Leading the Way in

Environmental Insights

and Inspiration

Leading the Way in
Environmental Insights and Inspiration

Apa Itu Geoengineering? Pengertian, Cara Kerja, dan Dampaknya bagi Iklim Bumi

Environesia Global Saraya

24 February 2026

Geoengineering adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan berbagai intervensi skala besar terhadap sistem iklim Bumi dengan tujuan mengurangi dampak perubahan iklim. Konsep ini muncul sebagai respons terhadap meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer yang mendorong pemanasan global.

Menurut berbagai laporan ilmiah internasional, upaya utama dalam menghadapi krisis iklim tetap berfokus pada pengurangan emisi gas rumah kaca. Namun, geoengineering mulai dibahas sebagai pendekatan tambahan (bukan pengganti) untuk membantu menstabilkan suhu global.

Apa Itu Geoengineering?

Geoengineering (rekayasa iklim) adalah intervensi skala besar yang disengaja pada sistem alam Bumi (atmosfer, laut, tanah) untuk melawan perubahan iklim dan mengurangi suhu panas Bumi. Dalam literatur ilmiah, geoengineering sering dibagi menjadi dua kategori utama:

  1. Solar Radiation Management (SRM)

  2. Carbon Dioxide Removal (CDR)

Pembagian ini juga digunakan dalam laporan-laporan dari Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), badan ilmiah di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa yang menilai ilmu pengetahuan terkait perubahan iklim.

Jenis Geoengineering dan Cara Kerjanya

1. Solar Radiation Management (SRM)

Solar Radiation Management (SRM) bertujuan untuk mengurangi jumlah radiasi matahari yang mencapai permukaan Bumi sehingga dapat menurunkan suhu global. Beberapa metode yang diteliti antara lain:

  • Injeksi aerosol stratosfer: Penyemprotan partikel sulfat ke lapisan stratosfer untuk memantulkan sebagian sinar matahari. Konsep ini terinspirasi dari efek pendinginan sementara setelah letusan gunung berapi besar.

  • Pencerahan awan laut (marine cloud brightening): Meningkatkan reflektivitas awan dengan menyemprotkan partikel garam laut.

  • Reflektor ruang angkasa (masih dalam tahap konseptual).

SRM bekerja relatif cepat dalam menurunkan suhu global. Namun, metode ini tidak mengurangi konsentrasi karbon dioksida (CO₂) di atmosfer. Artinya, masalah seperti pengasaman laut tetap terjadi.

2. Carbon Dioxide Removal (CDR)

Carbon Dioxide Removal (CDR) berfokus pada pengurangan konsentrasi CO₂ di atmosfer dengan cara menyerap dan menyimpannya dalam jangka panjang. Beberapa metode CDR meliputi:

  • Reforestasi dan aforestasi: Penanaman pohon untuk menyerap karbon melalui fotosintesis.

  • Bioenergy with Carbon Capture and Storage (BECCS): Produksi energi biomassa yang disertai penangkapan dan penyimpanan karbon.

  • Direct Air Capture (DAC): Teknologi yang secara langsung menangkap CO₂ dari udara dan menyimpannya di bawah tanah.

  • Peningkatan pelapukan mineral (enhanced weathering).

CDR dinilai lebih selaras dengan upaya mitigasi karena secara langsung menurunkan konsentrasi gas rumah kaca. Namun, teknologi ini masih menghadapi tantangan biaya, kebutuhan energi, serta skala penerapan.

Dampak dan Risiko Geoengineering

Meskipun geoengineering menawarkan potensi manfaat, berbagai penelitian menekankan adanya risiko yang perlu dipertimbangkan secara serius.

1. Risiko Lingkungan

  • Perubahan pola curah hujan global

  • Gangguan pada sistem monsun

  • Dampak terhadap keanekaragaman hayati

  • Potensi efek samping kimia di atmosfer

Model iklim menunjukkan bahwa intervensi seperti SRM dapat memengaruhi distribusi suhu dan presipitasi secara tidak merata di berbagai wilayah.

