Bulan Juni, Aksi Environesia dari Sumetera hingga Nusa Tenggara

environesia.co.id – PT Environesia Global Saraya yang merupakan konsultan lingkungan pada bulan Juni 2021 ini telah menjalankan beberapa proyek yang telah ditandatangani. Konsultan lingkungan yang memiliki jangkauan layanan se Indonesia ini telah memasuki beberapa progres pekerjaan di berbagai lokasi, antara lain; Kutoarjo Jawa Tengah, Mamuju Sulawesi Barat, Bima Nusa Tenggara Barat, Lubuklinggau Sumatera Barat dan Lamandau Kalimantan Tengah.

Untuk pekerjaan di Kutoarjo tepatnya di Kabupaten Purworejo Provinsi Jawa Tengah tersebut dimana merupakan Proyek Penyusunan Dokumen Lingkungan pada Rencana Pembangunan Terminal B di Kutoarjo, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Pada bulan Juni ini telah dilaksanakan survey lokasi perdana pada proyek terminal tersebut.

Kemudian pada proyek selanjutnya di Mamuju, Sulawesi Barat. Pada bulan Juni ini, Environesia telah melakukan survey lokasi pertama untuk Proyek Penyusunan Dokumen Lingkungan pada Pembangunan Ruas Jalan Salubatu – Bonehau – Kalumpang – Batuisi – Batas Toraja Utara, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat. Jika kita ketahui sebelumnya pada bulan Januari tahun ini Mamuju dilanda gempa bumi dan hingga saat ini masih dilakukan pemulihan dan pembangunan kembali di Kota Mamuju.

Sedangkan di Bima Nusa Tenggara Barat, Environesia telah melakukan sampling lingkungan di sekitar Pelabuhan Penyebrangan Sape, Bima. Dimana pada proyek ini PT PT Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (ASDP) “Indonesia Ferry” (Persero) sebagai pemilik proyek, mempercayakan Environesia sebagai konsultan lingkungan pada Proyek Monitoring Dokumen Evaluasi Lingkungan Hidup Pelabuhan Penyebrangan Sape, Kabupaten Bima,
Nusa Tenggara Barat.

Kegiatan lapangan selanjutnya adalah konsultasi publik pada 2 proyek dan lokasi yang berbeda. Pada proyek yang pertama Environesia membersamai Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kota Lubuklinggau untuk melaksanakan konsultasi publik pada Penyusunan Dokumen AMDAL pada Proyek Pembangunan Kawasan Pariwisata Terpadu Petanang , Kota Lubuklinggau, Sumatera Barat.

Di tempat lain di Kabupaten Lamandau Kalimantan Tengah, Environesia juga telah membersamai Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Lamandau, untuk melaksanakan konsultasi publik dalam Penyusunan Dokumen AMDAL pada proyek pembangunan RSUD Lamandau tersebut.

Harapannya di setiap proyek yang telah dikerjakan oleh Environesia dapat memberikan dampak positif bagi pembangunan negeri dan bagi masyarakat luas. Environesia telag berkomitmen akan memberikan pelayanan terbaik sebagai konsultan lingkungan terdepan di Indonesia. (admin/dnx)

Varian Covid-19 Delta, Tingkat Penularan Mencapai 100%


environesia.co.id – Virus Covid-19 atau SARS-CoV-2 yang merupakan virus yang dapat berubah dan mengalami mutasi seiring berjalannya waktu. Hal tersebut merupakan usaha dari virus tersebut untuk bisa terus berkembang biak.

Akan tetapi perubahan yang terjadi pada mutasi virus tersebut dapat berpengaruh pada laju penyebaran virus serta tingkat keparahan penyakit. Mutasi yang terjadi pada virus tersebut dikhawatirkan bisa memengaruhi efektivitas vaksin COVID-19 yang telah beredar di masyarakat.

