Leading the Way in

Environmental Insights

and Inspiration

Leading the Way in
Environmental Insights and Inspiration

Jejak Karbon AI: Seberapa Besar Emisi yang Dihasilkan Teknologi Kecerdasan Buatan?

Environesia Global Saraya

21 November 2025

Teknologi kecerdasan buatan (AI) berkembang dengan sangat cepat dan kini menjadi bagian penting dalam aktivitas digital sehari-hari, mulai dari mesin pencari, platform media sosial, hingga model generatif yang mampu membuat teks, gambar, maupun video. Namun di balik kemajuan ini, ada isu lingkungan yang semakin disorot yaitu jejak karbon AI.

Semakin besar dan kompleks model AI, semakin tinggi pula kebutuhan energi untuk melatih dan mengoperasikannya. Akibatnya, konsumsi listrik pusat data (data center) meningkat dan berkontribusi terhadap emisi karbon global. Artikel ini membahas skala emisi AI, penyebabnya, serta langkah yang sedang dilakukan untuk membuat AI lebih ramah lingkungan.

Mengapa Jejak Karbon AI Meningkat dengan Cepat

Model AI modern membutuhkan kapasitas komputasi yang sangat besar. Proses pelatihan model skala besar seperti large language models (LLM) dapat berlangsung berminggu-minggu di pusat data yang menggunakan ribuan GPU. Hal ini mengonsumsi listrik dalam jumlah tinggi, terutama jika pusat data masih bertumpu pada energi fosil.

Sebuah studi penting dari University of Massachusetts Amherst (Strubell et al., 2019) menunjukkan bahwa pelatihan model NLP yang kompleks dapat menghasilkan ratusan ribu pon CO₂ yang bergantung pada konfigurasi dan jumlah eksperimen. 

Sementara itu, International Energy Agency (IEA) memperkirakan bahwa konsumsi listrik pusat data global dapat meningkat drastis pada dekade ini, terutama akibat pertumbuhan permintaan AI. Dalam laporannya, IEA menyatakan bahwa peningkatan kapasitas AI dapat menjadi salah satu pendorong utama lonjakan konsumsi energi dunia jika tidak diimbangi efisiensi dan sumber energi bersih.

Faktor Utama yang Menyebabkan Tingginya Jejak Karbon AI

1. Pelatihan model berskala besar

LLM modern memiliki puluhan hingga ratusan miliar parameter. Proses pelatihan model sebesar ini dapat mengonsumsi energi dalam jumlah sangat besar dan berlangsung lama.

2. Jumlah data yang masif

AI membutuhkan dataset dengan skala sangat besar yang diproses berulang kali. Semakin besar dataset, semakin besar kebutuhan komputasi dan energi.

3. Pusat data yang belum sepenuhnya menggunakan energi terbarukan

Walaupun perusahaan teknologi mulai beralih ke sumber energi hijau, sebagian besar pusat data global masih bergantung pada listrik dari bahan bakar fosil.

4. Inference dalam skala global

Tidak hanya pelatihan, proses menjalankan AI (inference) untuk jutaan pengguna setiap hari juga menghasilkan konsumsi energi yang signifikan.

5. Kebutuhan pendinginan server

GPU dan server bertenaga tinggi menghasilkan panas yang memerlukan sistem pendinginan intensif yang memakan energi tambahan.

Seberapa Besar Emisi yang Dihasilkan AI?

Estimasi jejak karbon AI sangat bervariasi karena dipengaruhi lokasi pusat data, jenis chip, metode pelatihan, dan sumber listrik. Namun beberapa temuan kredibel memberi gambaran umum:

Fakta-fakta Mengenai Emisi yang Dihasilkan AI:

  • IEA menyatakan bahwa permintaan energi dari AI berpotensi memberi tekanan besar pada konsumsi listrik pusat data global, seiring peningkatan penggunaan model generatif.

  • Analisis beberapa lembaga menunjukkan bahwa satu permintaan AI generatif dapat menggunakan energi hingga berkali-kali lipat dibanding pencarian internet biasa. Rasio pastinya berbeda per model, tetapi studi IEA menyebutkan bahwa konsumsi energi per query AI memang secara signifikan lebih tinggi.

  • Studi pada pelatihan model ratusan miliar parameter menunjukkan bahwa emisi total dapat berkisar dari puluhan hingga lebih dari 100 ton CO₂ yang bergantung pada lokasi pelatihan dan campuran energi
  • Artikel ilmiah terbaru dari Nature (2025) menegaskan bahwa konsumsi energi AI dapat meningkat berlipat ganda dalam beberapa tahun mendatang jika tidak ada intervensi efisiensi.

Data ini menunjukkan bahwa pertumbuhan AI membawa konsekuensi energi yang cukup besar, terutama untuk model generatif dan model berskala sangat besar.

Upaya Mengurangi Jejak Karbon AI

1. Inisiatif Industri

  • Migrasi pusat data ke energi terbarukan seperti angin dan surya.

  • Pengembangan model yang lebih efisien melalui model compression, quantization, dan optimisasi arsitektur.

  • Penggunaan chip yang lebih hemat energi seperti GPU generasi baru atau prosesor khusus AI.

2. Inovasi Teknologi

  • Pendekatan Green AI, yang menekankan efisiensi energi sebagai bagian dari desain model.

  • Penempatan pusat data di wilayah bersuhu rendah untuk mengurangi kebutuhan pendinginan.

  • Algoritma pelatihan baru yang mengurangi jumlah komputasi tanpa mengorbankan performa.

3. Peran Pemerintah dan Pengguna

  • Kebijakan energi bersih untuk pusat data dan insentif efisiensi energi.

  • Transparansi perusahaan mengenai jejak karbon model yang mereka rilis.