2. Risiko Tata Kelola dan Etika

Geoengineering menimbulkan pertanyaan besar terkait:

  • Siapa yang berhak memutuskan penerapan teknologi ini?

  • Bagaimana jika dampaknya merugikan negara tertentu?

  • Bagaimana mekanisme pengawasan internasionalnya?

Hingga saat ini, belum ada kerangka hukum global yang komprehensif untuk mengatur penerapan geoengineering dalam skala besar.

3. Risiko Ketergantungan Teknologi

Beberapa ilmuwan mengkhawatirkan adanya “moral hazard”, yaitu kondisi di mana keberadaan geoengineering justru mengurangi komitmen negara untuk menurunkan emisi. Padahal, pengurangan emisi tetap menjadi strategi utama dalam menjaga stabilitas iklim.

Apakah Geoengineering Sudah Diterapkan?

Sebagian besar teknologi geoengineering masih berada pada tahap penelitian, simulasi model, atau uji coba skala kecil. Hingga saat ini, belum ada penerapan geoengineering skala global yang secara resmi dilakukan untuk mengendalikan iklim.

Laporan-laporan IPCC secara konsisten menyatakan bahwa pengurangan emisi, transisi energi bersih, dan peningkatan efisiensi tetap menjadi prioritas utama dalam mitigasi perubahan iklim.

Geoengineering dalam Konteks Kebijakan Iklim

Dalam diskusi kebijakan global, geoengineering diposisikan sebagai opsi tambahan yang memerlukan kajian ilmiah mendalam, transparansi, dan kerja sama internasional. Pendekatan ini tidak dapat menggantikan strategi utama seperti:

  • Dekarbonisasi sektor energi

  • Perlindungan hutan dan ekosistem

  • Pengurangan emisi industri dan transportasi

Berbagai kajian menunjukkan bahwa stabilisasi suhu global memerlukan kombinasi mitigasi, adaptasi, serta inovasi teknologi yang bertanggung jawab.

Geoengineering adalah upaya rekayasa sistem iklim melalui pendekatan Solar Radiation Management (SRM) dan Carbon Dioxide Removal (CDR) untuk mengurangi dampak pemanasan global. Meskipun berpotensi membantu menurunkan suhu atau menyerap karbon, teknologi ini masih dalam tahap penelitian dan memiliki risiko lingkungan serta tantangan tata kelola yang signifikan. Karena itu, pengurangan emisi gas rumah kaca dan transisi menuju pembangunan rendah karbon tetap menjadi strategi utama yang disepakati secara ilmiah dalam penanganan perubahan iklim.

Image source : www.britannica.com

Environesia Global Saraya

17 May 2023

environesia.co.id, Sukabumi - Menindaklanjuti kerjasama PT Environesia Global Saraya bersama Perhutani terkait Perijinan Pendirian Pabrik Serbuk Kayu Di Sukabumi Jawa Barat Tahun 2022 – PERHUTANI, Environesia menghadiri Rapat Koordinasi Pemeriksaan Formulir Kerangka Acuan (KA)) dalam rangka penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) untuk Rencana Pembangunan Pabrik Serbuk Kayu di RPH Hajuang Barat BKPH Lengkong, Kabupaten Sukabumi. Rapat ini diselenggarakan oleh Direktorat Pencegahan Dampak Lingkungan Usaha dan Kegiatan (PDLUK), Dirjen Planologi Kehutanan dan Tata Lingkungan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. pada Rabu, (17/5) secara daring melalui pranala Zoom Meeting.

Rapat ini dipimpin Kasubdit Pengembangan Sistem Kajian Dampak Lingkungan Usaha dan Kegiatan - Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutana, Farid Mohammad, ST., M.Env, serta dihadiri oleh Tim Pakar, Instansi Pusat dan Instansi Daerah baik Instansi di Provinsi Jawa Barat maupun Instansi di Kab. Sukabumi. Tujuan dari rapat koordinasi tersebut untuk membahas langkah-langkah penyusunan AMDAL yang tepat dan komprehensif dalam rangka pembangunan pabrik serbuk kayu yang direncanakan.

