitar.

Turut sertanya Environesia Company Group dalam perayaan Hari Raya Idul Adha, sebagai salah satu langkah dalam Corporate Social Responsibility atau CSR. Kegiatan CSR tersebut sebagai usaha yang dilakukan Environesia sebagai tanggung jawab korporat untuk berkontribusi dalam pengembangan kesejahteraan masyarakat. Diharapkan sedikit banyak yang telah dilakukan oleh Environesia dapat memberikan manfaat dan keberkahan bagi segenap masyarakat.

Environesia sendiri dalam langkah CSR memiliki empat komitmen, antara lain; patuh terhadap hukum, meningkatkan kepuasan pelanggan, peduli lingkungan dan kontribusi pada masyarakat. Pada kegiatan kurban kali ini, Environesia melaksanakan komitmen akan kontribusa pada masyarakat.

Sebagai konsultan lingkungan Environesia selalu berupaya hadir di tengah masyarakat, dimana saling memberikan manfaat, baik dari lingkup terkecil hingga bagi nusa dan bangsa Indonesia. Sehingga dapat terwujud Environesia sebagai konsultan terdepan di Indonesia yang selalu peduli kepada masyarakat juga. (admin/dnx)

DPLH, Pernah Dengar?

environesia.co.id – Dokumen Pengelolaan Lingkungan Hidup atau DPLH adalah dokumen yang memuat pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup yang dikenakan bagi usaha dan/atau kegiatan yang sudah beroperasi dan memiliki izin usaha, tetapi belum memiliki UKL-UPL. Berdasarkan Peraturan Pemerintah No 22 tahun 2021 memuat pengertian DPLH adalah dokumen evaluasi dampak tidak penting pada Lingkungan Hidup terhadap Usaha dan/atau Kegiatan ,yang terah berjalan untuk digunakan sebagai instrumen perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

Jenis usaha yang wajib memiliki DPLH adalah sesuai dengan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 4 Tahun 2012 yang mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021 tentang Daftar Usaha dan/atau Kegiatan yang Wajib Memiliki Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup, Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup atau Surat Pernyataan Kesanggupan Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan Hidup.

Di awal tahun 2017, Pemerintah melakukan pembinaan kembali dan himbauan kepada usaha/kegiatan yang sudah eksisting tetapi belum memiliki dokumen UKL-UPL untuk membuat dokumen lingkungan hidup berupa DPLH. Hal tersebut ditandai dengan diterbitkannya dua Surat Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) tentang penyusunan DELH/DPLH, yaitu :

1. S.541/MENLHK/SETJEN/PLA.4/12/2016 tentang Perintah membuat DELH/DPLH untuk gedung Pemerintah/Pemerintah Daerah, gedung milik TNI, Polri, Kementerian dan non Kementerian, tanggal 28 Desember 2016. dan

2. SE.7/MENLHK/SETJEN/PLA.4/12/2016 tentang Kewajiban Memiliki Dokumen Lingkungan Hidup Bagi Orang Perseorangan Atau Badan Usaha Yang Telah Memiliki Izin Usaha dan/atau Kegiatan, tanggal 28 Desember 2016 yang ditujukan kepada kegiatan swasta yang sudah eksisting.

Sebagai salah satu dokumen lingkungan yang penting, Environesia sebagai konsultan lingkungan dapat membantu berbagai pihak dalam penyusunan DPLH, baik untuk Pemerintahan, BUMN maupun kegiatan yang dilakukan oleh pihak swasta. Tak hanya itu, layanan penyusunan DPLH maupun dokumen lingkungan lain tersebut juga dapat dilayani di seluruh Indonesia. (admin/dnx)

Samudera di Dunia Bertambah Menjadi 5

environesia.co.id – Pada peringatan Hari Laut Sedunia, 8 Juni 2021, National Geographic secara resmi memperkenalkan satu samudra yang terbaru, yaitu Samudra Selatan atau Southern Ocean. Oleh karena itu kini Dunia memiliki 5 Samudra dimana sebelumnya pada tahun 1915, National Geographic mulai membuat peta dimana telah mengenali empat samudra: Samudra Atlantik, Pasifik, Hindia, dan Arktik.

