Leading the Way in

Environmental Insights

and Inspiration

Leading the Way in
Environmental Insights and Inspiration

Berapa Luas Hutan yang Tersisa di Indonesia?

Environesia Global Saraya

19 February 2026

Hutan merupakan komponen penting dalam sistem lingkungan Indonesia, dengan fungsi utama sebagai pengatur keseimbangan ekosistem, penyerap karbon, serta pendukung keberlanjutan pembangunan nasional. Oleh karena itu, informasi mengenai luas hutan yang tersisa di Indonesia menjadi data strategis yang dibutuhkan oleh publik, akademisi, dan pembuat kebijakan. Artikel ini menyajikan data terbaru yang bersumber dari lembaga resmi, disusun secara objektif dan mudah dipahami untuk memberikan gambaran aktual mengenai kondisi hutan Indonesia.

Luas Hutan di Indonesia Tahun 2025/2026

Berdasarkan pemantauan terbaru, luas hutan Indonesia pada tahun 2025 tercatat sekitar 95,97 juta hektare. Angka ini menunjukkan bahwa lebih dari setengah wilayah daratan Indonesia masih tertutup oleh hutan, baik hutan alami maupun hutan tanaman yang memiliki fungsi ekologis penting.

Data tersebut bersumber dari laporan Food and Agriculture Organization melalui Global Forest Resources Assessment 2025. Laporan ini menggunakan pendekatan pemantauan global berbasis data nasional dan citra satelit, sehingga menjadi salah satu rujukan internasional utama dalam menilai kondisi hutan dunia.

Persentase Luas Hutan terhadap Total Daratan Indonesia

Sementara itu, berdasarkan pemantauan nasional yang dipublikasikan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, luas lahan berhutan di Indonesia pada tahun 2024 mencapai sekitar 95,5 juta hektare, atau setara dengan 51,1% dari total luas daratan Indonesia.

Perbedaan kecil antara angka FAO 2025 (95,97 juta hektare) dan data nasional 2024 (95,5 juta hektare) mencerminkan perbedaan metodologi pengukuran, waktu pembaruan data, serta definisi teknis yang digunakan. Meski demikian, kedua sumber menunjukkan kesimpulan yang konsisten: luas hutan Indonesia relatif stabil pada kisaran 95–96 juta hektare dalam beberapa tahun terakhir.

Perubahan Luas Hutan Indonesia

1. Penurunan dibandingkan periode historis

Jika dilihat dalam jangka panjang, luas hutan Indonesia mengalami penurunan signifikan sejak beberapa dekade lalu. Pada awal 1990-an, luas hutan Indonesia diperkirakan masih berada di atas 116 juta hektare. Seiring meningkatnya pembangunan dan perubahan penggunaan lahan, angka tersebut berkurang hingga berada di bawah 100 juta hektare saat ini.

2. Perkembangan terbaru yang relatif moderat

Dalam beberapa tahun terakhir, data menunjukkan bahwa laju kehilangan hutan cenderung melambat dibandingkan periode deforestasi tertinggi sebelumnya. Kondisi ini dipengaruhi oleh berbagai kebijakan pengelolaan lahan, peningkatan sistem pemantauan, serta program rehabilitasi dan restorasi hutan.

Namun demikian, deforestasi belum sepenuhnya berhenti. Kehilangan tutupan hutan masih terjadi secara sporadis, terutama di wilayah yang rentan terhadap perubahan penggunaan lahan dan tekanan aktivitas manusia.

Jenis Hutan dalam Data Luas Hutan Nasional

Dalam statistik kehutanan, istilah hutan tidak hanya merujuk pada hutan alam yang masih utuh dan belum terganggu. Angka luas hutan yang digunakan dalam laporan resmi merupakan hasil klasifikasi tutupan lahan yang mencakup beberapa kategori vegetasi berhutan. Secara umum, data luas hutan mencakup:

  • Hutan primer : Hutan alami dengan struktur ekosistem dan tingkat keanekaragaman hayati yang relatif masih terjaga serta belum mengalami gangguan signifikan akibat aktivitas manusia.

