Ciptagelar, Ketahanan Pangan Berbasis Local Wisdom

environesia.co.id – Hari Pangan se Dunia tak jauh dari pembahasan tentang ketahanan pangan bagi masyarakat. Oleh karena itu rasanya perlu untuk kita melihat sejenak bagaimana ketahanan pangan yang diwujudkan dengan pendekatan berbasiskan local wisdom di Kasepuhan Ciptagelar.

Informasi dari laman resminya, yang dimaksud dengan Kasepuhan Ciptagelar sendiri merupakan  masyarakat hukum adat yang berada di kawasan pedalaman Gunung Halimun-Salak. Istilah kasepuhan berasal dari bahasa Sunda, yang secara umum artinya adalah mereka yang dituakan.

Berlokasi di  wilayah dusun Sukamulya, Desa Sirnaresmi, kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat. Pencaharian seluruh warga Kasepuhan Ciptagelar bertani. Semuanya menanam padi di sawah dan huma, menanam palawija di kebun, serta beternak ikan di kolam.

Keyakinan masyarakat Ciptagelar terhadap alam dan penciptanya mereka terapkan dalam sistem pertanian. Sistem bertani di ladang dan sawah tak pernah menggunakan pupuk kimia, hanya mengandalkan pupuk organik dan mengikuti pola alam.

Masyarakat Kasepuhan Ciptagelar tetap setia menggunakan bibit padi lokal yang dipercaya dari datang dari leluhur mereka, dan menolak menggunakan bibit dari luar. Dari lama lipi.go.id diungkapkan bahwa terdapat beberapa alasan Kasepuhan Ciptagelar terus mempertahankan bibit lokal antara lain: upacara adat yang mengharuskan menggunakan padi lokal,  padi jenis unggul yang dianjurkan pemerintah tidak cocok dengan keadaan geografis di Kasepuhan Ciptagelar, padi lokal yang di sakralkan oleh masyarakat Ciptagelar berbatang panjang sehingga mudah di-etem (ani-ani), serta untuk melestarikan adat leluhur.

Panen padi bagi masyarakat Ciptagelar hanya berlangsung satu tahun sekali, namun tidak pernah kekurangan nasi. Masyarakat adat Kasepuhan Ciptagelar, menganggap padi bukan sekadar komoditas pangan untuk konsumsi sehari-hari, melainkan sebagai simbol dari sebuah kehidupan.

Nilai penghormatan yang dipegang teguh warga Ciptagelar adalah memandang beras sebagai benda sakral. Hasil panen, baik dalam bentuk padi, gabah, maupun beras, dilarang dijual. Memasak nasi pun tak boleh menggunakan alat modern seperti ‘magic jar.’

Adapun upacara-upacara adat yang diselenggarakan oleh masyarakat Ciptagelar sepert: upacara sapang jadian paré yaitu syukuran penanaman padi ketika benih mulai tumbuh, biasanya satu pekan setelah penanaman; kemudian terdapat upacara paré nyiram yang merupakan syukuran saat padi mulai tumbuh subur; selain itu terdapat juga upacara mapag pare beukah yang merupakan syukuran saat padi siap dipanen; serta upacara mipit paré yang merupakan syukuran pascapanen.

Selain dari pada itu dilakukan upacara ngayaran yang merupakan syukuran besar ketika hasil panen sudah bisa dikonsumsi, agenda upacara tidak hanya syukuran, melainkan terdapat pembahasan persiapan acara seren taun; upacara seren taun: acara puncak dari seluruh rangkaian proses penanaman hingga panen, ritual agung yang dijadikan upacara pamungkas.

Ketersediaan pangan beras yang dijadikan stok disimpan di leuit, lumbung padi. Leuit dibangun di dekat rumah masyarakat, berukuran rata-rata 4 x 5 meter. Masing-masing rumah biasanya memiliki dua leuit yang mampu menampung beras sebanyak 2.462,4 kg (Khomsan dkk., 2014). Dengan kuantitas sebanyak itu, masyakarat Kasepuhan Ciptagelar jarang sekali mengalami krisis atau kekurangan pangan. Bisa dibayangkan, masa panen hanya setahun sekali, tetapi ketersediaannya bisa untuk tiga tahun. (admin/dnx)

lipi.go.id bappeda.jabar.go.id vice.com

Recommended Posts