Beberapa varian yang telah terdeteksi antara lain varian alfa, varian beta, varian gamma dan varian delta. Dikutip dari alodokter terdapat perbedaan yang terdapat pada virus tersebut antara lain;

Varian Alfa yang memiliki kode varian B. 1.1.7. Kasus virus ini ditemukan pertama kali di Inggris, pada bulan September 2020. Tingkat penularan virus varian alfa sebesar 43–90% lebih mudah menular dari virus Covid yang telah ditemukan sebelumnya. Pada varian virus ini memiliki tingkat keparahan infeksi dimana lebih berpotensi menimbulkan gejala berat dan risiko peningkatan risiko rawat inap dari virus Corona jenis awal.

Selanjutnya pada varian beta dengan kode varian B. 1.351. Muncul kasus pertama kali ditemukan di Afrika Selatan pada bulan Mei 2020. Varian virus tersebut memiliki tingkat penularan virus yang sampai saat ini belum diketahui oleh penulis. Varian virus beta memiliki tingkat keparahan infeksi dimana lebih berisiko menyebabkan COVID-19 khususnya pada gejala berat.

Berikutnya pada varian gamma dimana memiliki kode varian P. 1. Kasus pertama kali penularan virus ini ditemukan di Brazil pada November 2020. Sementara hingga saat ini belum diketahui seberapa tingkat penularan virus pada varian tersebut. Jika virus tersebut menjangkit memiliki tingkat keparahan infeksi dimana cenderung kebal terhadap pengobatan COVID-19

Dan yang sedang ramai diperbincangkan saat ini merupakan virus dengan Varian Delta dengan kode varian B. 1617.2. Kasus pertama kali varian virus tersebut ditemukan di India pada bulan Oktober 2020. Varian virus ini memiliki tingkat penularan virus sebesar 30–100% lebih mudah menular dari varian Alfa, sehingga menyebabkan angka peningkatan yang tajam di India sebelumnya. Pada varian tersebut, dimana tingkat keparahan infeksi menyebabkan potensi peningkatan risiko dibutuhkannya rawat inap hampir dua kali lipat dari varian Alfa.

Saat ini penyebaran yang tinggi dan meningkat juga terjadi di Indonesia. Oleh karena itu sangat diharapkan seluruh masyarakat agar tetap berusaha semaksimal mungkin untuk tetap aman serta sayangi orang sekitar kita dan laksanakan 5M, yaitu; memakai masker, mencuci tangan pakai sabun dan air mengalir, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, serta membatasi mobilisasi dan interaksi. (admin/dnx)

SDM Indonesia Maju Melalui Keluarga

environesia.co.id – Hari Keluarga Nasional (Harganas) merupakan salah satu hari peringatan nasional setiap tanggal 29 Juni. Tahun ini, Harganas ke-28 akan jatuh pada hari Selasa 29 Juni 2021.  Harganas sendiri merupakan peringatan dimana untuk menumbuhkan kesadaran akan pentingnya peran keluarga. Hal tersebut karena Keluarga dianggap memiliki peran besar sebagai upaya memperkuat ketahanan nasional untuk mewujudkan kemajuan, persatuan dan kesatuan bangsa.

Harganas ke-27 tahun 2021 mengangkat tema “Melalui keluarga kita wujudkan Sumber Daya Manusia unggul menuju Indonesia Maju.”

“Dari keluargalah kekuatan dalam pembangunan suatu bangsa akan muncul” oleh Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN).

Harganas sendiri pertama kali diperingati pada tahun 1993 dimana diinisiasi oleh ketua BKKBN dikala itu, yaitu Haryono Suyono. Hal tersebut disambut baik oleh Pemerintah, dimana saat itu pula Presiden Soeharto menjabat.

Terpilihnya tanggal 29 memiliki latar belakang sendiri. Pada tahun 1945-1949 keadaan Indonesia belum kondusif pasca proklamasi kemerdekaan. Kala itu, berbagai kalangan masyarakat khususnya laki-laki menghadapi situasi yang memaksa untuk turut serta dalam wajib militer sebagai upaya pertahanan untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Peristiwa tersebut mengakibatkan banyak keluarga saling terpisah satu sama lain. Hingga akhirnya pada 22 Juni 1949 Belanda menyerahkan kedaulatan Republik Indonesia secara utuh. Sehingga banyak pejuang akhirnya kembali ke rumah dikarenakan perang telah usai. Peristiwa pulangnya pejuang kembali ke keluarga masing-masing tercata pada tanggal 29 Juni 1949.