  • Hutan sekunder : Hutan yang pernah mengalami gangguan, seperti penebangan atau kebakaran, namun masih memiliki tutupan vegetasi pohon dan fungsi ekologis tertentu.

  • Hutan tanaman : Kawasan yang ditanami kembali dengan jenis tanaman kehutanan, baik untuk tujuan produksi, rehabilitasi lingkungan, maupun konservasi.

Perlu dipahami bahwa angka luas hutan dalam statistik resmi lebih mencerminkan kondisi tutupan vegetasi yang memenuhi kriteria hutan secara teknis, bukan semata-mata status administratif kawasan hutan menurut ketentuan hukum.

Posisi Hutan Indonesia dalam Kehidupan Dunia

Dengan luas hutan mendekati 96 juta hektare, Indonesia termasuk negara dengan tutupan hutan terbesar di dunia. Dalam laporan FAO 2025, Indonesia berada di peringkat ke-8 secara global dan menjadi negara dengan kawasan hutan terluas di Asia Tenggara.

Posisi ini menegaskan peran penting Indonesia dalam menjaga keseimbangan ekosistem regional dan global, terutama terkait keanekaragaman hayati dan mitigasi perubahan iklim.

Mengapa Data Luas Hutan Penting?

Informasi mengenai luas hutan yang tersisa memiliki peran strategis, antara lain untuk:

  • Menilai kontribusi Indonesia dalam pengendalian perubahan iklim

  • Menjadi dasar perencanaan tata ruang dan kebijakan kehutanan

  • Memantau efektivitas program rehabilitasi dan restorasi hutan

  • Menyediakan data awal bagi penelitian dan pengambilan keputusan berbasis lingkungan

Data luas hutan juga menjadi indikator utama keberlanjutan pembangunan, karena berkaitan langsung dengan daya dukung lingkungan dan risiko ekologis di masa depan.

Berdasarkan data terbaru tahun 2025, luas hutan yang tersisa di Indonesia sekitar 95,97 juta hektare, setara dengan lebih dari separuh wilayah daratan negara. Meskipun luas tersebut lebih kecil dibandingkan beberapa dekade lalu, Indonesia masih mempertahankan salah satu kawasan hutan tropis terluas di dunia.

Ke depan, tantangan utama bukan hanya menjaga angka luas hutan, tetapi juga memastikan kualitas, fungsi ekologis, dan keberlanjutan pengelolaannya agar hutan Indonesia tetap memberikan manfaat bagi generasi saat ini dan mendatang.

Environesia Global Saraya

17 May 2023

environesia.co.id, Sukabumi - Menindaklanjuti kerjasama PT Environesia Global Saraya bersama Perhutani terkait Perijinan Pendirian Pabrik Serbuk Kayu Di Sukabumi Jawa Barat Tahun 2022 – PERHUTANI, Environesia menghadiri Rapat Koordinasi Pemeriksaan Formulir Kerangka Acuan (KA)) dalam rangka penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) untuk Rencana Pembangunan Pabrik Serbuk Kayu di RPH Hajuang Barat BKPH Lengkong, Kabupaten Sukabumi. Rapat ini diselenggarakan oleh Direktorat Pencegahan Dampak Lingkungan Usaha dan Kegiatan (PDLUK), Dirjen Planologi Kehutanan dan Tata Lingkungan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. pada Rabu, (17/5) secara daring melalui pranala Zoom Meeting.

Rapat ini dipimpin Kasubdit Pengembangan Sistem Kajian Dampak Lingkungan Usaha dan Kegiatan - Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutana, Farid Mohammad, ST., M.Env, serta dihadiri oleh Tim Pakar, Instansi Pusat dan Instansi Daerah baik Instansi di Provinsi Jawa Barat maupun Instansi di Kab. Sukabumi. Tujuan dari rapat koordinasi tersebut untuk membahas langkah-langkah penyusunan AMDAL yang tepat dan komprehensif dalam rangka pembangunan pabrik serbuk kayu yang direncanakan.

