Environesia Global Saraya
29 April 2026
Bayangkan sebuah negara dengan potensi energi terbarukan terbesar di Asia Tenggara lebih dari 3 terawatt (TW) namun hampir 85 persen kebutuhan energinya masih dipasok oleh batu bara, minyak, dan gas. Itulah kondisi Indonesia hari ini.
Per April 2026, sistem energi nasional Indonesia masih didominasi 84,9% energi fosil, sedikit di atas rata-rata global yang berada di angka 80%. Di sisi lain, target bauran energi terbarukan (EBT) sebesar 23% pada 2025 gagal diraih realisasinya hanya sekitar 16%. Ini bukan kegagalan pertama: Indonesia tercatat gagal mencapai target EBT selama sembilan tahun berturut-turut.
Lalu, mengapa transisi energi tetap menjadi agenda mendesak yang tidak bisa ditunda?
5 Alasan Mengapa Transisi Energi Tidak Bisa Ditunda
Pembangkit listrik berbahan bakar batu bara Indonesia menghasilkan emisi di atas 350 juta ton CO₂ ekuivalen (MtCO₂e) pada 2024. Polusi udara dari PLTU dan kendaraan berbahan bakar fosil menjadi penyumbang utama penurunan kualitas udara di kota-kota besar Indonesia — berdampak langsung pada kesehatan pernapasan jutaan warga.
Indonesia sudah menjadi net importir minyak sejak 2004. Setiap gejolak harga energi global langsung menggerus APBN melalui subsidi yang mencapai ratusan triliun rupiah per tahun. Ketergantungan ini membuat Indonesia rentan bukan hanya secara lingkungan, tapi juga secara fiskal.
Indonesia telah berkomitmen pada target Net Zero Emission (NZE) 2060 dan menargetkan bauran EBT 27–33% pada 2035. Jika target ini terus meleset, kredibilitas Indonesia di forum internasional G20, UNGA, COP akan tergerus. Lebih konkret lagi, akses Indonesia terhadap pendanaan iklim internasional senilai miliaran dolar bisa ikut terganggu.
Investasi teknologi bersih global mencapai rekor US$2,2 triliun di 2025. Indonesia dengan potensi EBT di atas 3 TW bisa menjadi magnet investasi hijau jika kebijakan energinya konsisten dan transparan. Sebaliknya, jika ketergantungan fosil berlanjut, emisi karbon Indonesia berisiko 17% lebih tinggi pada 2040, yang berpotensi memicu carbon border tax dari mitra dagang utama.
Ironisnya, di tengah dominasi fosil, masih ada lebih dari 10.000 lokasi di Indonesia yang belum teraliri listrik PLN per 2025. Energi terbarukan skala komunitas — PLTS desa, mikrohidro — justru bisa menjadi solusi paling cepat dan efisien untuk menjangkau daerah-daerah terpencil ini. Transisi energi bukan hanya soal iklim, tapi juga soal keadilan akses.
Transisi energi fosil ke energi bersih bukan pilihan ideologis ini adalah kebutuhan ekonomi, lingkungan, dan sosial yang semakin mendesak. Indonesia punya semua modal yang dibutuhkan: potensi EBT terbesar di kawasan, komitmen internasional, dan skema pendanaan yang mulai terbentuk. Yang tersisa adalah keberanian untuk menjadikan target sebagai tindakan nyata.
Environesia Global Saraya
17 May 2023
Environesia Global Saraya
12 May 2023
Dengan layanan konsultasi lingkungan dan uji laboratorium yang telah tersertifikasi KAN, Environesia siap menjadi solusi untuk kemudahan dan efisiensi waktu dengan output yang berkualitas