Environesia Global Saraya
16 December 2025
Banjir perkotaan semakin sering terjadi di berbagai wilayah Indonesia. Genangan air kini tidak hanya muncul di kawasan langganan banjir, tetapi juga di pusat kota, kawasan bisnis, hingga permukiman baru. Fenomena ini menegaskan bahwa banjir bukan lagi sekadar persoalan cuaca ekstrem, melainkan cerminan kegagalan tata ruang dan pengelolaan drainase perkotaan.
Dalam kajian lingkungan dan perencanaan wilayah, banjir dipahami sebagai akibat dari ketidakseimbangan antara curah hujan, kapasitas resapan tanah, dan kemampuan sistem drainase. Ketika salah satu komponen ini terganggu, risiko banjir meningkat secara signifikan.
Perkembangan kota yang cepat mendorong alih fungsi lahan dalam skala besar. Lahan terbuka yang sebelumnya mampu menyerap air hujan berubah menjadi kawasan terbangun yang kedap air. Secara ilmiah, perubahan ini memicu beberapa dampak hidrologis utama:
Akibatnya, meskipun hujan turun dengan intensitas sedang, genangan dapat terjadi karena air tidak lagi tertahan di dalam tanah.
Salah satu penyebab utama banjir perkotaan adalah tata ruang yang tidak berbasis daya dukung dan daya tampung lingkungan. Dalam praktiknya, banyak rencana pembangunan lebih menekankan aspek ekonomi dan fisik, sementara fungsi ekologis wilayah terabaikan. Beberapa bentuk tata ruang bermasalah yang sering ditemukan meliputi:
Padahal, secara kebijakan dan kajian teknis, keberadaan minimal 30% RTH dalam wilayah perkotaan berperan penting dalam menjaga keseimbangan siklus air. Ketika angka ini tidak terpenuhi, kota kehilangan “ruang bernapas” untuk mengelola air hujan.
Masalah banjir juga diperparah oleh sistem drainase yang tidak berkembang seiring pertumbuhan kota. Banyak saluran drainase dirancang puluhan tahun lalu, saat tutupan lahan terbangun masih terbatas. Permasalahan umum drainase perkotaan antara lain:
Dalam kondisi tersebut, drainase kehilangan fungsinya sebagai sistem pengendali air hujan dan justru menjadi titik rawan genangan.
Tanpa dikombinasikan dengan upaya menahan dan meresapkan air di sumbernya, sistem ini hanya memindahkan masalah banjir ke wilayah lain, terutama kawasan hilir.
Kajian lingkungan modern menekankan pentingnya nature-based solutions sebagai pelengkap infrastruktur abu-abu (grey infrastructure). Pendekatan ini terbukti mampu menurunkan limpasan air sekaligus meningkatkan kualitas lingkungan. Contoh penerapan yang relevan di perkotaan:
Solusi ini bekerja dengan prinsip meniru proses alami, sehingga lebih adaptif terhadap perubahan iklim.
Banjir yang terus berulang bukan hanya persoalan sesaat. Dalam jangka panjang, dampaknya bersifat sistemik dan merugikan berbagai sektor. Beberapa dampak yang umum terjadi:
Tanpa perubahan mendasar dalam perencanaan tata ruang dan drainase, kota akan terjebak dalam siklus banjir yang sulit diputus.
Membangun kota yang tangguh terhadap banjir memerlukan pendekatan terpadu dan berbasis ilmu pengetahuan. Tata ruang tidak dapat dipisahkan dari aspek hidrologi, ekologi, dan perubahan iklim. Perencanaan yang ideal mencakup:
Dengan pendekatan tersebut, risiko banjir tidak hanya dapat dikurangi, tetapi juga dicegah sejak tahap perencanaan.
Environesia Global Saraya
17 May 2023
Environesia Global Saraya
12 May 2023
Dengan layanan konsultasi lingkungan dan uji laboratorium yang telah tersertifikasi KAN, Environesia siap menjadi solusi untuk kemudahan dan efisiensi waktu dengan output yang berkualitas