Rapat ini bertujuan untuk merumuskan lingkup dan kedalam metode studi Amdal, sehingga dapat mengarahkan Analisa Dampak Lingkungan (ANDAL) berjalan dengan efektif dan efisien. Selanjutnya PT Environesia Global Saraya menindaklanjuti seluruh Saran, Pendapat, dan Tanggapan yang telah disampaikan oleh para peserta Rapat.

Environesia sebagai Lembaga Penyedia Jasa Penyusunan (LPJP) Amdal yang dipercaya oleh Perum Perhutani, berkomitmen untuk memberikan kontribusi terbaik dalam proses penyusunan AMDAL ini, sehingga Pembangunan Pabrik Serbuk Kayu yang direncanakan dapat memenuhi prinsip-prinsip pembangunan yang berwawasan lingkungan. (admin/dnx)

Environesia Global Saraya

12 May 2023

environesia.co.id, Sleman – Tepat 7 tahun pada 3 Mei 2023, Environesia sebagai perusahaan konsultan lingkungan terdepan di Indonesia, merayakan "7th Year Anniversary Environesia Melampaui Batas”. Dikarenakan berdekatan dengan masa libur Idul Fitri 1444 H  seremoni dilaksanakan pada Senin, 8 Mei 2023 di lantai 3 Grha Environesia dihadiri oleh seluruh tim Environesia Group.

Puncak acara dilakukan dengan pemotongan tumpeng bersama oleh Direktur Utama Saprian, S.T., M.Sc., beserta jajaran Direksi lain seperti Direktur Keuangan Ayu Ramayani, S.E.,M.Ak., Direktur Operasional & Pengembangan Bisnis Andi Muhammad Faisal, S.T. dan Manajer Konsultan Yusuf Wiryawan, S.T., M.Ling. Bertepatan dengan suasana bulan Syawwal, pada agenda tersebut dialnjutkan acara halal bi halal serta jamuan prasmanan untuk makan siang.

Direktur Utama Saprian, S.T., M.Sc. mengungkapkan kebahagiannya melihat Environesia berhasil sampai ke titik tersebut, tidak lain karena dukungan tim yang selalu solid serta mitra kerja yang loyal.

Acara utama kemudian dilanjutkan dengan agenda Environesia Social Care, di mana Environesia membagikan 150 paket sembako kepada masyarakat yang tinggal di sekitar Grha Environesia, tepatnya di RW 42, Karangjati, Sinduadi, Mlati, Sleman. Ketua RW 42.

Rahmat Yunus selaku Kepala RW 42,mengungkapkan kebahagiannya karena Environesia dapat berbagi dengan masyarakat sekitar. Ia berharap agar Environesia semakin maju dan sukses serta dapat kembali berkolaborasi dengan masyarakat di masa depan.

Direktur Utama Saprian, S.T., M.Sc. juga menyampaikan terima kasih kepada masyarakat karena telah menerima keberadaan Environesia di lingkungannya. Ia berharap bahwa Environesia dapat terus hadir dan memberikan kontribusi positif kepada masyarakat di masa yang akan datang.

Dengan rangkaian kegiatan yang meriah, Environesia berhasil merayakan ulang tahun ke-7 dengan penuh kebahagiaan dan makna. Semoga Environesia terus memberikan solusi lingkungan yang berkelanjutan dan inovatif, serta dapat memperkuat kemitraan dan kontribusinya kepada masyarakat. (admin/dnx)

footer_epic

Ready to Collaborate with Us?

Dengan layanan konsultasi lingkungan dan uji laboratorium yang telah tersertifikasi KAN, Environesia siap menjadi solusi untuk kemudahan dan efisiensi waktu dengan output yang berkualitas