Tak hanya itu, tanggal 29 Juni pula merupakan dimulainya Keluarga Berencana (KB) Nasional atau hari kebangkitan keluarga Indonesia. Saat ini ketetapan mengenai Harganas tertuang dalam Keputusan Presiden Republik Indonesia (Keppres) Nomor 39 Tahun 2014 yang dirilis di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Dalam Kepres tersebut disebutkan bahwa meskipun disebut sebagai hari nasional, Harganas bukan merupakan hari libur. (admin/dnx)

dari: tirto.id kominfo.go.id & bkkbn.go.id

Samudera di Dunia Bertambah Menjadi 5

environesia.co.id – Pada peringatan Hari Laut Sedunia, 8 Juni 2021, National Geographic secara resmi memperkenalkan satu samudra yang terbaru, yaitu Samudra Selatan atau Southern Ocean. Oleh karena itu kini Dunia memiliki 5 Samudra dimana sebelumnya pada tahun 1915, National Geographic mulai membuat peta dimana telah mengenali empat samudra: Samudra Atlantik, Pasifik, Hindia, dan Arktik.

Para kartografer Nat Geo  pada Hari Laut Sedunia mengatakan, bahwa arus deras yang mengelilingi Antartika menjadikan perairan di sana tetap berbeda dan layak menyandang nama sendiri. Kartografer atau ahli pemetaan tersebut memberikan julukan pada wilayah perairan tersebut sebagai Samudra Selatan (Southern Ocean).

Dilansir dari nationalgeographic.grid.id  “Samudra Selatan telah lama diakui oleh para ilmuwan, tetapi karena tidak pernah ada kesepakatan internasional, kita tidak pernah secara resmi mengakuinya,” ungkap Alex Tait seorang ahli geografi di National Geographic Society.

Sebelumnya para ahli geografi berdebat tentang status perairan di sekitar Antarktika yang memiliki karakteristik unik dimana dipertanyakan apakah layak untuk mendapatkan nama mereka sendiri. Atau apakah perairan itu hanya lebih dingin, tapi masih merupakan bagian dari selatan dari Samudra Pasifik, Atlantik, dan Hindia.

Sebelum menetapkan Samudra Selatan ini sebagai samudra baru, telah lama para ahli pemetaan dan komite kebijakan pemetaan National Geographic Society telah telah mempertimbangkan kemungkinan perubahan tersebut. Mereka mengamati bahwa banyak dari para ilmuwan dan pers yang menggunakan istilah Samudra Selatan, dan hal ini menjadi petimbangan juga untuk membuat perubahan pada peta samudra di dunia.

Perubahan tersebut, menurut Alex Tait, sejalan dengan inisiatif National Geographic Society untuk melestarikan lautan dunia. Penetapan samudra Selatan sebagai samudra baru ini diharapkan dapat membangun kesadaran publik pada suatu wilayah yang secara khusus membutuhkan sorotan konservasi.

Menurut Enric Sala yang merupakan Explorer in Residence National Geographic Samudra Selatan tersebut mencakup ekosistem laut yang unik dan rapuh dimana merupakan rumah bagi kehidupan laut yang menakjubkan seperti paus, penguin, dan anjing laut.

Tak hanya itu, Samudra Selatan juga memiliki efek ekologis di tempat lain. Paus bungkuk, misalnya, memakan krill di Antarktika dan bermigrasi jauh ke utara menuju musim dingin di ekosistem yang sangat berbeda di Amerika Selatan dan Tengah. Beberapa burung laut bermigrasi masuk dan keluar juga.

Penetapan Samudra Selatan sebagai samudra baru oleh National Geographic Society, hal tersebut merupakan usaha untuk menarik perhatian masyarakat pada eksistensi samudera tersebut. National Geographic Society berharap hal ini dapat mempromosikan upaya konservasi di wilayah tersebut.

