Environesia Global Saraya
01 December 2025
Dalam beberapa hari terakhir (akhir November 2025), pulau Sumatera kembali dilanda bencana besar yaitu gelombang hujan deras memicu banjir bandang dan longsor di banyak kabupaten atau provinsi. Berdasarkan data terbaru dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), total korban jiwa mencapai ratusan. Hal ini memperlihatkan betapa parah dan luasnya dampak bencana ini.
Tenggelamnya kampung, putusnya jalan, rumah hanyut, dan hilangnya banyak korban jiwa menjelang musim hujan jadi alarm besar bagi kita yaitu penyebab bencana bukan hanya cuaca ekstrem akan tetapi juga kerusakan ekologi dan tata kelola lahan. Salah satu penyumbang besar adalah konversi hutan menjadi kebun sawit. Artikel ini menjelaskan kenapa situasi 2025 ini relevan dengan argumen bahwa alih fungsi hutan memperparah risiko banjir dan longsor.
Kemampuan tanah menyerap air menurun drastis. Hutan alam dengan banyak lapisan vegetasi pohon besar, undergrowth, akar dalam yang berfungsi seperti spons alami yaitu menahan, menyerap, dan melepaskan air perlahan. Ketika hutan diganti kebun sawit monokultur, struktur ini hilang. Perkebunan sawit hanya punya satu jenis tanaman dengan akar dangkal, sehingga ketika hujan deras datang, air tidak terserap, melainkan langsung mengalir menjadi limpasan permukaan sehingga memicu banjir & longsor.
Penurunan stabilitas lereng di daerah perbukitan. Banyak wilayah di Sumatra berbukit dan rentan longsor. Sawit dengan akar dangkal tidak bisa menahan tanah sekuat akar pohon hutan. Kombinasi hujan ekstrem dan tutupan vegetasi lemah membuat tanah menjadi lemah sehingga longsor mudah terjadi.
Drainase dan kanal buatan mempercepat aliran air ke sungai. Untuk mengeringkan lahan perkebunan atau membangun akses, kanal atau drainase dibuat. Hal ini mempercepat aliran air saat hujan ekstrem, meningkatkan debit sungai secara cepat, dan memicu banjir bandang.
Erosi dan sedimentasi meningkat yang memperparah dampak terhadap korban. Tanah yang sudah terdegradasi mudah tergerus saat hujan, membawa lumpur ke sungai, menimbulkan sedimentasi sungai, pengikisan lereng, dan memperlebar area terdampak saat banjir dan longsor.
Fakta menunjukkan bahwa banjir besar dan longsor massif paling parah terjadi di banyak lokasi menunjukkan bahwa sistem alami sudah rusak kritis.
Korban manusia dan kerugian sosial besar. Ratusan korban meninggal atau hilang, ribuan keluarga mengungsi memperlihatkan bahwa bencana bukan lagi “skala kecil” tetapi krisis kemanusiaan.
Infrastruktur rusak parah sehingga memperburuk akses dan pertolongan. Jalan, jembatan, rumah, fasilitas umum ikut hancur sehingga memperlambat respon darurat dan memperbesar dampak jangka panjang.
Lingkungan alami dan ekosistem DAS terdegradasi. Dengan hilangnya tutupan hutan, kemampuan ekosistem dalam menyerap dan menahan air turun signifikan sehingga menjadikan daerah rawan bencana semakin rentan.
Ketidakpastian iklim dan cuaca ekstrem makin sering terjadi. Tahun 2025 menunjukkan pola cuaca ekstrem yang bisa datang kapan saja. Jika hutan terus ditebang untuk sawit, risiko akan terus meningkat dan kemungkinan bencana jadi langganan.
Karena itu, hutan alam dengan struktur kompleks, keanekaragaman vegetasi, dan akar yang dalam adalah “palu anti-banjir dan anti-longsor” yang alami. Sawit yang memiliki monokultur dan struktur biologis sederhana, tidak bisa menggantikan fungsi ini.
Bencana besar di Sumatra tahun 2025 adalah peringatan keras bahwa konversi hutan ke kebun sawit memperbesar risiko bencana, terutama banjir dan longsor. Oleh karena itu, solusi jangka panjang yang harus diutamakan adalah reforestasi, rehabilitasi hulu DAS, pelestarian hutan alam, dan pengendalian alih fungsi hutan. Ini bukan hanya persoalan “konservasi”, tapi juga “keselamatan publik, mitigasi bencana, dan keberlanjutan lingkungan”.
Environesia Global Saraya
17 May 2023
Environesia Global Saraya
12 May 2023
Dengan layanan konsultasi lingkungan dan uji laboratorium yang telah tersertifikasi KAN, Environesia siap menjadi solusi untuk kemudahan dan efisiensi waktu dengan output yang berkualitas