Rapat ini bertujuan untuk merumuskan lingkup dan kedalam metode studi Amdal, sehingga dapat mengarahkan Analisa Dampak Lingkungan (ANDAL) berjalan dengan efektif dan efisien. Selanjutnya PT Environesia Global Saraya menindaklanjuti seluruh Saran, Pendapat, dan Tanggapan yang telah disampaikan oleh para peserta Rapat.

Environesia sebagai Lembaga Penyedia Jasa Penyusunan (LPJP) Amdal yang dipercaya oleh Perum Perhutani, berkomitmen untuk memberikan kontribusi terbaik dalam proses penyusunan AMDAL ini, sehingga Pembangunan Pabrik Serbuk Kayu yang direncanakan dapat memenuhi prinsip-prinsip pembangunan yang berwawasan lingkungan. (admin/dnx)

Environesia Global Saraya

12 May 2023

environesia.co.id, Sleman – Tepat 7 tahun pada 3 Mei 2023, Environesia sebagai perusahaan konsultan lingkungan terdepan di Indonesia, merayakan "7th Year Anniversary Environesia Melampaui Batas”. Dikarenakan berdekatan dengan masa libur Idul Fitri 1444 H  seremoni dilaksanakan pada Senin, 8 Mei 2023 di lantai 3 Grha Environesia dihadiri oleh seluruh tim Environesia Group.

Puncak acara dilakukan dengan pemotongan tumpeng bersama oleh Direktur Utama Saprian, S.T., M.Sc., beserta jajaran Direksi lain seperti Direktur Keuangan Ayu Ramayani, S.E.,M.Ak., Direktur Operasional & Pengembangan Bisnis Andi Muhammad Faisal, S.T. dan Manajer Konsultan Yusuf Wiryawan, S.T., M.Ling. Bertepatan dengan suasana bulan Syawwal, pada agenda tersebut dialnjutkan acara halal bi halal serta jamuan prasmanan untuk makan siang.

Direktur Utama Saprian, S.T., M.Sc. mengungkapkan kebahagiannya melihat Environesia berhasil sampai ke titik tersebut, tidak lain karena dukungan tim yang selalu solid serta mitra kerja yang loyal.

Acara utama kemudian dilanjutkan dengan agenda Environesia Social Care, di mana Environesia membagikan 150 paket sembako kepada masyarakat yang tinggal di sekitar Grha Environesia, tepatnya di RW 42, Karangjati, Sinduadi, Mlati, Sleman. Ketua RW 42.

Rahmat Yunus selaku Kepala RW 42,mengungkapkan kebahagiannya karena Environesia dapat berbagi dengan masyarakat sekitar. Ia berharap agar Environesia semakin maju dan sukses serta dapat kembali berkolaborasi dengan masyarakat di masa depan.

Direktur Utama Saprian, S.T., M.Sc. juga menyampaikan terima kasih kepada masyarakat karena telah menerima keberadaan Environesia di lingkungannya. Ia berharap bahwa Environesia dapat terus hadir dan memberikan kontribusi positif kepada masyarakat di masa yang akan datang.

Dengan rangkaian kegiatan yang meriah, Environesia berhasil merayakan ulang tahun ke-7 dengan penuh kebahagiaan dan makna. Semoga Environesia terus memberikan solusi lingkungan yang berkelanjutan dan inovatif, serta dapat memperkuat kemitraan dan kontribusinya kepada masyarakat. (admin/dnx)

footer_epic

Ready to Collaborate with Us?

Dengan layanan konsultasi lingkungan dan uji laboratorium yang telah tersertifikasi KAN, Environesia siap menjadi solusi untuk kemudahan dan efisiensi waktu dengan output yang berkualitas