Tait mengatakan kebijakan baru National Geographic ini akan berdampak pada bagaimana anak-anak yang menggunakan peta di sekolah. Juga pada bagaimana mereka belajar melihat dunia.

“Saya pikir salah satu dampak terbesar adalah pada pendidikan,” katanya. “Para murid mempelajari informasi tentang dunia laut melalui samudra apa yang Anda pelajari. Jika Anda tidak memasukkan Samudra Selatan maka Anda tidak mempelajari itu secara spesifik dan betapa pentingnya itu.” (admin/dnx)

From : nationalgeographic.grid.id  

Inovasi Fashion dari Pisang yang Ramah Lingkungan

environesia.co.id – Swiss dimana merupakan negara dengan kualitas lingkungan hidup salah satu terbaik di dunia. Dimana di negara tersebut, QWSTION yang merupakan perusahaan di bidang fashion mengeluarkan produk yang ramah lingkungan yang terbuat dari serat pohon pisang. QWSTION sendiri menyebutkan produk mereka dengan nama Bananatex.

Penciptaan kain Bananatex bermula pada tahun 2018, dimana QWSTION bekerja sama dengan para spesialis benang di Taipei, Taiwan. Setelah penelitian dan pengujian selama tiga tahun, serat pohon pisang dipilih untuk dijadiikan bahan baku kain.

Pada situs resmi QWSTION mengungkapkan “Setelah melakukan penelitian dan pengujian selama tiga tahun, kami pun memilih serat pohon pisang untuk dijadiikan bahan baku kain Bananatex. Kami sengaja memilih serat pohon pisangkarena selain mudah dibudidayakan, tumbuhan tersebut juga menghasilkan serat yang superkuat namun ringan dan fleksibel.”

Tak hanya itu, alternatif yang dikemukanan QWSTION  pada situs resminya mengungkapkan bahwasannya bananatex merupakan produk tahan air pertama di dunia yang ramah akan lingkungan dimana berbahan dari serat pisang. Hal ini menjadi poin penting karena selama ini yang kita kenal bahwa kain tahan air banyak didominasi oleh kain-kain berbahan yang memiliki kandungan plastik sedangkan serat pisang memiliki lapisan lilin alami sebagai pelindung dari air. Kelebihan serat pisang karena mudah dibudidayakan dan juga menghasilkan serat yang superkuat, ringan nan fleksibel

Serat pohon pisang yang digunakan oleh QWSTION sebagai bahan Bananatex merupakan serat pohon pisang yang berasal dari pohon pisang jenis abaka. Pohon pisang abaka dapat menghasilkan serat yang panjang, kuat, dan ringan sehingga cocok untuk dijadikan bahan baku kain Bananatex. QWSTION bekerja sama dengan para petani lokal dari Filipina untuk memperoleh bahan serat pohon pisang abaka yang memiliki kualitas terbaik.

Terlebih dalam keterangannya, bahwa pohon pisang abaka sebagai bahan baku Bananatex merupakan pohon pisang organik. Hal tersebut disebabkan karena dalam proses penanamannya tanpa menggunakan pestisida dan pupuk sintetis. Tak hanya itu, dalam proses penanaman pisang abaka ini juga tidak banyak menggunakan air. Oleh karena itu QWSTION dengan percaya diri bahwa inovasi yang mereka ciptakan benar-benar organik dan ramah lingkungan.

QWSTION berharap bahwa Bananatex dapat menjadi inspirasi bagi  perusahaan tekstil lain untuk berinovasi mengikuti jejak mereka dalam menciptakan produk tekstil berkelanjutan yang minim akan penggunaan minyak bumi dan material sintetis lain. Mereka juga berharap bahwa Bananatex dapat membuka kesadaran para penikmat fesyen terhadap penggunaanproduk tekstil yang ramah lingkungan. (admin/dnx)

Ref: qwstion.com & greeners.co

The Environmental Performance Indeks

Indikator EPI

environesia.co.id – The Environmental Performance Indeks (EPI) atau Indeks Kinerja Lingkungan merupakan metode berbasis numerik dan kuantitatif untuk mengukur kinerja lingkungan pada kebijakan suatu negara yang diterbitkan pada tahun 2002. Sebelumnya, kinerja lingkungan diukur menggunakan Environmental Sustainability Index (ESI) antara tahun 1999 dan 2005. Baik EPI mau pun ESI dikembangkan oleh Universitas Yale dan Universitas Columbia bekerja sama dengan yang World Economic Forum dan Joint Research Center dari Komisi Eropa.

