Leading the Way in

Environmental Insights

and Inspiration

Leading the Way in
Environmental Insights and Inspiration

Apakah Pohon Sawit Mencegah Banjir? Ini Penjelasan Lengkap dan Faktanya

Environesia Global Saraya

08 December 2025

Perdebatan mengenai peran perkebunan sawit dalam mencegah banjir cukup sering muncul, terutama di wilayah yang bergantung pada komoditas ini. Secara visual, pohon sawit memang tampak besar, namun proses hidrologi tidak diukur dari besar pohon saja. Faktor seperti infiltrasi tanah, limpasan permukaan, struktur perakaran, hingga kapasitas simpanan air tanah harus dinilai secara ilmiah. Data menunjukkan bahwa kemampuan sawit mencegah banjir jauh lebih rendah dibanding hutan alam.

Mengapa Infiltrasi Tanah di Perkebunan Sawit Lebih Rendah?

Perbedaan nilai infiltrasi pada tabel di atas terjadi karena perubahan struktur tanah, jenis vegetasi, serta aktivitas pengelolaan lahan. Berikut penjelasan rinci berdasarkan setiap tipe lahan:

1. Hutan Alam (100–200 mm/jam)

Hutan alam mempunyai kemampuan infiltrasi paling tinggi karena:

  • Struktur tanah sangat gembur dan kaya bahan organik. Serasah daun dan akar pohon besar menjaga porositas tanah sehingga air bisa masuk cepat.

  • Sistem akar yang dalam (hingga >2 meter) menciptakan banyak kanal alami bagi air untuk meresap.

  • Keanekaragaman tumbuhan tinggi membuat lapisan tanah stabil, tidak mudah padat atau tererosi.

Efeknya: Saat hujan 50–100 mm/jam, hutan alam mampu menyerap sebagian besar air sehingga hampir tidak terjadi limpasan permukaan.

2. Hutan Sekunder (60–120 mm/jam)

Hutan sekunder adalah hutan yang pernah terganggu tetapi tumbuh kembali. Infiltrasinya menurun karena:

  • Struktur tanah mulai berubah akibat bekas aktivitas manusia.

  • Sistem akar masih berkembang dan belum sedalam hutan primer.

  • Namun masih terdapat serasah daun, pohon beragam, dan penetrasi akar yang cukup, sehingga fungsi resapan air tetap berjalan.

Efeknya: Aliran permukaan meningkat dibanding hutan alam, tetapi tidak separah lahan perkebunan.

3. Perkebunan Sawit (10–30 mm/jam)

Infiltrasi di kebun sawit turun drastis karena beberapa faktor ilmiah:

a. Pemadatan tanah (soil compaction)
Penggunaan alat berat saat pembukaan lahan dan pemeliharaan membuat tanah menjadi padat. Poros tanah menurun, sehingga air sulit masuk. 

b. Sistem akar dangkal
Akar sawit terkonsentrasi pada kedalaman ±0–60 cm. Berbeda dengan pohon hutan yang akarnya bisa menembus lebih dari 1–2 meter. Karena akar dangkal, tanah kurang terpecah dan permeabilitasnya rendah sehingga air sulit meresap dan lebih cepat mengalir sebagai limpasan.

c. Sawit tanaman monokultur
Monokultur adalah satu jenis tanaman ditanam di area sangat luas tanpa campuran vegetasi lain. Serasah (daun gugur, ranting, dan bahan organik lain dari vegetasi) sawit jauh lebih sedikit dibanding pohon hutan, sehingga tanah cepat memadat dan tidak gembur. Akibatnya, pori-pori tanah berkurang sehingga kemampuan menyerap air menurun dan air hujan lebih banyak mengalir di permukaan. 

d. Jalur air menjadi cepat karena tidak ada tajuk bertingkat

Kanopi sawit tidak memiliki lapisan vegetasi beragam, sehingga:

  • Energi hujan langsung menghantam tanah,

  • Meningkatkan erosi dan mempercepat aliran permukaan.

Efeknya: Ketika hujan 50–100 mm/jam (umum di Sumatra & Kalimantan), kebun sawit hanya mampu menyerap sebagian kecil air. Sisanya menjadi limpasan permukaan (runoff) yang memicu banjir.

4. Lahan Terdegradasi (<10 mm/jam)

Ini adalah kondisi paling parah, biasanya berupa:

  • Bekas lahan tambang,

  • Bekas kebakaran berulang,

  • Tanah yang kehilangan struktur dan bahan organik.

