Inspeksi Management Walkthrough (MWT) pada Konsultan Lingkungan

environesia.co.id, Sleman – Sebagai konsultan lingkungan yang memperhatikan aspek Health, Environment, Safety dan Security (HESS), PT Environesia Global Saraya menyelenggarakan Inspeksi Management Walkthrough (MWT) yang dilakukan oleh Staff QE-HESS (Quality Exellences – Health, Environment, Safety dan Security) Indri Sri Cahyani dan disupervisi langsung oleh Direktur Saprian, S.T.,M.Sc. di Grha Environesia untuk periode Semester II.

Sebagai Direktur Environesia, Saprian mengungkapkan bahwa Management Walkthrough (MWT) tersebut untuk memastikan bahwa aktifitas operasional di Environesia tetap memiliki kepatuhan pada cara kerja aman dan handal. Tak hanya itu Direktur juga mengapresiasi kepada Tim QE-HESS yang telah dapat mengagendakan Inspeksi MWT dengan baik dan sesuai prosedur yang telah ditetapkan.

Adanya Inspeksi Management Walkthrough (MWT) bertujuan untuk mengetahui komitmen dari Top Manajemen terhadap implementasi aspek Health, Environment, Safety dan Security yang dilaksanakan di perusahaan khususnya di lingkungan kerja PT Environesia Global Saraya.

Inspeksi MWT dilakukan secara berkala dilakukan Top Management karena sebagai realisasi komitmen dan keteladanan Perusahaan dalam hal ini PT Environesia Global Saraya untuk meningkatkan kepedulian dan kesadaran terhadap aspek HESS tersebut.

Indri Sri Cahyani atau yang akrab disapa Indri mengungkapkan bahwa manfaat dengan menjalankan MWT, semua pihak yang terkait dalam aktivitas kerja di Perusahaan dapat menumbuhkan kewaspadaan terhadap risiko dan ancaman HESS bagi perusahaan. Tak hanya itu adanya MWT dapat mendapat masukan langsung dari bawahan terkait permsalahan HESS di lapangan, serta MWT juga bermanfaat untuk membantu mewujudkan komitmen perusahaan pada aspek HESS kepada mitra kerja. (admin/dnx)

Sekilas JSA – Job Safety Analysis

environesia.co.id – Pekerjaan di konsultan lingkungan khususnya pekerjaan di lapangan merupakan pekerjaan yang berpotensi menimbulkan kecelakaan kerja. Langkah preventif dalam upaya meminimalisir dampak dari kecelakaan kerja tersebut dengan menerapkan JSA (Job Safety Analysis). Job Safety Analysis sendiri merupakan teknik manajemen keselamatan yang berfokus pada identifikasi bahaya dan pengendalian bahaya yang berhubungan dengan rangkaian pekerjaan atau tugas yang hendak dilakukan. JSA sendiri tidak hanya meminimalisir kecelakaan pada pekerja, tetapi juga mencegah adanya kerusakan pada peralatan kerja.

Melalui laman safetysign.co.id, menurut National Safety Council (NSC) dan ahli K3 lainnya, JSA melibatkan tiga unsur penting, yakni: Langkah-langkah pekerjaan secara spesifik, bahaya yang terdapat pada setiap langkah pekerjaan dan pengendalian berupa prosedur kerja aman untuk mengurangi atau bahkan menghilangkan bahaya pada setiap langkah pekerjaan.

Penerapan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) di berbagai lokasi kerja atau instansi merupakan hal yang sangat penting demi lingkungan kerja yang aman dan meminimalisir angka terjadinya kecelakaan kerja. Penerapan tersebut dengan cara membentuk sistem kerja yang sistematis, prosedur yang tepat dan mengupayakan untuk memberikan pelatihan pada setiap pekerja dengan baik dan benar. Hal tersebut jika dilakukan dapat mencegah akan kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja.