EPI menggunakan 32 indikator di 11 kategori untuk mengukur bagaimana dan seberapa kinerja lingkungan pada 180 negara di Dunia. Indikator yang digunakan oleh EPI sebagai penyedia untuk mengidentifikasi masalah, menentukan target, melacak tren, memahami hasil dan mengkaji hasil atau praktek kebijakan publik yang berpengaruh pada lingkungan hidup.

Pada tahun 2020, Denmark menempati posisi pertama perolehan skor EPI di angka 82.5 disusul peringkat 2 oleh Luxemburg dengan skor 82.3, peringkat 3 Swiss dengan skor EPI terdapat di angka 81.5, kemudian peringkat 4 oleh Inggris dengan perolehan skor 81.3 dan di posisi peringkat 5 oleh Perancis dengan skor 80.0. Sebelumnya Swiss merupakan negara yang paling sering mencatat peroleh peringkat 1 perolehan skor EPI, antara lain di tahun 2008, 2012, 2014 dan 2018.

Indonesia sendiri pada tahun 2020 menempati peringkat 116 dengan skor EPI di angka 37.8 dan menempati peringkat 10 untuk zona Asia Pasifik. Hasil tersebut merupakan pekerjaan rumah bersama bagi pemerintah dan masyarakat Indonesia agar lebih giat lagi dalam berpartisipasi untuk menjaga dan melestarikan lingkungan hidup khususnya di Indonesia. (admin/dnx)

Jangan Lakukan Ini sebelum Olah Raga

Lingkungan, olahraga

environesia.co.id – Olahraga merupakan kegiatan jasmani atau fisik dimana bermanfaat untuk memelihara kesehatan dan merenggangkan otot-otot tubuh. Akan tetapi olahraga yang dilakukan dengan kebiasaan yang tidak tepat akan memberikan dampak yang buruk bagi tubuh.  

Beberapa aktivitas perlu diperhatikan untuk dihindari sebelum melakukan olahraga agar olahraga kita dapat maksimal memberikan efek positif bagi tubuh, antara lain;

1. Berolahraga Saat Perut Kosong

Olahraga sebagai aktivitas fisik tubuh manusia memerlukan berbagai kandungan gizi sebagai bahan bakar. Oleh karena itu sangat disarankan agar tidak berolahraga dalam kondisi perut kosong agar badan kita memiliki cadangan energi yang cukup ketika berolahraga.

2. Minum Terlalu Istirahat Banyak Sebelum Berolahraga

Meminum air saat olahraga sangat membantu kala kita dehidrasi di tengah aktivitas tersebut. Namun meminum terlalu banyak air menyebabkan darah akan bekerja keras untuk menyeimbangkan  kadar garam dalam tubuh kita. Sel mungkin membengkak dan mengakibatkan gejala seperti pusing, nyeri, dan bahkan muntah.

3. Over-stretch

Pemanasan sangat penting untuk membuat tubuh teregang secara maksimal sehingga tubuh kita bisa bebas melakukan perubahan. Akan tetapi melakukannya secara berlebihan dapat mengurangi kinerja, berdampak negatif pada kecepatan lari, waktu reaksi, dan produksi gaya.

4. Minum Kopi atau minuman kesehatan tinggi

Kafein dan gula tinggi menyebabkan perut mual, gangguan konsentrasi, ketidakseimbangan nutrisi, dan dalam jangka panjang akan menyebabkan kerusakan bagi tubuh. Oleh karena itu sangat tidak disarankan untuk mengkonsumsi 2 jenis minum tersebut sebelum atau di tengah kegiatan olahraga.