Tanah menjadi keras seperti semen (hard-setting soil), sehingga air hampir tidak meresap.

Efeknya: Hampir semua air hujan langsung mengalir sebagai runoff. Risiko banjir sangat tinggi.

Saat hujan deras 50–100 mm per jam (umum di Sumatra dan Kalimantan), hutan dapat menyerap sebagian besar airnya. Perkebunan sawit tidak dapat mengimbangi intensitas ini sehingga kelebihan air berubah menjadi limpasan yang menjadi salah satu pemicu banjir.

Limpasan Permukaan (Runoff) Sawit 2× Lebih Tinggi

Runoff adalah bagian dari air hujan yang tidak masuk ke dalam tanah dan langsung mengalir di permukaan. Semakin tinggi runoff, semakin besar potensi banjir, erosi, dan kenaikan debit sungai setelah hujan lebat. 

Koefisien Runoff (0–1)

Semakin tinggi angkanya, semakin sedikit air yang meresap dan semakin banyak yang langsung mengalir sebagai limpasan.

Tipe Lahan

Runoff Coefficient

Hutan Alam

0.1–0.3

Hutan Sekunder

0.2–0.35

Perkebunan Sawit

0.4–0.6 

Lahan Terbangun (jalanan dan permukiman)

0.7+

Penelitian Daerah Aliran Sungai (DAS) dan simulasi hydrological modeling menunjukkan bahwa saat hutan berubah menjadi sawit, limpasan naik. Ini mempercepat kenaikan debit sungai dan meningkatkan risiko banjir bandang. Misalnya, studi SWAT+ di DAS Kais (Papua Barat) menemukan bahwa surface runoff naik sekitar 21% setelah area hutan berubah menjadi sawit (Novitasari et al., 2024).

Kedalaman Akar Sawit Sangat Dangkal

Peran akar dalam hidrologi adalah menentukan stabilitas tanah, pori tanah, infiltrasi, dan kapasitas simpanan air.

Kedalaman Akar Dominan (Agricultural and Forest Meteorology):

  • Pohon Hutan Dipterokarpa: 3–10 meter

  • Pohon Hutan Sekunder: 2–6 meter

  • Kelapa Sawit: 0–1 meter

Implikasi ilmiah akar sawit yang dangkal:

  • Tidak membentuk retakan vertikal yang membantu air meresap ke tanah dalam.

  • Tanah mudah mempadat sehingga pori-pori tanah menurun.

  • Infiltrasi turun, air lebih banyak mengalir sebagai runoff.

  • Tidak berfungsi sebagai mesin resapan alami seperti pohon hutan berakar dalam.

  • Kapasitas simpanan air tanah berkurang drastis sehingga debit sungai lebih cepat naik saat hujan.

Kapasitas Simpanan Air Tanah

  • Tanah hutan mampu menyimpan air jauh lebih baik. Studi University of Twente di Jambi menunjukkan bahwa tanah hutan memiliki pori-pori yang lebih sehat dan struktur yang lebih gembur. Kondisi ini membuat air hujan lebih mudah meresap dan tersimpan di dalam tanah, sehingga hutan berfungsi seperti penampung air alami.

  • Setelah berubah menjadi sawit, kapasitas simpanan air tanah menurun. Penelitian dalam Soil Science and Plant Nutrition menemukan bahwa konversi hutan menjadi kebun sawit menyebabkan tanah lebih padat, porositas menurun, dan stabilitas agregat rusak. Akibatnya, kemampuan tanah menahan air ikut berkurang, sehingga tanah cepat jenuh saat hujan.

  • Dampaknya terhadap hidrologi DAS. Ketika tanah tidak lagi mampu menyerap dan menyimpan air secara optimal, sebagian besar air hujan mengalir di permukaan. Hal ini meningkatkan limpasan (runoff), mempercepat aliran menuju sungai, dan membuat risiko banjir, erosi, serta sedimentasi semakin besar, terutama pada musim hujan.

Environesia Global Saraya

17 May 2023

environesia.co.id, Sukabumi - Menindaklanjuti kerjasama PT Environesia Global Saraya bersama Perhutani terkait Perijinan Pendirian Pabrik Serbuk Kayu Di Sukabumi Jawa Barat Tahun 2022 – PERHUTANI, Environesia menghadiri Rapat Koordinasi Pemeriksaan Formulir Kerangka Acuan (KA)) dalam rangka penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) untuk Rencana Pembangunan Pabrik Serbuk Kayu di RPH Hajuang Barat BKPH Lengkong, Kabupaten Sukabumi. Rapat ini diselenggarakan oleh Direktorat Pencegahan Dampak Lingkungan Usaha dan Kegiatan (PDLUK), Dirjen Planologi Kehutanan dan Tata Lingkungan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. pada Rabu, (17/5) secara daring melalui pranala Zoom Meeting.