Langkah tepat dalam menentukan prosedur adalah dengan cara melakukan analisis bahaya di lingkungan kerja. Penanggung jawab atau dalam hal ini supervisor dapat memanfaatkan hasil analisis untuk menyusun prosedur dalam penerapan JSA. Nantinya, akan memberikan pengaruh pada dampak berkurangnya jumlah cedera dan penyakit akibat kerja, absensi pekerja, biaya kompensasi pekerja, hingga dapat meningkatkan produktivitas pekerjaan.

Nyaris seluruh jenis pekerjaan memerlukan penerapan JSA. Akan tetapi terdapat beberapa faktor yang perlu diperhatikan untuk menentukan pekerjaan sebagai bahan analisis, seperti: pekerjaan yang bisa menyebabkan terjadinya kecelakaan kerja atau PAK, pekerjaan yang berpotensi menyebabkan cedera serius atau PAK yang mematikan bahkan untuk pekerjaan yang tidak ada riwayat kecelakaan sebelumnya, pekerjaan dimana satu kelalaian kecil yang dilakukan pekerja dapat menyebabkan kecelakaan fatal atau cedera serius, setiap pekerjaan baru atau pekerjaan yang telah mengalami perubahan proses dan prosedur kerja dan pekerjaan yang cukup kompleks dan membutuhkan instruksi tertulis . (admin/dnx)

ref: safetysign.co.id www.ruanghse.com www.bumn.info

Laksanakan ERP, Environesia Siap Tanggap Darurat

environesia.co.id, Sleman – Sebagai upaya penerapan Sistem Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja (SMK3) pada perusahaan Konsultan Lingkungan, PT Environesia Global Saraya menyelenggarakan Emergency Response Plan di lingkungan kerja Environesia Company Group pada Rabu dan Kamis (3-4/11). Kegiatan Emergency Response Plan (ERP) atau yang dikenal dengan Simulasi Tanggap Darurat tersebut yang melibatkan seluruh crew dari PT Environesia Global Saraya, PT Greenlab Indo Global dan PT Bikin Indonesia Berdaya yang dilaksanakan di Grha Environesia. Kegiatan tersebut dikoordinir oleh Department QE-HESS (Quality Exelences – Health Environment Safety & Security) dari PT Environesia Global Saraya dan Divisi QE-HSE (Quality Exelences – Health Safety Environment) PT Greenlab Indo Global.

ERP pada tahun ini dilakukan dengan simulasi pada tiga kejadian, seperti  kejadian gempa bumi atau gunung meletus, kejadian kecelakaan pada lingkungan kerja seperti kejadian pingsan dan keracunan serta kejadian kebarakan di lingkungan kerja. Pada simulasi tersebut dilakukan oleh internal Environesia Company Group, dan khusus untuk simulasi kebakaran dipandu langsung oleh Tim Pemadam Kebakaran Kabupaten Sleman.

Ucapan apresiasi diungkapkan oleh Tri Widodo Purnomo, S.Sos. sebagai perwakilan dari Tim Pemadam Kebakaran  (Damkar) Sleman atas kesempatan yang diberikan oleh Environesia kepada Tim Damkar Sleman sebagai pemandu agenda kesiapsiagaan tanggap darurat khususnya kejadian resiko kebakaran. “Terimakasih sekali PT Environesia Global Saraya, yang telah mengagendakan secara rutin, sehingga rasa kepedulian dari ancaman yang kita hadapi secara nyata bisa lebih siap untuk menghadapinya.” Ungkap Widodo.

Syahna Febrianastuti sebagai penanggung jawab program ERP menyampaikan bahwasanya ERP sendiri merupakan  kegiatan yang dilakukan oleh Top Management dan seluruh karyawan di lingkungan kerja Environesia Company Group yang bertujuan untuk mengantisipasi akan datangnya keadaan darurat. Harapannya jika terjadi suatu kondisi yang tidak diinginkan, seluruh orang di lingkungan kerja Environesia dapat mengetahui apa saja yang harus dilakukan jika terjadi keadaan darurat.