5. Memulai Olahraga Tanpa Istirahat yang Benar

Tidur siang sangat baik untuk mengumpulkan energi atau dengan istilah “power-nap” Tetapi tidur siang terlalu lama dapat menyebabkan badan lebih lesu daripada sebelum tidur. Tak hanya itu, membiarkan diri beristirahat akan memberi otot kesempatan untuk pulih dan tumbuh, mencegah kelelahan. Kita akan tidur lebih nyenyak, risiko cedera akan berkurang, dan tingkat kinerja akan meningkat. Itu dia hal-hal yang perlu diperhatikan dan untuk dihindari kala kita akan berolahraga. Lelah bukanlah alasan untuk kita menghindari olahraga. Pasti semua mengingat istilah “Jiwa yang sehat terdapat pada tubuh kuat yang kuat.” Semoga kita tetap kuat dan sehat serta dapat melakukan banyak hal yang bermanfaat bagi sekitar kita. (admin/dnx)

Daerah Domisili Environesia Meraih Penghargaan Lingkungan

Penghargaan Lingkungan

environesia.co.id, Jakarta – Daerah Istimewa (D.I) Yogyakarta dan Kabupaten Sleman sebagai daerah domisili PT Environesia Global Saraya menorehkan prestasi pada Penghargaan Green Leadership Nirwasita Tantra 2020 dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) di Jakarta pada Selasa (15/6). Penganugrahan penghargaan Green Leadership Nirwasita Tantra 2020 ditujukan kepada para gubernur, bupati, wali kota, dan pimpinan DPRD tingkat provinsi/kabupaten/kota, secara daring dan luring.

Penghargaan Green Leadership Nirwasita Tantra sendiri merupakan apresiasi dari pemerintah pusat dalam hal ini KLHK yang ditujukan kepada pimpinan daerah, baik eksekutif maupun legislatif, yang berhasil merumuskan dan menerapkan kebijakan dan program kerja, sesuai dengan prinsip pembangunan berkelanjutan menuju green economy.

Dilansir dari suara.com, KLHK mengungkapkan akan semangat green atau ramah lingkungan untuk terus menggelora, termasuk semangat “green growth“. Pertumbuhan hijau berarti mencapai pertumbuhan dengan penggunaan sumberdaya dan energi secara efisien,

Paralel dengan semangat green growth itu, pemerintah terus melakukan penyesuaian, sebagaimana kebutuhan sosiologis masyarakat, lokal, nasional maupun internasional, dengan arah dan aktualisasi secara nyata untuk green economy. Unsur-unsur penting green Economy atau ekonomi hijau eliputi low carbon, green growth, green technology, green energy, green industries, green products, green life, dan green management.

Menteri LHK Siti Nurbaya mengatakan, selain pemerintah pusat, jajaran pemerintahan daerah yaitu kepala daerah dan pimpinan lembaga perwakilan rakyat di daerah serta masyarakat dalam sistem pemerintahan daerah, mempunyai kontribusi sangat penting dalam pengelolaan lingkungan hidup.

“Berbagai inovasi daerah dalam menyelesaikan isu-isu lingkungan merupakan hal yang sangat patut dihargai, karena ia juga merupakan kunci terjaminnya kelestarian lingkungan di daerah,” ujar Menteri Siti.

Dalam laporan Sekretaris Jenderal KLHK Bambang Hendroyono mengungkapkan proses penilaian Green Leadership Nirwasita Tantra melalui beberapa tahap. Dimulai dari penapisan awal, analisa isu priotitas, penilaian tim independen, dan wawancara. Khusus tahun ini, tahap wawancara dilakukan melalui video yang diunggah dalam platform media sosial.

Jumlah pemerintahan daerah yang mengikuti tahapan penilaian tahun ini terdiri dari 21 provinsi, 57 kota dan 146 kabupaten. Para penerima dibagi menjadi kategori DPRD Provinsi, dan Kabupaten/Kota; serta Pemerintah Daerah Provinsi, dan Kabupaten/Kota. Selanjutnya kategori Kabupaten/Kota dibagi lagi menjadi sub kategori Kab/Kota besar, sedang, dan kecil.