  • Penggunaan AI secara bertanggung jawab oleh pengguna dan industri.

Jejak karbon AI adalah isu penting yang muncul seiring pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan. Proses pelatihan dan penggunaan model besar membutuhkan energi sangat besar, sehingga berpotensi meningkatkan emisi global jika tidak dikelola dengan baik.

Namun, industri dan peneliti di seluruh dunia mulai mengambil langkah strategis dari penggunaan energi terbarukan hingga desain model yang lebih efisien. Dengan inovasi yang tepat masa depan AI yang lebih hijau dan berkelanjutan sangat mungkin diwujudkan.

Environesia Global Saraya

17 May 2023

environesia.co.id, Sukabumi - Menindaklanjuti kerjasama PT Environesia Global Saraya bersama Perhutani terkait Perijinan Pendirian Pabrik Serbuk Kayu Di Sukabumi Jawa Barat Tahun 2022 – PERHUTANI, Environesia menghadiri Rapat Koordinasi Pemeriksaan Formulir Kerangka Acuan (KA)) dalam rangka penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) untuk Rencana Pembangunan Pabrik Serbuk Kayu di RPH Hajuang Barat BKPH Lengkong, Kabupaten Sukabumi. Rapat ini diselenggarakan oleh Direktorat Pencegahan Dampak Lingkungan Usaha dan Kegiatan (PDLUK), Dirjen Planologi Kehutanan dan Tata Lingkungan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. pada Rabu, (17/5) secara daring melalui pranala Zoom Meeting.

Rapat ini dipimpin Kasubdit Pengembangan Sistem Kajian Dampak Lingkungan Usaha dan Kegiatan - Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutana, Farid Mohammad, ST., M.Env, serta dihadiri oleh Tim Pakar, Instansi Pusat dan Instansi Daerah baik Instansi di Provinsi Jawa Barat maupun Instansi di Kab. Sukabumi. Tujuan dari rapat koordinasi tersebut untuk membahas langkah-langkah penyusunan AMDAL yang tepat dan komprehensif dalam rangka pembangunan pabrik serbuk kayu yang direncanakan.

Rapat ini bertujuan untuk merumuskan lingkup dan kedalam metode studi Amdal, sehingga dapat mengarahkan Analisa Dampak Lingkungan (ANDAL) berjalan dengan efektif dan efisien. Selanjutnya PT Environesia Global Saraya menindaklanjuti seluruh Saran, Pendapat, dan Tanggapan yang telah disampaikan oleh para peserta Rapat.

Environesia sebagai Lembaga Penyedia Jasa Penyusunan (LPJP) Amdal yang dipercaya oleh Perum Perhutani, berkomitmen untuk memberikan kontribusi terbaik dalam proses penyusunan AMDAL ini, sehingga Pembangunan Pabrik Serbuk Kayu yang direncanakan dapat memenuhi prinsip-prinsip pembangunan yang berwawasan lingkungan. (admin/dnx)

Environesia Global Saraya

12 May 2023

environesia.co.id, Sleman – Tepat 7 tahun pada 3 Mei 2023, Environesia sebagai perusahaan konsultan lingkungan terdepan di Indonesia, merayakan "7th Year Anniversary Environesia Melampaui Batas”. Dikarenakan berdekatan dengan masa libur Idul Fitri 1444 H  seremoni dilaksanakan pada Senin, 8 Mei 2023 di lantai 3 Grha Environesia dihadiri oleh seluruh tim Environesia Group.

Puncak acara dilakukan dengan pemotongan tumpeng bersama oleh Direktur Utama Saprian, S.T., M.Sc., beserta jajaran Direksi lain seperti Direktur Keuangan Ayu Ramayani, S.E.,M.Ak., Direktur Operasional & Pengembangan Bisnis Andi Muhammad Faisal, S.T. dan Manajer Konsultan Yusuf Wiryawan, S.T., M.Ling. Bertepatan dengan suasana bulan Syawwal, pada agenda tersebut dialnjutkan acara halal bi halal serta jamuan prasmanan untuk makan siang.

Direktur Utama Saprian, S.T., M.Sc. mengungkapkan kebahagiannya melihat Environesia berhasil sampai ke titik tersebut, tidak lain karena dukungan tim yang selalu solid serta mitra kerja yang loyal.

Acara utama kemudian dilanjutkan dengan agenda Environesia Social Care, di mana Environesia membagikan 150 paket sembako kepada masyarakat yang tinggal di sekitar Grha Environesia, tepatnya di RW 42, Karangjati, Sinduadi, Mlati, Sleman. Ketua RW 42.

Rahmat Yunus selaku Kepala RW 42,mengungkapkan kebahagiannya karena Environesia dapat berbagi dengan masyarakat sekitar. Ia berharap agar Environesia semakin maju dan sukses serta dapat kembali berkolaborasi dengan masyarakat di masa depan.

Direktur Utama Saprian, S.T., M.Sc. juga menyampaikan terima kasih kepada masyarakat karena telah menerima keberadaan Environesia di lingkungannya. Ia berharap bahwa Environesia dapat terus hadir dan memberikan kontribusi positif kepada masyarakat di masa yang akan datang.

Dengan rangkaian kegiatan yang meriah, Environesia berhasil merayakan ulang tahun ke-7 dengan penuh kebahagiaan dan makna. Semoga Environesia terus memberikan solusi lingkungan yang berkelanjutan dan inovatif, serta dapat memperkuat kemitraan dan kontribusinya kepada masyarakat. (admin/dnx)

footer_epic

Ready to Collaborate with Us?

Dengan layanan konsultasi lingkungan dan uji laboratorium yang telah tersertifikasi KAN, Environesia siap menjadi solusi untuk kemudahan dan efisiensi waktu dengan output yang berkualitas