Rapat ini dipimpin Kasubdit Pengembangan Sistem Kajian Dampak Lingkungan Usaha dan Kegiatan - Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutana, Farid Mohammad, ST., M.Env, serta dihadiri oleh Tim Pakar, Instansi Pusat dan Instansi Daerah baik Instansi di Provinsi Jawa Barat maupun Instansi di Kab. Sukabumi. Tujuan dari rapat koordinasi tersebut untuk membahas langkah-langkah penyusunan AMDAL yang tepat dan komprehensif dalam rangka pembangunan pabrik serbuk kayu yang direncanakan.

Rapat ini bertujuan untuk merumuskan lingkup dan kedalam metode studi Amdal, sehingga dapat mengarahkan Analisa Dampak Lingkungan (ANDAL) berjalan dengan efektif dan efisien. Selanjutnya PT Environesia Global Saraya menindaklanjuti seluruh Saran, Pendapat, dan Tanggapan yang telah disampaikan oleh para peserta Rapat.

Environesia sebagai Lembaga Penyedia Jasa Penyusunan (LPJP) Amdal yang dipercaya oleh Perum Perhutani, berkomitmen untuk memberikan kontribusi terbaik dalam proses penyusunan AMDAL ini, sehingga Pembangunan Pabrik Serbuk Kayu yang direncanakan dapat memenuhi prinsip-prinsip pembangunan yang berwawasan lingkungan. (admin/dnx)

Environesia Global Saraya

12 May 2023

environesia.co.id, Sleman – Tepat 7 tahun pada 3 Mei 2023, Environesia sebagai perusahaan konsultan lingkungan terdepan di Indonesia, merayakan "7th Year Anniversary Environesia Melampaui Batas”. Dikarenakan berdekatan dengan masa libur Idul Fitri 1444 H  seremoni dilaksanakan pada Senin, 8 Mei 2023 di lantai 3 Grha Environesia dihadiri oleh seluruh tim Environesia Group.

Puncak acara dilakukan dengan pemotongan tumpeng bersama oleh Direktur Utama Saprian, S.T., M.Sc., beserta jajaran Direksi lain seperti Direktur Keuangan Ayu Ramayani, S.E.,M.Ak., Direktur Operasional & Pengembangan Bisnis Andi Muhammad Faisal, S.T. dan Manajer Konsultan Yusuf Wiryawan, S.T., M.Ling. Bertepatan dengan suasana bulan Syawwal, pada agenda tersebut dialnjutkan acara halal bi halal serta jamuan prasmanan untuk makan siang.

Direktur Utama Saprian, S.T., M.Sc. mengungkapkan kebahagiannya melihat Environesia berhasil sampai ke titik tersebut, tidak lain karena dukungan tim yang selalu solid serta mitra kerja yang loyal.

Acara utama kemudian dilanjutkan dengan agenda Environesia Social Care, di mana Environesia membagikan 150 paket sembako kepada masyarakat yang tinggal di sekitar Grha Environesia, tepatnya di RW 42, Karangjati, Sinduadi, Mlati, Sleman. Ketua RW 42.

Rahmat Yunus selaku Kepala RW 42,mengungkapkan kebahagiannya karena Environesia dapat berbagi dengan masyarakat sekitar. Ia berharap agar Environesia semakin maju dan sukses serta dapat kembali berkolaborasi dengan masyarakat di masa depan.

Direktur Utama Saprian, S.T., M.Sc. juga menyampaikan terima kasih kepada masyarakat karena telah menerima keberadaan Environesia di lingkungannya. Ia berharap bahwa Environesia dapat terus hadir dan memberikan kontribusi positif kepada masyarakat di masa yang akan datang.

Dengan rangkaian kegiatan yang meriah, Environesia berhasil merayakan ulang tahun ke-7 dengan penuh kebahagiaan dan makna. Semoga Environesia terus memberikan solusi lingkungan yang berkelanjutan dan inovatif, serta dapat memperkuat kemitraan dan kontribusinya kepada masyarakat. (admin/dnx)

footer_epic

Ready to Collaborate with Us?

Dengan layanan konsultasi lingkungan dan uji laboratorium yang telah tersertifikasi KAN, Environesia siap menjadi solusi untuk kemudahan dan efisiensi waktu dengan output yang berkualitas