Selengkapnya para penerima penghargaan Green Leadership Nirwasita Tantra kategori DPRD berturut-turut dari peringkat satu sampai tiga yaitu Sumatera Barat, Aceh dan Jambi.

Untuk kategori DPRD Provinsi; Bangka Tengah, Belitung, dan Sleman untuk kategori DPRD kabupaten kecil; Sukoharjo, Buleleng, Ponorogo untuk kategori DPRD kabupaten sedang; Banyumas, Tangerang, dan Boyolali untuk kategori DPRD kabupaten besar; Bontang, Sungai Penuh, dan Mojokerto.

Selanjutnya kategori DPRD kota kecil; Ambon, Magelang, dan Madiun untuk kategori DPRD kota sedang; Balikpapan, Surabaya, dan Semarang untuk kategori DPRD kota besar.

Sementara untuk kategori Pemerintah Daerah Provinsi yaitu DKI Jakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Jawa Tengah.

Untuk kategori kabupaten kecil yaitu Sleman, Bangka Tengah, dan Belitung; kategori kabupaten sedang yaitu Sukoharjo, Buleleng, dan Polewali Mandar; kategori kabupaten besar yaitu Banyuwangi, Lumajang, dan Malang.

Kemudian, kategori kota kecil yaitu Bontang, Padang panjang, dan Pariaman; kategori kota sedang yaitu Ambon, Magelang, dan Madiun; kategori kota besar yaitu Surabaya, Semarang dan Balikpapan.

Kegiatan ini dirangkai dengan talkshow dengan narasumber Gubernur DIY, Walikota Ambon, Walikota Madiun, dan Deputi Tata Ruang Pemprov DKI Jakarta mewakili Gubernur DKI Jakarta, bertajuk “Peran Kepala Daerah sebagai Green Leaders dalam Peningkatan Green Economy”.

PT Environesia Global Saraya sebagai Perusahaan Konsultan Lingkungan yang berdomisili di Kabupaten Sleman dan D.I Yogyakarta, mengapresiasi dan mengucapkan selamat atas raihan D.I Yogyakarta dan Kabupaten Sleman dalam menghadirkan kebijakan serta inovasi publik yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Semoga kedepannya raihan tersebut dapat dipertahankan dan ditingkatkan lebih. (admin/dnx)

Pulau Sangihe: Rumah Flora Fauna di Utara Nusantara

Pulau Sangihe

environesia.co.id – Isu dimana keluanya izin tambang emas di Pulau Sangihe menjadi perbincangan masyarakat khususnya di lini media sosial di kalangan warganet Indonesia. Perbincangan tersebut tak lepas dari isu lingkungan di Pulau Sangihe jika tambang emas tersebut tetap berjalan. Ramainya perbincangan tersebut membuat publik penasaran tentang Pulau Sangihe itu sendiri.

Pulau Sangihe merupakan Pulau utama dari gugusan Kepulauan Sangihe. Secara administasi Pulau Sangihe terletak di Kabupaten Kepulauan Sangihe, Provinsi Sulawesi Utara. Pulau Sangihe juga merupakan lokasi bagi Kota Tahun yang merupakan Ibukota Kabupaten Kepulauan Sangihe. Kondisi geografis Pulau ini tepat utara Pulau Sulawesi dan berbatasan langsung dengan negara Filipina. Pulau Sangihe sendiri terletak di jalur cincin api pasifik dimana wilayah ini sangat rawan terjadi gempa bumi dan tsunami.

Pulau Sangihe memiliki kondisi alam yang sangat indah  yang dihiasi oleh keanekaragaman flora dan fauna. Di Pulau tersebut khususnya di Hutan Lindung Gunung Sahendaruman terdapat sekitar 70 spesies pohon dari 32 famili semuanya termasuk dalam kelas magnolioopsida (dikotil), divisi magnoliophyta (tumbuhan berbunga).