Para kartografer Nat Geo  pada Hari Laut Sedunia mengatakan, bahwa arus deras yang mengelilingi Antartika menjadikan perairan di sana tetap berbeda dan layak menyandang nama sendiri. Kartografer atau ahli pemetaan tersebut memberikan julukan pada wilayah perairan tersebut sebagai Samudra Selatan (Southern Ocean).

Dilansir dari nationalgeographic.grid.id  “Samudra Selatan telah lama diakui oleh para ilmuwan, tetapi karena tidak pernah ada kesepakatan internasional, kita tidak pernah secara resmi mengakuinya,” ungkap Alex Tait seorang ahli geografi di National Geographic Society.

Sebelumnya para ahli geografi berdebat tentang status perairan di sekitar Antarktika yang memiliki karakteristik unik dimana dipertanyakan apakah layak untuk mendapatkan nama mereka sendiri. Atau apakah perairan itu hanya lebih dingin, tapi masih merupakan bagian dari selatan dari Samudra Pasifik, Atlantik, dan Hindia.

Sebelum menetapkan Samudra Selatan ini sebagai samudra baru, telah lama para ahli pemetaan dan komite kebijakan pemetaan National Geographic Society telah telah mempertimbangkan kemungkinan perubahan tersebut. Mereka mengamati bahwa banyak dari para ilmuwan dan pers yang menggunakan istilah Samudra Selatan, dan hal ini menjadi petimbangan juga untuk membuat perubahan pada peta samudra di dunia.

Perubahan tersebut, menurut Alex Tait, sejalan dengan inisiatif National Geographic Society untuk melestarikan lautan dunia. Penetapan samudra Selatan sebagai samudra baru ini diharapkan dapat membangun kesadaran publik pada suatu wilayah yang secara khusus membutuhkan sorotan konservasi.

Menurut Enric Sala yang merupakan Explorer in Residence National Geographic Samudra Selatan tersebut mencakup ekosistem laut yang unik dan rapuh dimana merupakan rumah bagi kehidupan laut yang menakjubkan seperti paus, penguin, dan anjing laut.

Tak hanya itu, Samudra Selatan juga memiliki efek ekologis di tempat lain. Paus bungkuk, misalnya, memakan krill di Antarktika dan bermigrasi jauh ke utara menuju musim dingin di ekosistem yang sangat berbeda di Amerika Selatan dan Tengah. Beberapa burung laut bermigrasi masuk dan keluar juga.

Penetapan Samudra Selatan sebagai samudra baru oleh National Geographic Society, hal tersebut merupakan usaha untuk menarik perhatian masyarakat pada eksistensi samudera tersebut. National Geographic Society berharap hal ini dapat mempromosikan upaya konservasi di wilayah tersebut.

Tait mengatakan kebijakan baru National Geographic ini akan berdampak pada bagaimana anak-anak yang menggunakan peta di sekolah. Juga pada bagaimana mereka belajar melihat dunia.

“Saya pikir salah satu dampak terbesar adalah pada pendidikan,” katanya. “Para murid mempelajari informasi tentang dunia laut melalui samudra apa yang Anda pelajari. Jika Anda tidak memasukkan Samudra Selatan maka Anda tidak mempelajari itu secara spesifik dan betapa pentingnya itu.” (admin/dnx)

From : nationalgeographic.grid.id  

Inovasi Fashion dari Pisang yang Ramah Lingkungan

environesia.co.id – Swiss dimana merupakan negara dengan kualitas lingkungan hidup salah satu terbaik di dunia. Dimana di negara tersebut, QWSTION yang merupakan perusahaan di bidang fashion mengeluarkan produk yang ramah lingkungan yang terbuat dari serat pohon pisang. QWSTION sendiri menyebutkan produk mereka dengan nama Bananatex.

Penciptaan kain Bananatex bermula pada tahun 2018, dimana QWSTION bekerja sama dengan para spesialis benang di Taipei, Taiwan. Setelah penelitian dan pengujian selama tiga tahun, serat pohon pisang dipilih untuk dijadiikan bahan baku kain.

Pada situs resmi QWSTION mengungkapkan “Setelah melakukan penelitian dan pengujian selama tiga tahun, kami pun memilih serat pohon pisang untuk dijadiikan bahan baku kain Bananatex. Kami sengaja memilih serat pohon pisangkarena selain mudah dibudidayakan, tumbuhan tersebut juga menghasilkan serat yang superkuat namun ringan dan fleksibel.”