Tak hanya itu, Syahna sebagai Staff Department QE-HESS PT Environesia Global Saraya mengungkapakan bahwa kegiatan ERP tersebut bertujuan untuk menyediakan informasi yang relevan dan pelatihan terakait dengan kesiapsiagaan dan tanggap darurat. Kemudian utuk membimbing setiap individu yang berada dalam situasi kecelakaan atau keadaan tanggap darurat guna mencegah dan meminimalkan cedera, kerusakan aset dan kerugian meterial. Selanjutnya sebagai pencegahan atau meminimalisir dampak lingkungan akibat kecelakaan atau keadaan darurat yang terjadi. Dan yang terakhir, sebagai tinjauan dan revisi secara periodik proses dan tindakan tanggap darurat yang telah direncanakan khususnya setelah terjadi keadaan darurat atau setelah pengujian.

Andi Wim Ansharullah, S.T, M.Sc. sebagai Manager QE-HESS mengungkapkan bahwasanya Emergency Response Plan sebagai antisipasi bencana alam dan berbagai potensi kecelakaan kerja. Seperti yang telah banyak kita ketahui, bahwasanya Indonesia secara geografis terletak di cincin api atau ring of fire. Sedangkan Jogja sendiri merupakan lokasi yang rawan akan bencana, seperti adanya gunung merapi, patahan opak, potensi tsunami dari laut selatan. Oleh karena itu sangat penting rasanya mempersiapkan untuk tanggap akan berbagai situasi seperti masyarakat Jepang. Terlebih, Environesia telah tersertifikasi ISO:45001 tentang sistem Manajemen K3 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja), dimana salah satu klausulnya tentang bagaimana manajemen tanggap darurat. (admin/dnx)

CHSE: Upaya untuk Pariwisata Berkelanjutan

environesia.co.id – Upaya pemerintah dalam meningkatkan kualitas Pariwisata di Indonesia, Kementerian Pariwisata dan Eknomoni Kreatif menerbitkan program sertifikasi CHSE (Clean, Health, Safety & Environment). Sertifikasi CHSE tersebut merupakan sertifikasi Kebersihan, Kesehatan, Keselamatan, dan Kelestarian Lingkungan kepada usaha pariwisata, usaha/fasilitas lain terkait, lingkungan masyarakat, dan destinasi pariwisata.

Sertifikasi CHSE sendiri diterbitkan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif pada bulan Juli 2020 yang lalu.  Di mana dalam tujuannya Sertifikasi CHSE berfungsi sebagai jaminan kepada wisatawan dan masyarakat bahwa produk dan pelayanan yang diberikan sudah memenuhi protokol kebersihan, kesehatan, keselamatan, dan kelestarian lingkungan dalam industri pariwisata.

Disadur langsung dari laman chse.kemenparekraf.go.id, ada pun jenis usaha yang memerlukan sertifikasi CHSE itu sendiri antara lain seperti; usaha kawasan pariwisata, usaha jasa transportasi wisata, usaha hotel, homestay/pondok wisata, usaha restoran, usaha rumah makan, MICE dan usaha pariwisata lain sesuai kebutuhan perkembangan dan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Usaha atau fasilitas terkait pariwisata yang dimaksud tersebut adalah Pusat Informasi Pariwisata, tempat penjualan cinderamata dan oleh-oleh, toilet umum, dan usaha/fasilitas lain terkait pariwisata lain sesuai kebutuhan perkembangan dan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Tahapan dalam proses pemberian sertifikat CHSE pada usaha pariwisata, usaha/fasilitas lain terkait, lingkungan masyarakat, dan destinasi pariwisata, melalui Tahap Penilaian Mandiri, Tahap Deklarasi Mandiri, Tahap Penilaian dan Tahap Pemberian Sertifikat. Informasi terkait CHSE secara lengkap dapat mengunjungi laman resmi chse.kemenparekraf.go.id. (admin/dnx)