Tak hanya itu Pulau Sangihe juga merupakan rumah bagi berbagai burung endemik langka yang dilindungi, seperti burung seriwang sangihe, burung serindit sangihe, burung udang sangihe, burung kacamata sangihe, burung anis bentet sangihe serta berbagai kehidupan hewani lain di dalamnya.

Pemandangan alam di Pulau Sangihe pun tak kalah indahnya. Pantai Embuhanga dengan hamparan pasir landai yang luas serta dihiasi dengan lambaian nyiru kelapa terlihat sangat indah. Pantai-pantai di Pulau tersebut dan di pulau sekitarnya juga melengkapi keindahan Kepulauan Sangihe tersebut. Tak sekedar Pemandangan di Pantai, pemandangan alam dari puncak Pusunge Lenganeng tampak keindahan Kota Tahunan dari atas.

Keindahan yang terdapat di Pulau Sangihe merupakan anugrah tuhan yang semestinya kita jaga dan kita lestarikan untuk kehidupan anak cucu kita kelak. Pulau Sangihe merupakan salah satu aset berharga bagi bangsa Indonesia yang memiliki berjuta keindahan lainnya. Pembangunan yang baik, dimana harus semestinya merencanakan pembangunan yang berkelanjutan dimana sangat memperhatikan aspek lingkungan. (admin/dnx)

Swiss: Negara Paling Ramah Lingkungan

environesia.co.id – Raihan Swiss pada skor (The Environmental Performance Indeks) EPI atau indeks kinerja lingkungan mencapai angka 87.42, pada tahun 2018 menempatkan Swiss sebagai negara paling ramah lingkungan di Dunia.  Tak hanya itu, pada tahun 2017 Swiss dinobatkan sebagai negara nomor satu dari lima negara yang menerima Sustainable Development Goals (SDGs) oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Pencapaian Swiss dalam menjaga lingkungan, tak lepas dari berbagai usaha yang dilakukan sangat baik, seperti sistem pemilihan limbah yang sangat baik,  dan upaya meminimalisir emisi karbon bahkan mengupayakan sampai nilai 0.

Sistem pengelolaan imbah di Swiss seperti memisahkan dan mendaur ulang limbah organik kemudian mengkonversi sisanya menjadi energi. KVA Thun yang merupakan satu contoh pabrik waste to energy, dimana memproses limbah agar benar-benar bersih dan ramah pada lingkungan.

Pemeliharaan air di Swiss benar-benar sangat diperhatikan, karena tak lain kualitas air sendiri sangat penting bagi kehidupan makhluk hidup. Oleh karena itu, Swiss berusaha melindungi sumber-sumber air baik di tanah, danau, sungai dan sebagainya agar tidak tercemar oleh limbah-limbah Industri. Di Swiss terdapat pabrik pengolahan limbah air, dimana dapat membersihkan 90 liter air limbah perharinya dan juga menghasilkan biogas dari lumpur limbah tersebut. Gas tersebut kemudian digunakan dalam sistem transportasi umum.

Zurich  yang merupakan salah satu kota di Swiss, segera merealisasikan pendirian pabrik carbon-capture berskala industri pertama di dunia. Pabrik tersebut mengolah karbon dioksida dari udara melalui penangkapan udara langsung. Kinerja pabrik tersebut mampu menangkap 900 ton jumlah karbon dioksida yang setara dihasilkan sekitar 200 mobil dalam setahun. Hal tersebut termasuk dalam sistem pengendalian polusi udara yang efisien agar standar kualitas udara terpenuhi dan emisi dijaga agar tetap dalam batas minimum.

Dalam pengambilan Kebijakan khususnya berkaitan dengan Lingkungan, Swiss melibatkan masyarakat luas. Contohnya saat Swiss mengeluarkan kebijakan tentang impor CPO (Crude Palm Oil) dari Indonesia dilakukan dengan cara referendum. Disana juga antara satu pemerintah lokal dan lainnya saling berlomba-lomba menjadi kota teramah Lingkungan di Swiss. (admin/dnx)

Ref: suneducationgroup.com www.liputan6.com www.cnnindonesia.com