Tak hanya itu, alternatif yang dikemukanan QWSTION  pada situs resminya mengungkapkan bahwasannya bananatex merupakan produk tahan air pertama di dunia yang ramah akan lingkungan dimana berbahan dari serat pisang. Hal ini menjadi poin penting karena selama ini yang kita kenal bahwa kain tahan air banyak didominasi oleh kain-kain berbahan yang memiliki kandungan plastik sedangkan serat pisang memiliki lapisan lilin alami sebagai pelindung dari air. Kelebihan serat pisang karena mudah dibudidayakan dan juga menghasilkan serat yang superkuat, ringan nan fleksibel

Serat pohon pisang yang digunakan oleh QWSTION sebagai bahan Bananatex merupakan serat pohon pisang yang berasal dari pohon pisang jenis abaka. Pohon pisang abaka dapat menghasilkan serat yang panjang, kuat, dan ringan sehingga cocok untuk dijadikan bahan baku kain Bananatex. QWSTION bekerja sama dengan para petani lokal dari Filipina untuk memperoleh bahan serat pohon pisang abaka yang memiliki kualitas terbaik.

Terlebih dalam keterangannya, bahwa pohon pisang abaka sebagai bahan baku Bananatex merupakan pohon pisang organik. Hal tersebut disebabkan karena dalam proses penanamannya tanpa menggunakan pestisida dan pupuk sintetis. Tak hanya itu, dalam proses penanaman pisang abaka ini juga tidak banyak menggunakan air. Oleh karena itu QWSTION dengan percaya diri bahwa inovasi yang mereka ciptakan benar-benar organik dan ramah lingkungan.

QWSTION berharap bahwa Bananatex dapat menjadi inspirasi bagi  perusahaan tekstil lain untuk berinovasi mengikuti jejak mereka dalam menciptakan produk tekstil berkelanjutan yang minim akan penggunaan minyak bumi dan material sintetis lain. Mereka juga berharap bahwa Bananatex dapat membuka kesadaran para penikmat fesyen terhadap penggunaanproduk tekstil yang ramah lingkungan. (admin/dnx)

Ref: qwstion.com & greeners.co

The Environmental Performance Indeks

Indikator EPI

environesia.co.id – The Environmental Performance Indeks (EPI) atau Indeks Kinerja Lingkungan merupakan metode berbasis numerik dan kuantitatif untuk mengukur kinerja lingkungan pada kebijakan suatu negara yang diterbitkan pada tahun 2002. Sebelumnya, kinerja lingkungan diukur menggunakan Environmental Sustainability Index (ESI) antara tahun 1999 dan 2005. Baik EPI mau pun ESI dikembangkan oleh Universitas Yale dan Universitas Columbia bekerja sama dengan yang World Economic Forum dan Joint Research Center dari Komisi Eropa.

EPI menggunakan 32 indikator di 11 kategori untuk mengukur bagaimana dan seberapa kinerja lingkungan pada 180 negara di Dunia. Indikator yang digunakan oleh EPI sebagai penyedia untuk mengidentifikasi masalah, menentukan target, melacak tren, memahami hasil dan mengkaji hasil atau praktek kebijakan publik yang berpengaruh pada lingkungan hidup.

Pada tahun 2020, Denmark menempati posisi pertama perolehan skor EPI di angka 82.5 disusul peringkat 2 oleh Luxemburg dengan skor 82.3, peringkat 3 Swiss dengan skor EPI terdapat di angka 81.5, kemudian peringkat 4 oleh Inggris dengan perolehan skor 81.3 dan di posisi peringkat 5 oleh Perancis dengan skor 80.0. Sebelumnya Swiss merupakan negara yang paling sering mencatat peroleh peringkat 1 perolehan skor EPI, antara lain di tahun 2008, 2012, 2014 dan 2018.

Indonesia sendiri pada tahun 2020 menempati peringkat 116 dengan skor EPI di angka 37.8 dan menempati peringkat 10 untuk zona Asia Pasifik. Hasil tersebut merupakan pekerjaan rumah bersama bagi pemerintah dan masyarakat Indonesia agar lebih giat lagi dalam berpartisipasi untuk menjaga dan melestarikan lingkungan hidup khususnya di Indonesia. (admin/dnx)