Pemantauan Lingkungan Kerja di Konsultan Lingkungan Terdepan

environesia.co.id, Sleman – Sebagai upaya mewujudkan perusahaan konsultan lingkunga terdepan, yang senantiasa menciptakan lingkungan kerja yang baik PT Environesia Global Saraya telah melakukan Pemantauan Lingkungan Kerja di lingkungan kerja Grha Environesia, khususnya ruang kerja di kantor Environesia pada Kamis (14/10).

Pada pelaksanaan agenda tersebut dilakukan dengan bekerjasama dengan PT Greenlab Indo Global atau dikenal dengan GreenLab Indonesia sebagai pelaksana pengujian berbagai aspek pada lingkungan kerja tersebut.

Pemantauan Lingkungan Kerja sendiri dilakukan untuk mewujudkan tempat kerja yang aman, sehat, dan nyaman berdasarkan Peraturan Menteri Ketenagakerjaan (Permenaker) RI No 5 Tahun 2018 tentang K3 Lingkungan Kerja.

Dari Pemantauan Lingkungan kerja tersebut menunjukan bahwa lingkungan kerja di PT Environesia Global Saraya telah sesuai dengan regulasi yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Republik Indonesia melalui Permenaker RI No 5 Tahun 2018 tentang K3 Lingkungan Kerjaa. Angka normal yang telah ditetapkan untuk masing-masing kriteri seperti suhu nomal ruang kerja berada di angka 23-26o C, sedangkan untuk kelembapan ruang normal berada di angka 40-60% RH dan untuk pencahayaan pada ruang kerja administrasi dengan angka minimal 300 Lux.

Dari sampling atau pengambilan sampel serta pengujian yang dilakukan menunjukan hasil yang telah diterbitkan pada Selasa (2/10) oleh GreenLab sebagai berikut: Untuk ruang adminitrasi general menunjukan angka suhu ruang 25,7o C, sedangkan untuk kelembapan ruang sendiri terdapat di angka 50,5% RH dan untuk pencahayaan sebesar 372 Lux.

Untuk ruang Operational Consultant Departmen (OCD) menunjukan angka suhu ruang 25,3o C, sedangkan untuk kelembapan ruang menunjukan angka 51,1 % RH dan pada pencahayaan sebesar 326 Lux.

Pada Ruangan Marketing & Development Services (MDS) untuk suhu ruang berada di angka 25,3o C, sedangkan untuk kelembapan ruang 46,7% RH dan pencahayaan ruang menunjukan angka 375 Lux.

Serta pada ruang kerja QE-HESS (Quality Excelence – Health Environment Safety & Security) menunjukan suhu ruang kerja tersebut di angka 25,4o C, sedangkan untuk kelembapan ruang berada di angka 49% RH dan pada pencahyaan ruang berada di angka 365 Lux.

Berdasarkan regulasi yang sama, untuk kebisingan ruang kerja pada paparan 8 Jam secara normal  maksimal di angka 85 dBA. Dari hasil dari sampling dan pengujian yang dilakukan menunjukan bahwa seluruh ruangan berada di bawah angka 60 dBA. Artinya untuk kebisingan ruang kerja telah sesuai dengan peraturan yang berlaku. (admin/dnx)

Pencahayaan pada Lingkungan Kerja

environesia.co.id – Penerangan pada lingkungan kerja dinilai sangat penting. Melalui laman resmi safetysign.co.id dalam jurnal ILO yang berjudul “Improving Working Condition and Productivity in the Garment Industry”, menunjukkan bahwa perbaikan penerangan di tempat kerja dapat meningkatkan produktivitas (10%) dan pengurangan kesalahan kerja (30%).

Pencahayaan yang cukup dinilai efektif dalam mendorong prokdutivitas dan kesehatan mata pekerja. Tak hanya itu, pencahayaan juga sangat mempengaruhi mood atau perasaan pekerjaan dalam menngerjakan tugasnya.

Pada laporan yang diterbitkan oleh ILO juga yang berjudul “Physical Hazards Indoor Workplace Lighting”, terdapat beberapa ketentuan penerangan yang baik di lingkungan kerja. Antara lain

  1. Manfaatkan pencahayaan siang hari di tempat kerja.
  2. Pilih latar belakang visual yang sesuai (dinding, langit-langit, dll.)
  3. Pilih tempat kerja terbaik berdasarkan sumber cahaya dan hindari silau.
  4. Gunakan pencahayaan tambahan yang paling sesuai.
  5. Hindari bayangan.
  6. Lakukan pembersihan dan pemeliharaan lampu dan jendela secara rutin.

Tentunya, dalam upaya memenuhi nilai ambang batas pencahayaan, perlu dicermati aspek hemat energi dengan menentukan prioritas penggunaan lampu sebagai pencahayaan ruang kerja tersebut. Oleh karena itu, menentukan sumber pencahayaan tidak hanya terpacu dengan sumber cahaya lampu listrik akan tetapi dapat juga memanfaatkan sumber pencahayaan alami  seperti sinar matahari.

Pencahayaan ruang kerja yang tidak proporsional baik berefek dari intensitas penerangan yang kurang maupun berlebih terhadap kesehatan dan keselamatan, seperti kelelahan mata dengan ditandai iritasi pada mata, penglihatan ganda, daya akomodasi menurun, sakit kepala, ketajaman melihat menurun, kepekaan kontras dan kecepatan persepsi menurun. Kemudian kelelahan pada syaraf yang ditandai organ tybuh yang lamban, gangguan pada fungsi motorik dan psikologis.

Selain dari pada itu, khususnya kelebihan cahaya akan menimbulkan kesilauan (glare) di mana cahaya yang berlebihan untuk jangkauan penglihatan, dapat menyebabkan ketidaknyamanan, gangguan, kelelahan mata atau gangguan penglihatan. Ada pun tiga jenis kesilauan yang mengakibatkan gangguan penglihatan, yakni disability glare, discomfort glare, dan reflected glare.

Selebihnya juga akan timbul masalah kesehatan lain seperti kelelahan kerja (fatigue), stres, kelelahan mental (sakit kepala, menurunnya daya konsentrasi dan kecepatan berpikir). Dan risiko kecelakaan kerja akan lebih tinggi.

Pencahayaan dalam ruang kerja telah di atur dalam regulasi yang tertuang dalam seblumnya dalam  Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 1405/Menkes/SK/XI/2002 kemudian disempurnakan kembali melalui Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No 70 tahun 2016 tentang Standar dan Persyaratan Kesehatan Lingkungan Kerja Industri. (admin/dnx)