Environesia Global Saraya
25 November 2025
Fenomena permukaan air laut yang tampak lebih tinggi daripada daratan di pesisir Jakarta kembali menjadi sorotan karena mencerminkan kondisi wilayah yang semakin rentan. Di beberapa titik Jakarta Utara, penurunan muka tanah yang berlangsung cepat dikombinasikan dengan kenaikan permukaan laut akibat perubahan iklim membuat daratan berada di bawah elevasi laut sehingga air tampak lebih tinggi daripada jalan dan permukiman. Situasi ini menunjukkan betapa seriusnya ancaman banjir rob dan perlunya pengelolaan air tanah, pembangunan tanggul yang memadai, serta mitigasi jangka panjang untuk melindungi kawasan pesisir Jakarta.
Di kawasan pesisir seperti Muara Baru, Kapuk Muara, atau Kali Adem, warga sering melihat air laut seperti “lebih tinggi” daripada daratan. Ada dua penyebab utama yang berkontribusi terhadap masalah ini:
Penurunan permukaan tanah (subsiden). Ini adalah faktor paling signifikan dan paling cepat di Jakarta. Penurunan tanah terjadi karena ekstraksi air tanah yang berlebihan untuk konsumsi rumah tangga, perkantoran, dan industri. Tanah di Jakarta turun dengan laju yang bervariasi, mencapai hingga 11 cm per tahun di beberapa area, jauh lebih cepat daripada kenaikan permukaan laut secara global.
Kenaikan permukaan air laut global. Pemanasan global menyebabkan lapisan es di kutub dan gletser mencair, sehingga volume air laut meningkat. Meskipun lajunya lebih lambat dibandingkan penurunan tanah, kenaikan ini tetap menjadi faktor yang memperburuk kondisi di Jakarta.
Banjir rob yang sering dan meluas. Ketika permukaan tanah turun, banjir rob (banjir akibat air pasang laut) menjadi lebih sering dan memasuki area yang lebih jauh ke daratan.
Kerusakan infrastruktur. Kenaikan air laut dan penurunan tanah merusak jalan, bangunan, serta infrastruktur lainnya, termasuk tanggul penahan air laut. Beberapa tanggul di Jakarta Utara, seperti di Pantai Mutiara, telah menunjukkan gejala rembesan air.
Ancaman terhadap keselamatan warga. Penduduk yang tinggal di wilayah pesisir menghadapi risiko banjir yang terus meningkat. Sekitar 40% wilayah Jakarta berada di bawah permukaan laut dan hanya dilindungi oleh tanggul.
Sebagian wilayah pesisir memang berisiko terendam permanen jika tidak ada mitigasi serius.
Prediksi “Jakarta tenggelam total” tidak tepat. Jakarta memiliki elevasi yang beragam, dan tidak semua daerah mengalami penurunan tanah yang sama.
Wilayah paling rawan berada di utara, terutama area dekat pantai dan kawasan yang infrastrukturnya masih sangat bergantung pada pompa air.
Dalam konteks ilmiah, istilah yang lebih tepat bukan “tenggelam”, tetapi subsiden (turun) dan terendam (inundasi) jika air laut melampaui batas tanggul atau merembes dari bawah. Artinya: ancamannya nyata, tetapi tidak berarti seluruh kota akan hilang dari peta dalam waktu dekat.
Beberapa langkah mitigasi yang sudah dan sedang berjalan:
Pembangunan dan penguatan tanggul pantai termasuk tanggul laut di Jakarta Utara.
Proyek NCICD (National Capital Integrated Coastal Development) yang mencakup pembangunan sea wall besar.
Pengendalian pengambilan air tanah terutama untuk industri dan gedung besar.
Penyediaan alternatif air bersih melalui layanan pipanisasi dan peningkatan kapasitas air minum.
Penataan ruang wilayah pesisir untuk mengurangi pembangunan di area yang sangat rawan.
Langkah-langkah ini tidak langsung menghilangkan risiko, tetapi sangat penting untuk memperlambat dan mengelola dampaknya.
Sumber Dokumentasi Foto: Kompas.com
Environesia Global Saraya
17 May 2023
Environesia Global Saraya
12 May 2023
Dengan layanan konsultasi lingkungan dan uji laboratorium yang telah tersertifikasi KAN, Environesia siap menjadi solusi untuk kemudahan dan efisiensi waktu dengan output yang berkualitas